Selamat Ulang Tahun, Aloysius Gonzagaku!

ultah wilayah gesikan

Minggu (24/6), Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan merayakan pesta nama, tepat pada Hari Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Perayaan syukur itu diawali dengan misa mingguan seperti biasanya. Dalam misa mingguan itu, Romo Martinus Joko Lelono, Pr memberi pesan dalam khotbahnya agar seluruh umat di Wilayah Gesikan dapat meneladan Santo Aloysius Gonzaga untuk berani menjalankan peran dan kisah hidupnya masing-masing. “Setiap orang diberi senjata untuk menjalankan peran dan kisah hidupnya. Seperti Santo Aloysius Gonzaga yang menyadari dan mau menerima kisah hidupnya di usia muda yaitu masuk Serikat Yesus. Walaupun ditolak oleh orang tuanya, dengan pendirian yang kuat Santo Aloysius Gonzaga tetap meninggalkan gelar kebangsawanan serta harta benda warisannya dan memberikannya kepada adiknya.”

Perayaan syukur itu terasa syahdu ketika para Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan menyanyikan lagu “If We Hold On Together” seusai misa. Lagu itu terasa semakin syahdu ketika anak-anak membagikan setangkai bunga mawar kepada umat yang hadir dihiasi dengan kepolosan wajah mereka. Hal ini juga sesuai dengan harapan Sista Mayangdarastri, yang merupakan Ketua OMK Wilayah Gesikan. “Aku berharap antara anak-anak, orang muda, dan bapak-bapak ibu-ibu bisa lebih kompak. Semua generasi bisa bekerjasama melayani Gereja dengan kebahagiaan dan kebersamaan”, begitu ungkapnya.

Suasana pun semakin semarak ketika seluruh umat berdiri dan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dengan serempak. Namun tentunya, sebuah rangkaian pesta nama tidak akan lengkap jika tidak ada tumpeng. Maka sebagai ungkapan syukur atas pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, rangkaian acara hari itu dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr. Seluruh umat yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum menandakan kebahagiaan.

Anak-anak pun ternyata tak ingin kalah. Mereka turut serta dalam memeriahkan pesta nama tersebut dengan mempersembahkan lagu “Glory-Glory Halleluya”, “Happy Ya Ya Ya”, “Mars Pendampingan Iman Anak (PIA) Paroki Santa Maria Assumpta Gamping”, “Cuit Cuit Cuit Pam Pam Pam”, serta “Hari Ini Harinya Tuhan”. Kelima lagu tersebut mereka bawakan dengan semangat dan penuh sukacita. Untuk itu demi meningkatkan semangat anak-anak, mereka diberi bingkisan cantik.

Akhirnya, menutup perayaan pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, seluruh umat berkumpul dan menyantap bubur ayam serta es dawet di halaman kapel. Mereka menikmatinya dengan kebersamaan dan persaudaraan yang hangat. “Ya semoga kapel umatnya semakin bersemangat dalam melayani Tuhan dan sesama, juga anak-anak semakin semangat dalam hidup menggereja, sehingga imannya kuat, hidup dan berbuah”, kata Ibu Suprihatin (salah satu umat lingkungan Santa Veronika Bantulan) ketika ditanya harapan bagi Wilayah Gesikan ke depannya.

1,626 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,128 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Indahnya Toleransi, Sahur Bareng Di Gereja

Sahur Keliling Bersama Dra. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Hum

Mempererat tali persaudaraan antar iman di lingkungan masyarakat dan menangkal radikalisme menjadi tujuan utama dari sahur keliling bersama Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum yang diadakan di Gereja Santa Maria Assumpta Gamping Sabtu (26/05). Acara ini merupakan acara tahunan yang sudah keempat kalinya diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Menyapa orang-orang di berbagai tempat dan mempertahankan semangat Gusdur untuk menjaga keragaman dan kerukunan masyarakat berbagai agama,” ujar Martinus Joko Lelono, Pr selaku narahubung. Hasil pertimbangan rapat yang panjang memutuskan bahwa tahun ini Kabupaten Sleman menjadi tempat penyelenggara acara tahunan tersebut.

“Acara kali ini dilaksanakan di halaman gereja merupakan salah satu upaya untuk menjaga tali persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama,” ujar Ibu Sinta kepada media di akhir acara sahur keliling.

Acara sahur keliling diadakan atas kerjasama berbagai pihak di Yogyakarta, seperti Jaringan Gusdurian, ANBTI, Banzer, Gereja Gamping, Pemuda Gamping Tengah RW 15, dan berbagai paguyuban lain. Kerjasama tersebut membuahkan bantuan dari segi tempat acara, konsumsi sahur, dan juga keamanan saat acara berlangsung.

Acara sahur keliling dibuka pukul 02.00 WIB dengan Hadrohan dari Gusdurian sembari menunggu kedatangan Ibu Sinta. Acara ini mengundang banyak tamu dari berbagai tingkat, seperti kepala desa hingga camat dan lurah dari lingkungan sekitar gereja. Bahkan, beberapa warga negara asing turut datang menyaksikan kegiatan ini. Selain itu, berbagai tokoh seni dan tokoh penting lainnya turut memeriahkan acara. Salah satunya adalah Yunan Helmi dan Risca Ayu, pencipta dan penyanyi lagu-lagu perdamaian yang menyumbangkan dua judul lagu perdamaian milik mereka.

“Target utama acara ini masyarakat lintas iman, para pemuka agama, dan warga sekitar khususnya yang membutuhkan” ujar Romo Martinus Joko Lelono. Menurut data milik panitia, seluruh masyarakat boleh bergabung namun hanya dibatasi tujuh ratus peserta saja. Tak hanya peserta yang lintas iman, rupanya panitia acara ini juga dilakukan oleh anak muda dan orang tua dari seluruh lapisan masyarakat dan juga berbagai agama.

Acara sahur keliling bersama istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga didukung oleh Keuskupan Agung Semarang. “Bagi Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, acara ini bisa sekaligus menjadi kegiatan Pra Srawung yang puncaknya nanti akan didakan bulan Oktober di Semarang,” ujar Fransiskus Wahyu, panitia dari OMK Gamping.

Indonesia raya dikumandangkan setelah kedatangan Ibu Sinta di gereja. Sambutan dan doa bersama dilakukan sebelum acara sahur dimulai. Kegiatan ini diiringi oleh lagu-lagu kebangsaan yang dimainkan dengan nuansa jawa dari grup musik lingkungan St. Agustinus Gancahan. Dilanjutkan dengan dialog bersama Ibu Sinta mengenai keberagaman, persaudaraan, dan anti radikalisme, acara ini ditutup dengan penandatanganan prasasti. Berikut isi yang tertulis dalam prasasti:

Kemanusiaan itu satu kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadat, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar

Prasasti

 

Tepat saat adzan subuh berkumandang, acara sahur keliling bersama Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum diakhiri.

“Kegiatan ini berhasil mengeratkan tali persaudaraan kita sebagai warga Yogyakarta yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama,” ujar Fransiskus Wahyu.

1,990 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Menemui Tuhan

menemui Tuhan

Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita. Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita.

Samuel dan Kisah Hidupnya

Samuel adalah seorang yang kisahnya unik. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah lama menikah tetapi tidak mempunyai anak. Setelah doa di bait Allah dan doa dari Eli, Hana, ibu dari Samuel mengandung dan melahirkan Samuel ini. Saat masih kanak-kanak, Samuel ini sudah diserahkan kepada Allah di bait Allah. Ia mengabdi di sana. Tak disangka-tak dinyana, rupanya Samuel inilah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim bagi bangsa Israel. Ialah yang nantinya menghantar bangsa ini menuju masa kerajaan. Peristiwa panggilan dia sebagai nabi diceritakan dengan sangat indah. Ia sendiri tidak tahu siapa yang memanggil dia ketika ia tertidur. Sangkanya yang memanggil adalah Eli, ternyata Allah sendirilah yang memanggil Dia. Di sepanjang hidupnya, ia akhirnya menjadi nabi Allah. Kata-kata yang terkenal dari dia adalah, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Ia akhirnya menerima tugasnya sebagai nabi. Dialah yang diminta Tuhan untuk mengurapi raja bagi bangsa Israel, mulai dari Saul sampai dengan Daud. Ia mengalami masa-masa sulit ketika rakyat tidak  setia kepada Tuhan dan meminta raja, juga saat raja menjadi tidak setia kepada Allah.

Meski ia mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak mudah, Samuel menunjukkan bagaimana ia setia untuk terus memahami kehendak Allah. Ia menjadi seorang yang dikenal sampai dengan hari ini. Sebagai manusia, ia tidak sempurna tetapi kesediaannya mendengarkan Allah membuat dia mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.

Menemui Tuhan

Kisah Samuel mengingatkan saya akan kisah di Injil yang berbicara tentang dua orang murid Yesus yang pertama. Saya mengambil perikop ini sebagai motto tahbisan imam. Kata-kata yang saya kenang adalah, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana menemui Tuhan. Tuhan tidak ditemui hanya dalam imaginasi. Tuhan ditemui di dalam jatuh bangun yang kita jalani. Tuhan ditemui di dalam tangis dan tawa yang terus kita lalui. Tuhan tahu bahwa manusia tidak sempurna dan bisa sangat mungkin jatuh. Namun, Tuhan memberi syarat agar kita bisa melihat di mana Ia tinggal yaitu dengan “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Kita diajak untuk mengikuti Dia. Kata mengikuti Dia menjadi tidak selalu mudah karena mengikuti Yesus berarti memaafkan orang yang menyakiti kita; mengikuti Yesus kadang-kadang harus meminta maaf sementara gengsi kita terlalu besar; mengikuti Yesus berarti berkorban untuk kepentingan orang lain; mengikuti Yesus berarti menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa; mengikuti Yesus berarti juga bisa tertawa oleh kebahagiaan orang lain, meski nasib kita sendiri tidak seperti yang dialami oleh orang lain.

Kata “marilah dan kamu akan melihatnya’ menghantar saya untuk merenungkan secara lebih mendalam apa artinya menemui Tuhan. Saya mengartikan bahwa  Tuhan ditemukan secara berbeda-beda dalam diri setiap orang. Seornag mungkin bisa menemukan Tuhan di antara senyuman manis seorang gadis, atau seorang bapak menemukan Tuhan di dalam senyuman lucu dari anak bayinya. Seorang suami bisa jadi menemukan Tuhan di dalam tangis dan pinta istrinya yang sedang hamil. Seorang pastur mungkin menemukan Tuhan di dalam senyum yang terkembang dari seornag yang datang untuk mengaku dosa.

Selamat menemui Tuhan di dalam hidup anda masing-masing. Saya punya cara saya, anda pun punya cara anda masing-masing. Mungkin pula bukan kita yang menemui Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menyapa kita di sela-sela kesibukan hidup yang kita lalui. Semoga kita cukup peka untuk bisa menangkap kehadirannya.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,515 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Pertemuan Pendamping PIA Paroki Gamping

Pertemuan Pendamping PIA Paroki Gamping

Berawal dari keprihatinan, melihat kegiatan PIA (Pendamping Iman Anak) yang hanya terlihat aktif berkegiatan di paroki pada saat Napas (Natal dan Paskah). Maka, diadakanlah pertemuan PIA guna untuk mencari solusi akan keprihatinan tersebut. Pertemuan tersebut telah terlaksana dengan lancar pada hari Minggu, 14 Januari 2018 di Gedung Pastoral Paroki dan dihadiri oleh sekitar 15 perwakilan pendamping dari masing-masing lingkungan dan wilayah di Paroki Maria Assumpta Gamping.

Pertemuan PIA tersebut juga dihadiri oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr. kemudian melakukan pendataan lingkungan dan wilayah mana saja yang pada pendampingnya aktif mengadakan kegiatan dan lingkungan mana saja yang belum aktif. Hasil pendataan diperoleh bahwa ada beberapa lingkungan yang rutin aktif mengadakan kegiatan pendampingan iman anak, atau sering disebut Sekolah Minggu, seperti Lingkungan Santo Agustinus, Santa Maria, Santo Georgius, Santo Ludovikus (Wilayah Balecatur), ada juga Lingkungan Santo Yusuf (Wilayah Gamping), Lingkungan Santa Ceacilia Onggobayan (Wilayah Banyuraden), Lingkungan Santo Hieronimus, Santo Yohanes (Wilayah Gesikan), Lingkungan Santo Mateus, Santa Monica (Wilayah Mejing). Namun, di sisi lain ada juga beberapa lingkungan yang belum rutin aktif mengadakan kegiatan pendampingan seperti Lingkungan Santo Paulus, Santo Thomas Aquinas, Santo Yustinus Martir (Wilayah Sidoarum), dan beberapa lingkungan di wilayah Gamping.

Pertemuan PIA tersebut juga memunculkan pendapat antara pendamping PIA yang hadir. Ada beberapa kesulitan yang dihadapi oleh pendamping yang rutin aktif melakukan pendampingan dan juga yang belum aktif melakukan pendampingan. Kesulitan tersebut seperti kurangnya dukungan orang tua anak yang bersangkutan dan juga warga lingkungan untuk kegiatan Sekolah Minggu. Para pendamping merasa sudah berusaha untuk selalu memberikan info baik kepada orang tua anak maupun kepada umat, namun kurang ada tanggapan yang baik, dan bila ada yang menanggapi hanya orang-orang yang sama saja seperti sebelumnya. Kesulitan yang dihadapi juga dalah kurangnya komunikasi dan kerjasama antara pendamping dan warga lingkungan, sehingga para pendamping seringkali harus berusaha ekstra untuk mempersiapkan semua keperluan pendampingan. Selain itu, kesulitan yang terjadi adalah di lingkungan yang memiliki banyak anak untuk didampingi, namun kekurangan tenaga pendamping atau bahkan tidak ada sama sekali pendamping.

Ada muncul pertanyaan berkaitan dengan kesulitan yang ditemui selama pendampingan anak-anak. Seperti bentuk pendampingan macam apa atau seperti apa yang menarik untuk diberikan kepada anak-anak? Selain itu, bagaimana menumbuhkan kerinduan pada anak untuk berkumpul? Karena selama ini yang terjadi adalah tidak adanya alasan untuk berkumpul. Salah satu solusi yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah dengan menghidupkan kembali Sekolah Minggu, sehingga itu menjadi alasan anak-anak dapat tertarik untuk berkumpul bersama dengan teman-teman seimannya dan meninggalkan dunia gadget-nya.

Romo Joko menyampaikan dalam pertemuan tersebut mengenai keprihatinannya bahwa dengan melihat kondisi Gereja saat ini kurang hidup tanpa kehadiran anak-anak. Perkembangan jaman sekarang ini membuat anak-anak sibuk dengan gadget-nya masing-masing tanpa ada komunikasi yang baik dengan orang tua dan orang di sekitarnya. Romo Joko juga menekankan bahwa PIA ini adalah sebagai bentuk perpanjangan tangan Romo untuk dapat merangkul anak-anak. Keterbatasan Romo yang tidak mungkin merangkul ribuan umat di Paroki Santa Maria Assumpta Gamping ini membutuhkan bantuan dari banyak kalangan. Terlebih dengan adanya PIA diharapkan dapat membantu Romo dalam melakukan pendampingan iman bagi anak-anak usia dini.

Permasalahan keprihatinan tersebut memunculkan banyak ide dari para pendamping yang hadir. Seperti ide yang disampaikan Romo Joko mengenai usulan untuk setiap minggu ketiga pada misa kedua dijadwalkan untuk petugas koor adalah dari anak-anak PIA. Ide lain yang muncul adalah dengan melakukan penggabungan antara lingkungan yang tidak aktif pendampingnya dengan lingkungan yang aktif. Ada juga ide yang sebenarnya sudah lama direncanakan seperti pembuatan modul untuk panduan pendampingan iman anak.

Pada akhir pertemuan, masing-masing pendamping perwakilan dari setiap lingkungan maupun wilayah yang aktif maupun yang pernah aktif melakukan kegiatan pendampingan diminta untuk membuat laporan keadaan Sekolah Minggu di wilayahnya masing-masing dan juga kegiatan apa saja yang pernah dilakukan. Harapan yang muncul adalah dengan diadakan pertemuan PIA ini dapat menggerakan kembali para pendamping dengan saling bertukar informasi antara pendamping sehingga dapat memberikan semangat dalam pelayanan.

2,880 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Mencari Kesempurnaan

mencari_kesempurnaan

Di dalam kehidupan, semua manusia pernah mengalami yang namanya kekecewaan. Harapan yang sangat besar akan kehidupan, akan keluarga, akan orang tua, akan pasangan hidup, akan pekerjaan tidak selalu selaras dengan kenyataan yang ada. Tak jarang apa yang kita dapatkan berbanding terbalik dengan apa yang kita peroleh. Kekecewaan ini bisa saja berujung kepada dendam, bisa juga berujung kepada permusuhan, berujung kepada rasa tidak terima dan macam-macam. Tetapi, iman kita mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyingkiri kenyataan. Kenyataan yang seberat apa pun perlu dihadapi. Usaha untuk beriman, usaha untuk saling memaafkan, usaha untuk terus mengupayakan perubahan hidup menjadi hal yang penting untuk diupayakan terus menerus guna menjadikan hidup lebih bermakna.

Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang membicarakan tentang kekecewaan itu adalah kisah tentang tiga raja dari Timur. Bagi tiga raja dari Timur, Yesus adalah pribadi yang dinanti. Mereka bukan hanya meunggu Yesus, tetapi mereka juga mengadakan pembelajaran atas banyak bahan untuk memahami kapan dan dimana Yesus akan lahir. Mereka berkali-kali bisa saja kecewa akan apa yang mereka cari. Mereka kehilangan bintang pedoman, bingung mencari sampai di istana Herodes (pikir mereka Yesus akan lahir di Istana), sampai-sampai mereka harus menjumpai pribadi yang mereka cari terus menerus itu di kandang domba. Tentu ini bukan yang mereka idam-idamkan, tetapi mereka tahu bahwa Sang Mesias bisa hadir di dalam bentuk yang bermacam ragam. Lebih penting daripada mempertanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa suatu hal harus terjadi, ketiga raja itu mengupayakan segala cara agar bisa berjumpa dengan Yesus, Sang Mesias, Raja yang akan datang. Saat akhirnya menjumpai Yesus dan mempersembahkan Mur, Emas dan Kemenyan, mereka sekali lagi harus kecewa karena rupanya anak ini dimusuhi oleh sang Raja Herodes. Ia hendak dibunuh oleh raja itu. Mereka bisa mempertanyakan, “Akankah raja baru ini bisa selamat?”. Sekali lagi lebih penting daripada mempertanyakan semua itu, lebih penting bagi mereka untuk mendengarkan tanda-tanda apa yang sedang terjadi dan harus mereka jalani agar bisa menjumpai dan menjaga Sang Mesias. Mereka tidak kembali ke Yerusalem, tetapi pergi lewat jalan lain. Meski hal ini penuh resiko, tetapi mereka memilihnya, karena mereka tahu bahwa jalan lain itu akan menyelamatkan Sang Mesias.

Tidak Ada Kesempurnaan Hidup

Di dunia ini, jika kita ingin mencari kesempurnaan, kita tidak akan menemukannya. Tugas kita hanyalah terus menerus menutupi satu demi satu ketidaksempurnaan yang ada agar menjadi sempurna. Berikut adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Kahlil Gibran, penyair dari Lebanon itu.
Pada suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya;”Wahai guru, bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?”
Sang guru merenung sejenak, lalu menjawab : “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah… dan jangan pernah kembali kebelakang!”
kemudian Gibran lurus di taman bunga lalu sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?” Kemudian Gibran menjawab : “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik, karena aku pikir mungkin yang didepan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi”
Sambil tersenyum sang guru berkata : “Ya… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada …”

Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang kesejatian pencarian kita akan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah hasil dari percampuran antara suka dan duka, berjuang dan bersyukur, menangis dan tertawa, memaafkan dan dimaafkan, mengampuni dan diampuni. Kalau tidak demikian, tentu orang hanya akan sampai kepada angan-angan kosong, sebab tidak ada hidup tanpa kesalahan dan kekurangan.
Menyegarkan Kembali Hidup Kita

Tidak sedikit orang di dunia ini yang hidupnya terus menerus dikuasai oleh kekecewaan-kekecewaan di masa lalu karena apa yang diidamkan tidak tercapai. Ada orang yang terus dirundung duka karena harus menikah dengan orang yang tidak dikasihi; ada yang berduka karena Tuhan mengambil orang-orang yang dicintainya; ada orang yang kecewa karena kegagalan dalam usaha; ada orang yang terus menangisi mengapa pasangannya pernah tidak setia atau dirinya sendiri perah tidak setia; ada orang yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena pernah berbuat kesalahan besar di masa lampau. Orang-orang ini terus menerus hidup di dalam suasana gelap kehidupan dan ingin terus memelihara kegelapan yang ada pada dirinya. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di dalam perasaan berdosa dan bersalah, padahal sebenarnya ia bisa memperbaiki keadaan, menyegarkan kembali kehidupannya dan melakukan perbuatan yang lain yang bisa ikut memperbaiki keadaan yang ada. Kalau manusia terus hidup dalam kegelapan, ia hanya akan menyia-nyikan kesempatan yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Ini tentu tidak seiring dengan apa yang dialami oleh ketiga raja dari timur.

Musuh dari kegelapan adalah terang. Tentang terang ini, Nabi Yesaya berkata, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes 60: 1-2). Gambaran ini adalah gambaran tentang Israel yang berkali-kali dirundung kesedihan kehidupan karena bangsa ini berkali-kali menjadi bangsa jajahan dan terus menerus harus berjuang melewati kesulitan hidupnya. Namun, Nabi Yesaya menubuatkan tentang adanya terang di depan. Guna mencapainya orang perlu melakukan apa yang dikatakan Nabi Yesaya, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”. Tentu gambaran ini mengajak kita berefleksi kembali tentang hidup kita. Tidak ada gunanya menyimpan dendam, menyimpan amarah, menyimpan kekecewaan, menyimpan gengsi, menyimpan kedukaan, karena nyatanya masa lalu tak akan pernah berubah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memperbaiki situasi, dan kembali menjadi terang. Kata bangkit menjadi penting mengingat orang-orang yang ada dalam situasi terpuruk sering-sering merasa diri tak lagi mampu bergerak. Kata menjadi terang amat penting sebab orang-orang yang merasa terpuruk sering lebih mudah mengeja kekurangan dirinya dan lupa memancarkan sinar yang daripadanya. Setiap kali ada orang yang datang kepada saya dan mengatakan tentang kekurangan-kekurangan dirinya, saya akan mengatakan, “Coba sebutkan tiga saja hal baik dari hidup anda”. Saat mengatakan keburukannya, orang ini tampak sedih, tetapi ketika mulai menyebut kebaikannya, ia mulai menyadari ada terang kebaikan di dalam dirinya. Ia berubah dari orang yang kecewa akan hidup dan mulai tahu bahwa hidupnya tidak jelek-jelek amat.

Di dalam diri seorang beriman selalu ada terang Kristus yang ingin dipancarkan di dalam kehidupan. Namun, tidak jarang orang berhenti menangisi diri dan tidak mau memancarkan terang dalam dirinya. Gereja selalu memberi kesempatan bagi kita untuk memaafkan kekurangan diri dan mulai memancarkan sinar. Setiap kali perayaan Ekaristi kita mengakui dosa dan memohon berkat. Juga setiap kali kita mengaku dosa, kita mengakui dosa kita dan memohon kekuatan untuk memperbaiki diri. Yang lebih penting bukanlah masalah mengakui yang sudah pernah dilakukan (sebab masa lalu tidak akan pernah kembali), tetapi bagaimana kita hendak memperbaiki hidup dan tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi dengan pertolongan dari Tuhan.

Selamat memulai kehidupan baru! Tuhan selalu ada untuk membantu kita mengatasi kegelapan-kegelapan di dalam kehidupan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

2,147 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini