Apa Asyiknya Misa Harian?

Misa Harian

Hingga pukul 3 pagi saya belum tidur, saya lihat hujan turun, dan hingga sekarang, pagi menjelang misa. Saya pun tanpa alasan pergi ke gereja. Karena apa? Karena misa harian itu asyik. Penasaran?

Berikut beberapa hal yang saya dapat ketika saya misa harian hari ini.

  • Bisa melihat matahari terbit.
  • Lebih dalam saat berdoa, karena suasana belum terlalu bising.
  • Jika hari sedang hujan, kita bisa melihat hujan pagi hari dan itu rasanya sangat menyejukan.
  • Jika hujan makin deras, kita bisa melihatnya lebih lama, jika kamu sedang tidak terburu-buru kegiatan lain; misal sekolah, kerja, atau masak air.
  • Jika hari sedang cerah, kita bisa mendengar suara burung pagi hari, dan itu rasanya menyenangkan.

425 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teman Yang Sebenarnya

Saat kamu mencari teman hanya berdasarkan kesenangan, kamu nggak akan pernah menemukan teman yang sebenarnya. Mungkin kamu belum menyadari, namun jika kamu sudah dewasa, sudah bekerja, melainkan menemukan orang yang dapat bekerjasama dengan kamu, kamu malah akan mendapati banyak orang yang akan menjatuhkan kamu, dan apabila kamu pada titik itu tidak memiliki teman yang sebenarnya, kamu akan benar-benar jatuh. Dan hilang harapan hidup. Apa kamu mau hidup seperti itu?

Berbanding terbalik dengan orang yang memilih pertemanan berdasarkan kepedulian, saat dijatuhkan orang lain, walaupun akan terjatuh, setidaknya ada yang mengangkatmu.

357 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Satu Tahun

komsosgamping_WJ2018

Ini cerita, cerita kami bersama, saling rindu saling seru, tak jarang juga kami marah karena tak dapat bertemu. “Kesibukan VS kesibukan” kata salah satu pujangga, benar juga kataku. Sekarang hanya bisa berharap Tuhan beri waktu untuk mimpi dan rindu.

Siapa mimpi?
Siapa rindu?
Kok penting banget?
Mereka adalah harapan, mereka adalah suatu wujud kehadiran, kami untuk tetap berkembang, untuk menjadi suka cita, mewartakan tanpa imbalan.

Sekarang pukul 11:37, sembari menulis ini aku berkata kepada Tuhan dengan nada yang bahkan tidak ada karena hanya kuucap dalam gumaman. Aku berkata…

Tuhan, beri terang
Sebab kami siap untuk menatap ke depan
Tuhan, beri jalan
Sebab kami siap untuk berjalan
Tuhan, beri keikhlasan
Sebab kami sanggup memaafkan
Dan Tuhan, beri harapan
Karena kami takut putus asa

Dalam gumamanku yang terakhir, ku usap air mata yang sempat menetes. Aku berkata pada diri sendiri “Aku bangga ada disini”. Lebih dari itu, selamat ulang tahun.

1,359 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIV

Sawah

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,288 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Selamat Ulang Tahun, Aloysius Gonzagaku!

ultah wilayah gesikan

Minggu (24/6), Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan merayakan pesta nama, tepat pada Hari Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Perayaan syukur itu diawali dengan misa mingguan seperti biasanya. Dalam misa mingguan itu, Romo Martinus Joko Lelono, Pr memberi pesan dalam khotbahnya agar seluruh umat di Wilayah Gesikan dapat meneladan Santo Aloysius Gonzaga untuk berani menjalankan peran dan kisah hidupnya masing-masing. “Setiap orang diberi senjata untuk menjalankan peran dan kisah hidupnya. Seperti Santo Aloysius Gonzaga yang menyadari dan mau menerima kisah hidupnya di usia muda yaitu masuk Serikat Yesus. Walaupun ditolak oleh orang tuanya, dengan pendirian yang kuat Santo Aloysius Gonzaga tetap meninggalkan gelar kebangsawanan serta harta benda warisannya dan memberikannya kepada adiknya.”

Perayaan syukur itu terasa syahdu ketika para Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan menyanyikan lagu “If We Hold On Together” seusai misa. Lagu itu terasa semakin syahdu ketika anak-anak membagikan setangkai bunga mawar kepada umat yang hadir dihiasi dengan kepolosan wajah mereka. Hal ini juga sesuai dengan harapan Sista Mayangdarastri, yang merupakan Ketua OMK Wilayah Gesikan. “Aku berharap antara anak-anak, orang muda, dan bapak-bapak ibu-ibu bisa lebih kompak. Semua generasi bisa bekerjasama melayani Gereja dengan kebahagiaan dan kebersamaan”, begitu ungkapnya.

Suasana pun semakin semarak ketika seluruh umat berdiri dan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dengan serempak. Namun tentunya, sebuah rangkaian pesta nama tidak akan lengkap jika tidak ada tumpeng. Maka sebagai ungkapan syukur atas pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, rangkaian acara hari itu dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr. Seluruh umat yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum menandakan kebahagiaan.

Anak-anak pun ternyata tak ingin kalah. Mereka turut serta dalam memeriahkan pesta nama tersebut dengan mempersembahkan lagu “Glory-Glory Halleluya”, “Happy Ya Ya Ya”, “Mars Pendampingan Iman Anak (PIA) Paroki Santa Maria Assumpta Gamping”, “Cuit Cuit Cuit Pam Pam Pam”, serta “Hari Ini Harinya Tuhan”. Kelima lagu tersebut mereka bawakan dengan semangat dan penuh sukacita. Untuk itu demi meningkatkan semangat anak-anak, mereka diberi bingkisan cantik.

Akhirnya, menutup perayaan pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, seluruh umat berkumpul dan menyantap bubur ayam serta es dawet di halaman kapel. Mereka menikmatinya dengan kebersamaan dan persaudaraan yang hangat. “Ya semoga kapel umatnya semakin bersemangat dalam melayani Tuhan dan sesama, juga anak-anak semakin semangat dalam hidup menggereja, sehingga imannya kuat, hidup dan berbuah”, kata Ibu Suprihatin (salah satu umat lingkungan Santa Veronika Bantulan) ketika ditanya harapan bagi Wilayah Gesikan ke depannya.

1,626 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Di Rumah Kudus-Mu

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Alunan gending gamelan

Bersanding dengan bunyi nyanyian tembang Gereja

Serta orang-orang yang beranjak dari tempat duduknya

Bersiap menyambut rombongan suci

Jelmaan Sang Ilahi dan mereka yang setia mendampingi

 

Hati ini tenteram

Ketika taubat datang lewat seruannya

Dari Dia, yang Mulia atas segala Raja

Pemilik alam Semesta

Tuhan Yesus yang mengasihi tiada batas

 

Sabda-Nya mengilhami akal

Ribuan makna yang cukup menjadi bakal hidup rohaniku

Untuk selalu hidup dalam damai sukacita

Namun tetap penuh kasih dan peduli pada mereka

yang ratapan serta tangis air mata sudah menjadi hal yang tak lagi asing

 

Dia, memberiku tubuh-Nya yang kekal

Dalam bentuk roti bundar tanpa ragi

Pada sakramen ekaristi yang suci

Puncak sebuah keagungan

Sekaligus kilas balik malam terakhir-Mu sebagai insan yang akan selalu kami kenang

 

Jika umurku panjang, izinkan aku untuk selalu datang dan bertemu dengan-Mu Tuhan, di rumah-Mu yang kudus.

1,555 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,128 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Nyala Nyawa Katolik Dari Jantung Mataram

THS THM

Gemuruh langkah prajurit Nusantara tak lagi dapat kita dengar, namun hal itu bukan berarti lajunya berhenti dimakan jaman. Indonesia didiami oleh berbagai macam suku bangsa yang berbeda satu dengan yang lain. Menghadapi pola kehidupan yang selalu berubah, lahirlah Pencak Silat sebagai cara masyarakat nusantara menghadapi perubahan jaman sekaligus sebagai bentuk perlindungan diri. Pencak Silat kini tak hanya digemari sebagai pegangan pribadi, tetapi budaya ini telah berkembang menjadi salah satu olah raga bela diri yang banyak diminati, bahkan kiprahnya di kancah internasional bisa dibilang sukses menyamai keberadaan karate, judo, tae kwon do, dan berbagai seni bela diri dari belahan bumi lainnya.

Di Indonesia sendiri, seni beladiri Pencak Silat berkembang dihampir seluruh daerah. Dari tanah Jawa, tak bisa dipungkiri bahwa Pencak Silat Mataram Kuno adalah salah satu aliran Pencak Silat yang tertua di Indonesia. Mengutamakan gerak ritmis yang lembut, Pencak Silat Mataram Kuno menyembunyikan gerak mematikan dalam setiap keindahan geraknya. Namun apa jadinya bila gerak Pencak Silat mematikan ini dipadukan dengan ajaran dan iman Katolik? Berdoa sambil memukul? Memuji Allah sambil memasang kuda-kuda? Tentunya hal ini menjadi lebih menarik untuk dibahas.

Adalah seorang Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang memprakarsai didirikannya Organisasi Pencak Silat berlandaskan iman Katolik yang kini dikenal dengan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria. Beliau adalah pendekar yang berguru langsung pada garis Pencak Silat Mataram Kuno. pada waktu itu Pencak Silat digunakan sebagai pertahanan dalam melawan penjajahan serta pendudukan Belanda dan Jepang. Kemudian setelah Beliau belajar di Seminari, Beliau diminta untuk melatih Pencak Silat kepada para seminaris. Bukan tanpa alasan, pelatihan Pencak Silat bagi para seminaris ini dimaksudkan untuk sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air, rasa hormat pada negara (mengingat Pencak Silat telah berjuang bersama tekad dan semangat dalam meraih kemerdekaan) dan pengimanan akan wafat dan kebangkitan-Nya seperti yang dinyatakan secara jelas dalam semboyannya yaitu Pro Patria et Ecclesia yang berarti untuk Tanah Air dan Gereja. Didirikan pada 10 November 1985, berkat usaha 11 seminaris didikan Frater Hadiwijoyo.

THS-THM tersebar dan meluas bersamaan dengan keprihatinan Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang melihat bahwa pergerakan remaja gereja pada waktu itu sangat memprihatinkan. Maka pada waktu itulah Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. bersama para dewan pendiri memutuskan untuk terjun dalam pelayanan gereja dengan pencak silat sebagai ujung tombaknya. Hal ini membuktikan bahwa THS-THM merupakan nyala nyawa Katolik dalam kerasulan awam.

THS-THM sendiri dibentuk oleh rohaniwan Katolik dan kaum awam Katolik secara mandiri dengan tidak berafiliasi pada salah satu organisasi politik manapun, memiliki sifat kekeluargaaan, persaudaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dengan semangat Katolik. Memiliki motto Fortiter In Re, Suaviter In Modo yang berarti kokoh kuat dalam prinsip, luwes lembut cara mencapainya. Menjadikan THS-THM sebagai sarana kerasulan awam yang menjanjikan. Salah satu pembeda THS-THM dengan perguruan yang lain adalah penggunaan stagen sebagai sabuk pada pakaiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat akan sosok ibu yang telah bertaruh nyawa serta tenaga dalam mendidik dan membesarkan kita, melingkar di pinggang sebagai perlambang sosok ibu yang akan selalu melindungi kita bahkan dalam medan pertarungan sekalipun. Seragam biru juga merupakan warna khas Bunda Maria yang turut menyertai setiap langkah kita. Dalam hal latihan pun, THS-THM menyisipkan pendalaman iman disetiap kegiatannya seperti membaca kitab suci, mengadakan retret atau pelayanan khusus bagi gereja. Sumber kekuatan utama THS-THM selain dari segi fisik juga didapat dari keyakinan pada Allah Tritunggal Maha Kudus, menyisipkan doa dalam gerak penghormatan, mendaraskan doa dalam setiap helaan nafas di tiap gerakan Pencak Mataram Kuno, memberikan tenaga tersendiri bagi para anggotanya.

THS-THM kini berkembang di seluruh daerah Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, THS-THM berdiri di enam paroki, yaitu Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Paroki Santo Yakobus Klodran, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Paroki Administratif Tyas Dalem Macanan, Paroki Kristus Raja Baciro, dan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Ditambah Unit Latihan Khusus Sanata Dharma, Atma Jaya, dan ranting Nitiprayan. THS-THM terus berupaya dalam mendidik anggotanya menjadi kader-kader militan bagi gereja dan tanah air, sekaligus mengharapkan keterlibatan remaja untuk lebih mengenal budayanya, dan kembali merasakan hadirnya Pencak Silat ditengah-tengah maraknya arus modernisasi yang semakin memanjakan kita. Menjadi penjaga nyala nyawa Katolik dari jantung Mataram diseluruh Nusantara.

3,523 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Renungan Hari Senin 16 April 2018 (Pekan Paskah III)

Yesus

Bacaan Liturgi Senin, 16 April 2018, Hari Biasa Pekan Paskah III

Bacaan Pertama : Kis 6 : 8-15

Mereka tidak sanggup melawan hikmat Stefanus dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.

Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Anggota-anggota jemaat ini adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria Mereka datang bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Aia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan, “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.”Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; maka mereka menyergap Stefanus, lalu menyerahkan dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.

Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata, “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat. Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.”Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.


Read More

1,759 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

1,635 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini