Melawan Cinta Diri Berlebihan – Khotbah Rm. Joko Lelono

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Anda boleh bingung seperti halnya saya kalau mendengar kata-kata Tuhan Yesus yang mengatakan, “Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Bukankah Dia meminta kita untuk mencintai sesama kita? Bukankah selayaknya orang yang ada di sekitar kita adalah orang-orang yang paling kita cintai. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk merenungkan ayat ini. Mungkin hasil permenungan saya bisa membantu anda untuk memahami teks ini. Tetap terbuka kemungkinan untuk menawarkan permenungan anda sendiri.

Satu ungkapan yang akhirnya saya temukan dalam merenungkan teks ini adalah, “Cinta kita kepada bapa-ibu, dan anak-anak kita sering-sering membuat kita tidak bisa bergerak mengikuti kehendak Allah”. Tak jarang orang jatuh pada rasa puas diri yang membuatnya tidak bisa bergerak di dalam kehidupan. Paus Fransiskus mengatakan, “Kehidupan ini pada dasarnya adalah sebuah perjalanan. Kalau kita sampai berhenti bergerak, hati-hati bisa jadi kita sedang ada dalam situasi yang salah!”. Orang yang puas dengan situasi keluarganya, orang yang lupa mencari hal baru untuk mengungkapkan belas kasih; pribadi yang lupa untuk melihat situasi keluarganya yang baru membuat kehidupan berhenti dan lupa untuk bertanya, “apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk aku lakukan dalam keluargaku hari ini!”. Maka tak jarang kita menemukan orang tua yang mudah bertengkar dengan anak remajanya karena orang tua masih suka memperlakukan anaknya yang sudah tumbuh dewasa masih sebagai anak-anak. Mereka lupa untuk mulai mendampingi anak-anak itu sebagai orang yang sudah remaja, yang perlu mendapatkan kepercayaan dan siap untuk mengemban tugas-tugas. Tak jarang juga ada anak-anak yang lupa bahwa orang tuanya sudah semakin tua. Mereka lupa memperhatikan orang tuanya yang sudah renta itu sebagai orang yang sekarang gentian membutuhkan kehadiran mereka. Maka tak jarang anak-anak dari orang-orang yang sudah tua ini masih terus saja mengharapkan bahwa mereka masih terus bisa mendapatkan banyak hal dari orang tuanya. Mereka belum berpikir bahwa sudah tiba saatnya bahwa merekalah yang ikut bertanggung jawab untuk kehidupan orang tuanya. Bukan hanya diminta bantuan secara fisik material, tak jarang orang tua ini masih pula dibebani dengan beban merawat cucu. Saya pernah merasa ingin menangis mendengarkan orang tua yang mengatakan bahwa anaknya menitipkan satu putra kepadanya, tetapi untuk kebutuhan hidup dia juga yang harus menanggung. Di saat ia ingin menikmati hari tua, ia masih diributkan dengan kehadiran anak kecil.

Hari berlalu dan situasi berganti. Dalam hal inilah juga orang perlu menatap kenyataan bahwa hidup sudah berubah. Tidak ada sesuatu yang tetap. Situasi-situasi yang baru membutuhkan cara untuk menghadapi kehidupan dengan cara yang baru. Jangan sampai kita sebagai manusia terjebak oleh situasi tertentu. Kehendak Tuhan harus dipahami dari sehari ke sehari. Kehendak Tuhan bagi anda di masa anda kanak-kanak berbeda dengan kehendak-Nya di masa anda bertumbuh menjadi orang dewasa, berbeda pula dengan situasi saat anda menjadi orang dewasa. Maka pertanyaan kita kepada Tuhan, kalau kita hendak mencintai DIa, adalah “Tuhan apa yang Engkau kehendaki atas hidupku hari ini!”. Itulah sebabnya dalam doa Bapa Kami kita memohon “Jadilah Kehendak-Mu” dan “Berilah kami rejeki pada hari ini.”

Nabi Elisa
Usaha untuk memahami kehendak Allah dari sehari ke sehari itu terjadi dalam kisah Nabi Elisa. Dia dipanggil Tuhan ketika Ia sedang membajak di sawah. Ia adalah anak dari seorang petani yang kaya. Orang tuanya memiliki 12 pasang lembu dan dia yang bertanggungjawab untuk yang kedua belas. Namun, karena kehendak Allah yang diterimanya adalah untuk menjadi seorang nabi, maka ia tinggalkan semuanya, bahkan Ia menyembelih lembu itu dan memasaknya dengan kayu yang berasal dari bajak yang biasa digunakannya. Itu artinya, ia tidak akan kembali menjadi petani lagi. Setelah itu, ia melakukan banyak hal mulai dari membangkitkan orang mati, memberi nasihat kepada raja yang sudah lupa akan Tuhan, dimusuhi oleh orang banyak, menyembuhkan orang yang sakit dan banyak hal lain lagi. Yang jelas dia mewartakan kepada umat Israel bahwa di dalam situasi yang sesulit apapun Allah tetap menyertai kehidupan mereka. Untuk itulah, ia mencoba untuk memahami kehendak Allah sehari demi sehari, perlahan-lahan dan tidak terkungkung oleh suatu situasi tertentu.

Demikianlah, nabi Elisa membantu kita untuk memahami apa artinya hidup sebagai sebuah perjalanan. Kisah hidupnya membuat kita paham bahwa selalu ada hal-hal baru yang perlu kita dengarkan dari Tuhan, sehari ke sehari. Di sinilah keunikan kehidupan bersama dengan Tuhan yaitu bahwa kehendak-Nya dipahami selangkah demi selangkah. Tidak ada rumus umum mana yang menjadi kehendak Allah untuk hidup kita. Semua harus melihat konteks apa yang sedang terjadi. Seorang anak kadang membutuhkan sentuhan dan pelukan, tetapi ada masanya juga seorang anak membutuhkan kritikan dan peringatan.
Dalam Hidup Menggereja

Anda bisa melanjutkan permenungan tentang bagaimana mencintai Allah, mencintai anak-anak, mencintai orang tua tadi. Namun, perkenankan saya untuk mengajak anda merenungkan lebih dalam bagaimana cara Gereja kita, Paroki St. Maria Assumpta Gamping mencoba untuk terus menerus memperbarui diri. Secara fisik, Gereja kita ingin semakin mampu membantu umatnya untuk bisa berjumpa dengan Tuhan. Bangunan Gereja dipercantik. Gereja yang dulu tampak sempit diperlebar; altar yang dulu tampak di belakang sehingga banyak umat di sisi kanan dan kiri sekarang dimajukan; tempat doa yang sempat tersisihkan karena bangunan Gereja yang diperlebar, sekarang sudah dibangun baru, parkiran Gereja yang dulu sempit sekarang sudah diperluas dan dengan bantuan warga sekitar jalannya parkir menjadi lebih lancer; panti paroki sedang dibangun meski dengan terseok-seok; pasturan juga sedang dikerjakan. Secara rohani, kita melihat ada banyak gerakan-gerakan yang sedang tumbuh dan hendak maju di dalam paroki kita. Beberapa waktu yang lalu kita mengadakan penataan kembali tatacara liturgi sehingga para petugas tidak kesulitan mengikuti perayaan dan umat terbantu; Orang Muda Katolik mengadakan rekoleksi OMK setelah 6 tahun tidak mengadakan rekoleksi (pesertanya mencapai 75 orang); misdinar Paroki akan mengadakan kemping bersama; katekese di Gereja sedang mencoba untuk menata kembali apa yang baik yang bisa dilakukan sehingga bisa melibatkan semakin banyak orang; beberapa lingkungan mencoba untuk membuat guyub paguyubannya dengan mendirikan arisan bapak-bapak – doa keluarga, pertemuan ibu-ibu, pia lingkungan, arisan OMK, koor anak-anak, koin maria – dan lain sebagainya. Gereja kita sedang bergerak maju dan kita ingin agar kita semua terlibat. Pertanyaannya, “Apakah anda melihatnya? Ataukah anda hanya melihat Gereja kita ini sebagai sesuatu yang sama saja? Apakah pula anda terlibat di dalam gerak Gereja ini? Ataukah anda terlalu enggan untuk mengatakan bahwa ‘saya ingin mulai terlibat’?” Kehidupan menggereja itu terus berjalan dan kalau sampai anda berhenti untuk melihat dan mengikuti gerak langkah Gereja ini, mungkin itulah salah satu tanda kita masih terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita terlalu enggan untuk menatap bagaimana karya Allah telah nyata dan terus nyata di dalam Gereja ini.

Saatnya adalah Kini
Terlalu banyak orang enggan untuk membuat perubahan diri. Terlalu banyak orang yang sikapnya kaku: orang yang suka membuat cap-cap negative atas diri orang lain dan tidak siap untuk melihat perubahan. Orang suka mengatakan, “Dia itu pasti jelek!”; “Dia pernah menyakiti saya, jadi dia pasti orang yang jahat”; “Organisasi di Gereja itu pasti tidak bermutu!” “ Misdinar di paroki ini selalu salah dalam bertugas”; “Orang muda di Paroki ini datang hanya kalau acara makan-makan saja!” Gambaran ini menunjukkan betapa naif kita. Dalam bahasa latin ada ungkapan “Tempora mutantur et nos mutamur in illis”.

Ada pula orang yang mudah menjadi ragu-ragu, “Anakku memang seperti itu dan tidak pernah berubah!” atau “Bapak itu memang galak dari dulu!”. Ada pula yang mengatakan, “Mungkin lingkungan lain bisa menjadi guyub dan akur, tetapi tidak dengan lingkunganku”. Sikap ini bisa membuat kita berhenti bergerak maju dan lupa bahwa mimpi untuk kebaikan itu selalu ada dan akan selalu ada.
Kehendak Tuhan itu baik dan kalau anda masuk dalam suasana doa, dalam suasana keheningan dan sering mencari waktu untuk bersama dengan Tuhan, anda akan memahami apa yang sebenarnya Dia kehendaki. Namun, kalau kita terlalu memegang erat rencana kita, keinginan kita, kesombongan kita, pengakuan kita sebagai korban dan bukannya sebagai orang yang berperan di dalam perubahan, dan sebagainya, kita hanya akan terus menerus menjadi penonton. Kita tidak bergerak untuk menjadi orang yang menjadi agen perubahan.

Saat ditahbiskan satu tahun yang lalu, saya mengambil motto tahbisan, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Harapan saya, di dalam menjalani hidup sebagai imam, saya bisa menjadi saksi mata atas banyak karya Tuhan di dalam kehidupan. Di paroki ini saya sudah melihat banyak karya Tuhan yang luar biasa. Namun, rasanya masih ada banyak karya Tuhan yang lain yang akan saya dan kita semua lihat dan rasakan saat kita mau menjadi bagian dari perubahan menuju kebaikan di paroki kita, mulai dari diri pribadi, keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki. Kita saat ini belumlah mencapai titik yang terbaik, maka jangan terlalu enggan untuk mengatakan bahwa, “Aku perlu berubah, keluargaku perlu berubah, lingkunganku perlu berubah, wilayahku perlu berubah, parokiku perlu berubah!”
Saya dan anda berharap, semoga Gereja kita, paguyuban kita sebagai umat beriman, bisa menjadi gambaran Kerajaan Allah, tempat di mana Allah berkarya dan kita semua hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa persaudaraan dan kebaikan.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,592 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan 10 Tahun Imamat Romo Martinus “Jabrix” Suharyanto

Tim Buletin Gamping bersama Romo Jabrix

Romo Martinus Suharyanto, Pr. merupakan salah satu romo di Gereja Gamping dan merupakan Kepala Paroki Gereja Gamping. Tepat hari ini adalah sepuluh tahun jejak Romo Haryanto atau yang biasa di kenal Romo “Jabrix” menerima sakaramen Imamat.

Sakaramen Imamat tersebut diterimakan oleh Mgr. Ignatius Suharyo. Selama sepuluh tahun tersebut, Romo Har sudah merasakan pahit manis kehidupan dengan menjadi romo. Banyak pengalaman Romo Har yang dapat menjadi suri teladan bagi umat-umatnya. Pengalaman Romo Har tersebut yang menjadi bahan homili dan renungan umat Paroki Gamping. Pada saat homili, seringkali Romo Har menyelipkan guyonan-guyonan kecil yang bertujuan agar umat-umatnya tidak mengantuk.

Setelah Perayaan Ekaristi guna merayakan Imamat, acara dilanjutkan dengan jamuan makan bersama yang dilakukan di halaman Gereja Gamping. Suasananya sangat meriah dan penuh sesak oleh umat. Banyak makanan yang disajikan, seperti Bakso, Siomay, Nasi Goreng, dan banyak lagi. Umat dibebaskan untuk mengambil apa saja. Jelas makanannya sangat enak, hal itu terbukti dari hampir tidak ada sajian yang tersisa. Setelah itu umat boleh pulang ke rumah masing-masing.

Acara sepuluh tahun peringatan Imamat Romo Har ini dilaksanakan pada hari Selasa 27 Juni 2017 di Pondok Maria (Taman Doa) Gereja Gamping. Menurut Hasil Survey Tim Buletin Gamping terhadap acara tersebut, kami berhasil menampung komentar umat Paroki Gamping, sebagai berikut:

Monica Putri

Wawancara Monica Putri

Menurutnya, acara ini sangat menginspirasi karena Imamat 10 tahun tidaklah mudah untuk dilakukan setiap orang.

Pesan: Semoga tetap menjadi romo yang kuat dalam iman dan perbuatannya.

 

Antonius Bimo Boddhidharma

Wawancara Antonius Bimo Bodhidharma

Menurutnya, acara ini bagus karena dapat mengumpulkan umat untuk merayakan Imamat romo. Acara  ini memiliki makna untuk merasakan perjuangan Romo Har dan supaya kita dapat meneladani sikap baik Romo Har.

Pesan: Supaya romo tetap semangat dan tetap menjadi diri sendiri.

 

Romo Martinus Suharyanto,Pr.

Wawancara Romo Martinus Suharyanto

Menurut Romo Suharyanto,Pr. sendiri, makna acara ini adalah ungkapan syukur kepada Allah atas hidup ini. Moment paling menarik bagi beliau adalah ketika ia bisa melayani umat di Gereja Gamping ini. Dan beliau juga mengatakan bahwa neneknya adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Romo Haryanto. Untuk pesan yang ingin disampaikan kepada umat, Romo berpesan supaya umat tekun berdoa bersama Ibu Maria.

Di atas adalah sedikit cerita di balik kemeriahan untuk Perayaan 10 Tahun Imamat Romo Martinus Suharyanto beserta ulasan-ulasan dari umat Gereja Gamping. Semoga bermanfaat.

2,650 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Mengenal

Mengenal

“Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi Siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Rasanya ungkapan di atas adalah cerminan yang indah dari orang yang mengenal setiap pribadi yang ada di sekitarnya sebagai pribadi-pribadi yang penting dalam hidup mereka. Kalau kita mau merenungkan lebih dalam, kata “Mengenal” memiliki arti yang luar biasa. Kata mengenal ini berarti saling mengerti, saling memahami dan saling bisa melibatkan perasaan. Domba yang mengikuti gembala hanyalah domba yang merasa aman bersama dengan gembala itu. Dalam hal ini, sudah ada proses interaksi yang menumbuhkan kepercayaan domba-domba itu kepada gembala.

Gambaran domba dan gembala seringkali digambarkan sebagai gambaran Gereja dengan umatnya atau dalam konteks yang sempit digambarkan tentang seorang pastor dengan umatnya. Jadi sang pastor adalah gembala dan umat adalah domba-domba. Namun, kita juga harus ingat bahwa setiap umat Kristen, ketika kita dibaptis, kita mendapatkan tugas setara dengan tiga tugas imamat Yesus Kristus yaitu sebagai imam, raja dan nabi. Salah satu tugas kita adalah tugas untuk menjadi gembala satu dengan yang lain. Dalam bahasa yang umum dikenal di kalangan orang-orang Kristiani, kita mengenal kata, “Orang-orang yang dipercayakan kepada kita.” Dengan kata lain, kita masing-masing adalah gembala bagi ‘orang-orang yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita’. Bisa jadi orang-orang itu adalah orang-orang yang kita temui di jalan, orang-orang yang kita jumpai di bis kota atau orang yang hanya kita jumpai di suatu masa di dalam hidup kita. Namun, masing-masing dari kita memiliki orang-orang yang dipercayakan kepada kita untuk kurun waktu yang lama, untuk masa yang panjang dan dalam relasi yang lebih khusus: orang tua, pasangan, anak-anak, teman kerja, tetangga dan lain sebagainya. Satu lagi pribadi yang paling harus kita gembalakan yaitu pribadi kita sendiri.

Saya pernah membaca suatu tulisan yang mengatakan bahwa hidup manusia itu terdiri dari lingkaran-lingkaran relasi. Lingkaran relasi yang paling dalam adalah diri kita sendiri. Lingkaran berikut adalah orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. Lalu lingkaran berikut adalah orang-orang yang kita kenal tetapi kedekatan relasinya tidak terlalu mendalam. Sementara di lingkaran terakhir ada orang-orang yang hanya kita jumpai pada suatu momen di dalam hidup kita dan tidak mempunyai pengaruh besar di dalam hidupnya. Dari sejarah kehidupan Yesus, lingkaran relasi terdalamnya adalah dirinya sendiri. Ia terus menerus mengusahakan agar dia mempunyai kedekatan relasi dengan dirinya sendiri dan Bapa. Itulah sebabnya ia membangun kebiasaan doa pada malam-malam atau pagi-pagi buta seperti banyak dibicarakan di dalam Kitab Suci. Lingkaran relasi yang kedua adalah lingkaran relasi dengan ketiga muridnya, lalu juga dengan Bunda Maria. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mengenal dirinya dengan lebih dalam. Kepada Bunda Maria Yesus selalu taat dan bisa berbincang akrab. Kepada ketiga rasul, ia memperkenalkan diri secara lebih mendalam seperti halnya ketika mereka pergi ke Gunung Tabor. Relasi berikut adalah murid-murid Yesus yang lain yang berada bersama dengan Dia, berjuang bersama dia dan melayani bersama dengan dia. Lingkaran berikut adalah orang-orang banyak yang pernah berjumpa sesekali dengna dirinya baik para imam, orang-orang saduki maupun farisi, Herodes, Pilatus dan orang-orang yang pernah disembuhkannya. Masih ada lagi lingkaran terakhir yaitu orang-orang yang hanya pernah mendengar tentang dia tetapi tidak pernah berjumpa dengan dia pada masa itu.

Untuk memenuhi peran kita sebagai seorang gembala, adalah penting untuk mengenal pribadi-pribadi yang berada di lingkaran kehidupan kita. Baiklah renungan ini kita perdalam dengan merenungkan masing-masing lingkaran di dalam hidup kita:

Lingkarang Terdalam – Relasiku dengan Diriku Sendiri

Satu ciri yang saat ini menjadi bagian dari masyarakat kita adalah semakin banyaknya pribadi yang tidak mengenal dirinya sendiri. Hidup ini layaknya seperti usaha untuk mengikuti arus yang ada saja. Apa yang disebut dengan hedonisme, konsumerisme, budaya hidup glamor, amuk massa, klitih, budaya gosip adalah budaya yang lahir dari pribadi-pribadi yang tidak mengenal dirinya sendiri. Anda tentu masih bisa menambahkan sendiri bentuk-bentuk kebudayaan yang lain. Intinya adalah orang melakukan dan mencari hal-hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Inilah yang disebut sebagai cuci otak yaitu ketika otak manusia diarahkan untuk melakukan hal-hal yang diinginkan orang lain. Seorang remaja merokok bukan karena ia ingin tetapi hanya demi gengsi. Seorang ibu membeli motor baru bukan karena ia tidak punya motor tetapi karena teman-temannya punya motor yang baru. Anak muda tidak ingin melakukan kekerasan tetapi karena ingin dianggap sudah dewasa maka ia melakukan klitih. Laporan terakhir penjara khusus anak-anak di Gunung Kidul sudah tidak bisa memuat jumlah narapidana karena terlalu banyak kasus klitih.

Belajar dari doa-doa Yesus, terutama doa di taman Getsemani, kita akan tahu bahwa Yesus adalah pribadi yang mengenal dirinya sendiri. Keheningan malam, kesendirian dan kesediaan untuk bertahan dalam keheningan mampu mengarahkan pribadi untuk menentukan pilihan dengan tepat. Kekacauan batin, kebisingan media sosial, kesemrawutan peristiwa demi peristiwa di dalam kehidupan membuat kita tidak tenang sehingga kita tak mampu mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati kita. Seorang mahasiswa yang karena tak pernah mempunyai kesempatan untuk hening akhirnya harus menunda perkuliahan untuk masa yang panjang hanya gara-gara tidak bisa menolak ajakan teman untuk main, dan menikmati masa muda. Orang tua yang selalu dibelenggu oleh kesibukan, tidak pernah menentukan kapan memberi waktu kepada anak hingga akhirnya menyesal setelah anak-anaknya menjalani hidup dengan kacau. Relasi dengan diri sendiri menjadi penting. Keheningan, kesediaan untuk mengenal keinginan terdalam dan menentukan prioritas di dalam hidup menjadi suatu yang penting. Orang-orang yang hanya hidup asal jalan hanya akan berjuang menghindari kesulitan dan merengkuh kesenangan. Sementara orang yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri, selalu siap sedia untuk merengkuh suka duka kehidupan, karena ia tahu bahwa kesulitan bukanlah sesuatu yang harus dihindari karena sering-sering menjadi jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna.

Apakah kita sudah mampu menjadi gembala untuk diri kita sendiri?

Relasi Dengan Orang-Orang Dekat

Bentuk relasi dengan orang-orang dekat adalah bentuk relasi yang penting untuk diusahakan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menentukan keberadaan kita. Kalau Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang cinta kasih, maka bentuk cinta kasih paling konkret adalah cinta kepada orang-orang dekat ini.

Dalam sebuah sharing, seorang teman pernah mengatakan, “Saat ini adalah saat di mana kita menuai hasil dari orang-orang yang hidup dari sikap egoisme. Ada semakin banyak pasangan yang tidak saling mengenal. Ada semakin banyak orang tua yang tidak mengenal anaknya. Ada semakin banyak anak-anak yang tidak mau tahu kesulitan orang tuanya di masa tua. Intinya ada sikap acuh tak acuh terhadap situasi di sekitarnya. Ini melahirkan masyarakat yang rentan terhadap perpecahan. Orang tidak lagi bergandengan tangan untuk mencapai kebahagiaan bersama tetapi orang terus mengusahakan kepentingan pribadi semata meski di dalam kerangka hidup berumah tangga. Ketika harapan dan keinginannya tak lagi tercapai, dengan mudah orang memilih untuk berpisah karena keluarga tidak lagi menjadi tempat untuk mencapai keinginannya”. Apa hasilnya? Anak-anak yang terjerumus dalam narkoba, orang tua yang saling memiliki “PIL” dan “WIL”, perceraian yang semakin marak, lingkungan-lingkungan di dalam lingkup Gereja yang menjadi ajang perkelahian bukan ajang persaudaraan dan lain sebagainya. Kalau ini terus terjadi, apa yang akan kita tuai di masa depan.

Apakah anda sudah bisa menjadi gembala untuk orang-orang dekat yang dipercayakan kepada anda?

Relasi dengan Masyarakat

Saya merangkum lingkaran-lingkaran relasi dalam tingkat yang lebih luas dengan kata “Relasi dengan Masyarakat”. Relasi ini  adalah relasi kita dengan pribadi-pribadi yang tidak ada dalam lingkaran dalam kita tetapi yang perjumpaannya terbatas. Merekalah pribadi-pribadi yang menjadi bagian dari kehidupan. Meski tidak seintens orang pada lingkaran pertama dan kedua, kehidupan seseorang juga dipengaruhi dan bisa saja mempengaruhi kehidupan seseorang. Sikap kita dalam perjumpaan dengan mereka, pengaruh kita kepada mereka dan juga bagaimana kepedulian kita kepada mereka menjadi gambaran bagaimana kita menjadi gembala ‘bagi orang-orang yang dipercayakan kepada kita’. Senyum ramah kita kepada orang yang kita jumpai di jalan mungkin bisa meringankan beban hidupnya. Sikap kasar kita kepada seseorang di kantor atau kata-kata yang kita keluarkan di jalanan menunjukkan bagaimana sikap hidup kita sebagai gembala bagi ‘orang-orang yang dipercayakan kepada kita’.

Apakah kita bisa menjadi gembala bagi saudara-saudari dalam lingkaran ini?

Menjadi Saksi Allah

Karya menggembalakan jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada kita masing-masing adalah karya Allah. Kita hanya ikut serta dalam karya itu. Kita berusaha agar mereka ini bisa masuk ke dalam kesatuan dengan Allah melalui Yesus Kristus. Kesadaran ini membawa kita kepada kesadaran bahwa hidup perlu diperjuangkan bersama Tuhan. Dengan memandang diri sebagai gembala-gembala yang diutus Allah bagi ‘pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita’, kita akan menjadi saksi hidup atas karya-karya Allah di tengah kehidupan, baik bagi diri kita sendiri, orang-orang di lingkaran dekat dengan diri kita maupun orang-orang yang ada di lingkaran-lingkaran berikutnya.

Semoga dengan demikian, seperti halnya gembala menjadi saksi atas domba-domba yang semakin gemuk, yang melahirkan keturunan, yang semakin paham jalan untuk pulang, kita pun menjadi saksi hidup atas pribadi-pribadi yang semakin mengenal Tuhan dan menemukan kedamaian di dalam kehidupan mereka. Di penghujung hari dan di penghujung nafas kita, semoga kita akhirnya bisa bersyukur boleh menyaksikan karya-karya agung Tuhan di tengah-tengah kehidupan. Bukankah ini tujuan dari kehidupan kita sebagai manusia?


Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,703 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini