Apa Asyiknya Misa Harian?

Misa Harian

Hingga pukul 3 pagi saya belum tidur, saya lihat hujan turun, dan hingga sekarang, pagi menjelang misa. Saya pun tanpa alasan pergi ke gereja. Karena apa? Karena misa harian itu asyik. Penasaran?

Berikut beberapa hal yang saya dapat ketika saya misa harian hari ini.

  • Bisa melihat matahari terbit.
  • Lebih dalam saat berdoa, karena suasana belum terlalu bising.
  • Jika hari sedang hujan, kita bisa melihat hujan pagi hari dan itu rasanya sangat menyejukan.
  • Jika hujan makin deras, kita bisa melihatnya lebih lama, jika kamu sedang tidak terburu-buru kegiatan lain; misal sekolah, kerja, atau masak air.
  • Jika hari sedang cerah, kita bisa mendengar suara burung pagi hari, dan itu rasanya menyenangkan.

425 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Programasi Gereja Santa Maria Assumpta Gamping Tahun 2019

Todos

Fokus pastoral Tahun 2019 yang dirilis oleh Dewan Karya Pastoral Kesukupan Agung Semarang dan telah diperdalam serta dipelajari dalam forum Temu Pastoral 2019 di PPSM bulan Januari 2019 lalu adalah “Umat Allah Keuskupan Agung Semarang Mewujudkan Kesejahteraan Umum dalam Masyarakat Multikultural”. Dalam forum Temu Pastoral tersebut beberapa orang anggota Dewan Pastoral Paroki beserta Romo Paroki, Rm Martinus Suharyanto, Pr juga bergabung secara penuh bersama dengan delegasi paroki lain se-kevikepan DIY.

BONUM COMMUNE

Istilah “Kesejahteraan umum” (bonum commune atau common good ) yang dipakai mengacu rumusan Konsili Vatikan II pada Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spes – Kegembiraan dan Harapan, Art. 26) sbb: “keseluruhan kondisi-kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri.” Kita perlu bersyukur bahwa dinamika umat Paroki Gamping yang diwakili melalui forum Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah secara terpadu mampu membangun kebersamaan, sinergi yang hangat untuk saling meneguhkan dalam pelayanan umat. Hal ini merupakan modal besar untuk saling mendukung dan mengembangkan pelayanan.

Guna mewujudkan cita-cita dalam fokus pastoral tersebut, beberapa hal berikut ini perlu dilakukan:
1.Pengembangan iman umat yang cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis secara berjenjang dan berkelanjutan;
2.Pengembangan keluarga, lingkungan, dan kelompok-kelompok umat agar lebih berperan dalam masyarakat;
3.Peningkatan pelayanan karitatif dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel agar semakin sejahtera dan bermartabat;
4.Peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerja sama.

Menindaklanjuti proses tersebut, Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Assumpta Gamping pada tahun 2019 ini juga mengusahakan proses penyusunan program kerja (programasi) yang semakin sejalan dengan cita-cita keuskupan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama (Bonum Commune). Proses programasi dilaksanakan secara bertahap, dengan memperdalam RIKAS dan Ardas melalui diskusi pendalaman tim programasi bersama Dewan Harian, dengan tujuan menajamkan pelayanan agar sungguh bermanfaat bagi umat di Paroki Gamping.

Hasil penajaman fokus pastoral tersebut akhirnya ditarik pada panggilan perutusan, sebagaimana telah disampaikan oleh Rm A. Maradiyo, Pr selaku Vikep Kevikepan DIY pada saat melantik segenap Pengurus Dewan Pastoral Paroki tanggal 26 Agustus 2018 lalu, bahwa apa pun fokus pastoral yang dirumuskan, perlu memperhatikan tiga ranah utama pelayanan paroki, yaitu tata penggembalaan, tata kelola administrasi, dan tata kelola harta benda paroki. Karena itu, dalam proses membedah RIKAS juga dikaitkan dengan ketiga aspek yang dirujuk supaya kelanjutan/kesinambungan program terdahulu dan pelaksanaan pengelolaan organisasi menghasilkan standar pelayanan yang akuntabel.

Proses yang ditempuh dalam programasi tahun 2019 ini diawali dengan mendengarkan setiap bidang dan tim kerja menyampaikan rencana program dan anggaran di forum Dewan Pastoral Harian. Selanjutnya. seluruh materi akan divalidasi oleh Tim Kerja Programasi sehingga dihasilkan program kerja dan Rencana Anggaran Biaya Paroki Tahun 2019. Secara keseluruhan proses ini melelahkan, namun memberikan harapan karena dengan transparan setiap bidang/tim kerja bisa menemukan peluang bersinergi, membangun kebersamaan dan soliditas, mekanisme kerja yang efektif dan efisien, serta kegembiraan/semangat untuk melayani umat dengan lebih baik. Tentu hal ini membutuhkan dukungan kita semua sebagai umat paroki, supaya oleh pelayanan ini nama Tuhan semakin dimuliakan. (ve)

521 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,128 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Mensyukuri yang Baik

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,303 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XI

gereja gamping

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

548 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Indahnya Toleransi, Sahur Bareng Di Gereja

Sahur Keliling Bersama Dra. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Hum

Mempererat tali persaudaraan antar iman di lingkungan masyarakat dan menangkal radikalisme menjadi tujuan utama dari sahur keliling bersama Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum yang diadakan di Gereja Santa Maria Assumpta Gamping Sabtu (26/05). Acara ini merupakan acara tahunan yang sudah keempat kalinya diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Menyapa orang-orang di berbagai tempat dan mempertahankan semangat Gusdur untuk menjaga keragaman dan kerukunan masyarakat berbagai agama,” ujar Martinus Joko Lelono, Pr selaku narahubung. Hasil pertimbangan rapat yang panjang memutuskan bahwa tahun ini Kabupaten Sleman menjadi tempat penyelenggara acara tahunan tersebut.

“Acara kali ini dilaksanakan di halaman gereja merupakan salah satu upaya untuk menjaga tali persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama,” ujar Ibu Sinta kepada media di akhir acara sahur keliling.

Acara sahur keliling diadakan atas kerjasama berbagai pihak di Yogyakarta, seperti Jaringan Gusdurian, ANBTI, Banzer, Gereja Gamping, Pemuda Gamping Tengah RW 15, dan berbagai paguyuban lain. Kerjasama tersebut membuahkan bantuan dari segi tempat acara, konsumsi sahur, dan juga keamanan saat acara berlangsung.

Acara sahur keliling dibuka pukul 02.00 WIB dengan Hadrohan dari Gusdurian sembari menunggu kedatangan Ibu Sinta. Acara ini mengundang banyak tamu dari berbagai tingkat, seperti kepala desa hingga camat dan lurah dari lingkungan sekitar gereja. Bahkan, beberapa warga negara asing turut datang menyaksikan kegiatan ini. Selain itu, berbagai tokoh seni dan tokoh penting lainnya turut memeriahkan acara. Salah satunya adalah Yunan Helmi dan Risca Ayu, pencipta dan penyanyi lagu-lagu perdamaian yang menyumbangkan dua judul lagu perdamaian milik mereka.

“Target utama acara ini masyarakat lintas iman, para pemuka agama, dan warga sekitar khususnya yang membutuhkan” ujar Romo Martinus Joko Lelono. Menurut data milik panitia, seluruh masyarakat boleh bergabung namun hanya dibatasi tujuh ratus peserta saja. Tak hanya peserta yang lintas iman, rupanya panitia acara ini juga dilakukan oleh anak muda dan orang tua dari seluruh lapisan masyarakat dan juga berbagai agama.

Acara sahur keliling bersama istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga didukung oleh Keuskupan Agung Semarang. “Bagi Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, acara ini bisa sekaligus menjadi kegiatan Pra Srawung yang puncaknya nanti akan didakan bulan Oktober di Semarang,” ujar Fransiskus Wahyu, panitia dari OMK Gamping.

Indonesia raya dikumandangkan setelah kedatangan Ibu Sinta di gereja. Sambutan dan doa bersama dilakukan sebelum acara sahur dimulai. Kegiatan ini diiringi oleh lagu-lagu kebangsaan yang dimainkan dengan nuansa jawa dari grup musik lingkungan St. Agustinus Gancahan. Dilanjutkan dengan dialog bersama Ibu Sinta mengenai keberagaman, persaudaraan, dan anti radikalisme, acara ini ditutup dengan penandatanganan prasasti. Berikut isi yang tertulis dalam prasasti:

Kemanusiaan itu satu kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadat, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar

Prasasti

 

Tepat saat adzan subuh berkumandang, acara sahur keliling bersama Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum diakhiri.

“Kegiatan ini berhasil mengeratkan tali persaudaraan kita sebagai warga Yogyakarta yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama,” ujar Fransiskus Wahyu.

1,990 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Pengabdianku Untuk-Mu

misdinar

Kira-kira apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar orang mengucapkan Gereja Gamping? Entah mengapa, aku merasa seperti flashback pada masa kecilku saat aku iseng membuka web Gereja Gamping yang baru ini. Tak terasa pun aku sudah selama hampir 19 tahun selalu berkecimpung di Gereja Gamping. Sangat banyak lika-liku yang dirasakan, dan pastinya banyak suka duka yang sudah tertampung di kehidupanku.

Kadang saat aku misa mingguan di gereja dan memandang sekeliling, aku merasa bahwa secara fisikpun gerejaku sudah melalui banyak perubahan. Dulu saat masih kecil, mungkin seukuran SD, ketika sudah mulai diterapkan berkat anak maju satu persatu. Akulah anak kecil yang selalu ingin menjadi nomor satu mendapat berkat dari Imam, dan saat aku kembali, aku mendapatkan apresiasi dari orangtuaku.

Kemudian, langkah lain yang membuatku selalu bahagia di gereja adalah dulu kakakku adalah seorang misdinar, aku selalu bangga, senang melihat kakakku dapat berinteraksi langsung dengan imam, memegang alat-alat liturgi, menggunakan baju khusus yang kini aku tau namanya. Saat melihat kakakku tugas, dalam hati aku membatin “Suatu saat nanti aku yang ada diatas sana, aku yang menggantikan mereka dan melakukan seperti apa yang kakakku lakukan. Aku ingin seperti mereka.” Hingga akhirnya, aku sangat semangat ikut pelajaran komuni pertama, dan mendaftar menjadi anggota misdinar.

Itu adalah langkah pertamaku untuk berkontribusi langsung pada gereja. Aku masih teringat saat aku selalu rajin tugas tanpa memandang siapa yang menemaniku, siapa imamnya. Bahkan aku dulu paling semangat untuk tugas misa minggu pagi yang waktu itu masih jam 5 pagi. Kadang aku nekat untuk tugas 2 kali karena masih sangat bersemangat untuk bertugas kala itu. Di misdinar pula, aku bisa menemukan sabahat-sahabat baik yang sekarang sudah sukses menjadi calon-calon penerus bangsa. Kadang terharu sendiri mengingatnya. Misa hari raya merupakan hal yang paling diincar misdinar, bahkan hingga saat ini. Mungkin karena saat tugas misa hari raya, bisa dilihat banyak orang dari luar sampai dalam gereja, menjadi memiliki kesan istimewa tersendiri. Dulu hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika tugas hanya bisa di nomor satu saja, padahal teman-temanku sudah merasakan di berbagai posisi. Begitulah nasib pendek dan kecil.

Hingga suatu hari aku dipercaya untuk mendapatkan kesempatan lebih dari anggota misdinar. Aku merasa menjadi anak yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini, mendapat teman baru, mempelajari bagaimana mencari anggota misdinar baru, mengelola pertemuan rutin, mempersiapkan hari raya, hingga menyiapkan event untuk anggota misdinar dalam rangka mengisi waktu liburan sekolah sekaligus mengakrabkan. Mungkin bisa jadi juga sebagai bentuk rehat untuk anggota karena sudah terus-menerus tugas misa.

Sungguh, mengabdi pada gereja sendiri itu sangat menyenangkan, mendapatkan kepuasan diri sendiri. Selain bisa menjadi dasar kita untuk belajar organisasi, banyak hal-hal positif yang bisa dijadikan pengalaman. Permasalahan dalam organisasipun bisa menjadikan kita belajar untuk memecahkan masalah itu, sehingga ketika dalam dunia nyata lainnya nanti, jika menemukan masalah yang sama, sudah bisa menyelesaikannya.

Terakhir, semoga Gereja Gamping terus berkembang mengikuti jaman, dan bisa menarik kawula-kawula muda untuk turut ambil bagian mengabdi selama waktu memang masih ada, dan kesempatan selalu hadir di setiap waktunya.

Sekian. Berkah Dalem untuk Anda sekalian yang sudah berkenan untuk membaca.

5,343 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teruntuk Generasi Muda

komsos gamping

Apa yang terlintas dalam benak kamu ketika mendengar kata “keluarga?”  jawaban klise mungkin, keluarga itu aku, ayah, ibu, kakak, dan adik. Keluarga itu gereja kecil. Keluarga itu persekutuan terkecil dalam masyarakat. Dan masih banyak lagi. Pendapat itu tidaklah salah. Lalu bagaimana dengan anggapan, “keluarga cikal bakal iman anak?” topik yang cukup menarik untuk kita perbincangkan dalam artikel kali ini.

Zaman sekarang kira-kira apa sih yang dibutuhkan oleh generasi muda dalam kaitannya dengan hidup menggereja? Parameter yang sangat berpengaruh ialah iman. Kenapa? Selain gereja, tentunya keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam pembentukan iman seseorang. Setiap pribadi lepas pribadi memiliki problematikanya sendiri. Di zaman modern ini setiap orang dituntut untuk memiliki pendirian yang teguh serta rasa toleransi yang baik. Jika banyak tetua berkata “jaman saiki ki medeni, cah enom ora bisa empan papan. Ra dueni rasa sosial, isane nyekel Hape.” Anggapan itu tidak lain ada benarnya juga.

Nah, bila kita tilik lagi, apakah peran keluarga bagi generasi saat ini? Sekarang banyak orang muda yang dikatakan “generasi menunduk” ya atau tidak? Lepas dari iya atau tidaknya bukanlah suatu masalah. Alat komunikasi modern saat ini memang sangat menarik dan digandrungi. Apalagi dengan segala fitur yang kian hari kian “mengasyikan” bukan hal yang langka bila update merupakan kegiatan yang lebih menyenangkan ketimbang aktivitas sosial lainnya. Namun hal ini perlu mendapat tuntunan lebih lanjut. Tidak selama hidup hanya di dunia maya saja. Dunia sosial masyarakat mau dibawa kemana? Dunia maya juga?

Dalam hal ini, orang tua sudah pasti pusing memikirkan itu. Kesadaran bersosial sangatlah dibutuhkan. Namun bukan sangat untuk bermedia maya.

Peneguhan iman merupakan hal yang penting yang acapkali disepelekan. Itu salah besar. Pada dasarnya generasi muda perlu wadah untuk menampung semuanya (ide, gagasan, kegiatan, pelayanan, dan masih banyak lagi.) Generasi muda kini butuh banyak dorongan, bantuan, dan tidak ketinggalan, APRESIASI.

Apa yang dilakukan agaknya memang belum sesuai harapan. Namun akan sesuai harapan apabila keluarga dan unsur sosial masyarakat lainnya ikut andil dalam pembangunan (iman). Jangan buat “mereka getun.” Terkadang cara mengkritisi  yang salah yang membuat mereka ciut. Lalu untuk apa keluarga dan gereja ada?

Mari bersama-sama, mulai dari keluarga, kita mulai membangun landasan iman yang kokoh. Tidak lain ialah untuk mempersiapkan generasi selanjutnya.

Teruntuk generasi muda. JANGAN TAKUT. Tiliklah kedalam, ada keluarga, masyarakat, gereja, dan Tuhan Yesus yang siap membantumu!

1,909 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Yang Terlupakan Dari Gereja

gereja gamping

Banyak dari kita mengenal Gereja hanya sebagai tempat ibadat semata. Tidak salah juga, tetapi yang mereka lupakan adalah bahwa gereja hidup di tengah dunia. Gereja perlu untuk berinteraksi dengan sesama daripada sekedar khotbah di altar atau pada acara perayaan-perayaan Gereja. Lebih dari itu, Gereja harus melibatkan diri dalam dinamika kehidupan umatnya.

Umat, saya yakin menantikan apa sikap Gereja terhadap berbagai permasalahan sosial, utamanya jika hal itu menyangkut persoalan kemanusiaan. Lebih-lebih lagi jika persoalan tersebut telah menjadi wacana publik dan diketahui oleh masyarakat luas.

Gereja sendiri selama ini dianggap selalu bersih dan murni, jauh dari intrik-intrik serta kepentingan-kepentingan lainnya. Dasarnya jelas, tujuan Gereja sendiri adalah tertuju pada sinkretisasi Kerajaan Allah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pastilah merupakan nilai kebaikan serta kebenaran. Masalahnya, apakah dengan segala “kesuciannya” itu Gereja minimal mau melibatkan diri dalam kehidupan sosial masyarakat?

Disadari atau tidak Gereja terkesan lambat dalam bertindak. Alasannya, banyak yang perlu dipertimbangkan, bisa dibilang penuh kehati-hatian. Padahal kita tahu banyak kejadian yang memerlukan tindakan cepat.

Mungkin hal tersebut bisa dibenarkan. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah jangan sampai menyebabkan ketiadaan peran Gereja dalam hal sosial. Gereja tidak boleh hanya berkutat pada urusan ritual tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya.

Di era globalisasi ini, pengaruh dari luar memang menjadi begitu kuat. Gereja sebagai tiang iman Kristiani harus tetap kokoh berdiri di tengah segala terpaan itu, sembari memberi perlindungan kepada umat yang bernaung di bawahnya.

Kesenjangan ekonomi yang terjadi, banyaknya kasus seks bebas, serta menurunnya nilai-nilai moral merupakan segelintir dari dampak negatif dari globalisasi. Mengharap bantuan dari pemerintah saja tidaklah cukup. Pemerintah juga punya keterbatasan dalam mengatasi hal ini.

Maka dari itu Gereja perlu bertindak nyata bukan hanya untuk ambil bagian, tetapi juga sebagai relevansi kehadiran Gereja di tengah dunia. Khotbah-khotbah tersebut memang penting, tetapi harus dipadukan dengan perjumpaan Gereja sendiri dengan rakyat. Prinsip ora et labora, berdoa dan bekerja, yang terkadang masih berat sebelah harus segera diseimbangkan. Minimal, Gereja dapat bergerak di Paroki masing-masing. Syukur saja dapat menjangkau cakupan yang lebih luas lagi.

Jika tidak begini, maka citra Gereja lama kelamaan akan memudar. Bukan dalam artian tidak lagi menjadi tempat ibadat umat Kristiani, tetapi tentang apa yang Gereja berikan kepada umatnya. Gereja hanya akan menjadi suatu organisasi pasif yang tidak peka dengan berbagai perubahan di sekelilingnya.

Tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi. Maka sudah sewajarnya kita sebagai anggota Gereja ikut menyebarkan kasih bagi sesama seperti yang diajarkan Yesus melalui tindakan yang nyata dan konkret di kehidupan kita.

2,522 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Menemui Tuhan

menemui Tuhan

Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita. Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita.

Samuel dan Kisah Hidupnya

Samuel adalah seorang yang kisahnya unik. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah lama menikah tetapi tidak mempunyai anak. Setelah doa di bait Allah dan doa dari Eli, Hana, ibu dari Samuel mengandung dan melahirkan Samuel ini. Saat masih kanak-kanak, Samuel ini sudah diserahkan kepada Allah di bait Allah. Ia mengabdi di sana. Tak disangka-tak dinyana, rupanya Samuel inilah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim bagi bangsa Israel. Ialah yang nantinya menghantar bangsa ini menuju masa kerajaan. Peristiwa panggilan dia sebagai nabi diceritakan dengan sangat indah. Ia sendiri tidak tahu siapa yang memanggil dia ketika ia tertidur. Sangkanya yang memanggil adalah Eli, ternyata Allah sendirilah yang memanggil Dia. Di sepanjang hidupnya, ia akhirnya menjadi nabi Allah. Kata-kata yang terkenal dari dia adalah, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Ia akhirnya menerima tugasnya sebagai nabi. Dialah yang diminta Tuhan untuk mengurapi raja bagi bangsa Israel, mulai dari Saul sampai dengan Daud. Ia mengalami masa-masa sulit ketika rakyat tidak  setia kepada Tuhan dan meminta raja, juga saat raja menjadi tidak setia kepada Allah.

Meski ia mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak mudah, Samuel menunjukkan bagaimana ia setia untuk terus memahami kehendak Allah. Ia menjadi seorang yang dikenal sampai dengan hari ini. Sebagai manusia, ia tidak sempurna tetapi kesediaannya mendengarkan Allah membuat dia mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.

Menemui Tuhan

Kisah Samuel mengingatkan saya akan kisah di Injil yang berbicara tentang dua orang murid Yesus yang pertama. Saya mengambil perikop ini sebagai motto tahbisan imam. Kata-kata yang saya kenang adalah, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana menemui Tuhan. Tuhan tidak ditemui hanya dalam imaginasi. Tuhan ditemui di dalam jatuh bangun yang kita jalani. Tuhan ditemui di dalam tangis dan tawa yang terus kita lalui. Tuhan tahu bahwa manusia tidak sempurna dan bisa sangat mungkin jatuh. Namun, Tuhan memberi syarat agar kita bisa melihat di mana Ia tinggal yaitu dengan “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Kita diajak untuk mengikuti Dia. Kata mengikuti Dia menjadi tidak selalu mudah karena mengikuti Yesus berarti memaafkan orang yang menyakiti kita; mengikuti Yesus kadang-kadang harus meminta maaf sementara gengsi kita terlalu besar; mengikuti Yesus berarti berkorban untuk kepentingan orang lain; mengikuti Yesus berarti menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa; mengikuti Yesus berarti juga bisa tertawa oleh kebahagiaan orang lain, meski nasib kita sendiri tidak seperti yang dialami oleh orang lain.

Kata “marilah dan kamu akan melihatnya’ menghantar saya untuk merenungkan secara lebih mendalam apa artinya menemui Tuhan. Saya mengartikan bahwa  Tuhan ditemukan secara berbeda-beda dalam diri setiap orang. Seornag mungkin bisa menemukan Tuhan di antara senyuman manis seorang gadis, atau seorang bapak menemukan Tuhan di dalam senyuman lucu dari anak bayinya. Seorang suami bisa jadi menemukan Tuhan di dalam tangis dan pinta istrinya yang sedang hamil. Seorang pastur mungkin menemukan Tuhan di dalam senyum yang terkembang dari seornag yang datang untuk mengaku dosa.

Selamat menemui Tuhan di dalam hidup anda masing-masing. Saya punya cara saya, anda pun punya cara anda masing-masing. Mungkin pula bukan kita yang menemui Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menyapa kita di sela-sela kesibukan hidup yang kita lalui. Semoga kita cukup peka untuk bisa menangkap kehadirannya.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,515 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini