Apa Asyiknya Misa Harian?

Misa Harian

Hingga pukul 3 pagi saya belum tidur, saya lihat hujan turun, dan hingga sekarang, pagi menjelang misa. Saya pun tanpa alasan pergi ke gereja. Karena apa? Karena misa harian itu asyik. Penasaran?

Berikut beberapa hal yang saya dapat ketika saya misa harian hari ini.

  • Bisa melihat matahari terbit.
  • Lebih dalam saat berdoa, karena suasana belum terlalu bising.
  • Jika hari sedang hujan, kita bisa melihat hujan pagi hari dan itu rasanya sangat menyejukan.
  • Jika hujan makin deras, kita bisa melihatnya lebih lama, jika kamu sedang tidak terburu-buru kegiatan lain; misal sekolah, kerja, atau masak air.
  • Jika hari sedang cerah, kita bisa mendengar suara burung pagi hari, dan itu rasanya menyenangkan.

425 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teman Yang Sebenarnya

Saat kamu mencari teman hanya berdasarkan kesenangan, kamu nggak akan pernah menemukan teman yang sebenarnya. Mungkin kamu belum menyadari, namun jika kamu sudah dewasa, sudah bekerja, melainkan menemukan orang yang dapat bekerjasama dengan kamu, kamu malah akan mendapati banyak orang yang akan menjatuhkan kamu, dan apabila kamu pada titik itu tidak memiliki teman yang sebenarnya, kamu akan benar-benar jatuh. Dan hilang harapan hidup. Apa kamu mau hidup seperti itu?

Berbanding terbalik dengan orang yang memilih pertemanan berdasarkan kepedulian, saat dijatuhkan orang lain, walaupun akan terjatuh, setidaknya ada yang mengangkatmu.

357 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Cinta Kamu dan Gereja

Cinta Kamu dan Gereja

Hujan rintik-rintik kembali mengguyur Yogyakarta siang ini. Aku hanya merapal doa dalam hati agar segera reda. Aku tak ingin hari mingguku ternoda. Hari minggu memang hari yang paling kutunggu. Bukan karena sekolahku libur, namun karena aku akan bertemu dengan seseorang.

“Yess!” seruku girang ketika tahu hujan berhenti tepat satu jam sebelum misa sore di Gereja Santa Marria Assumpta Gamping dimulai. Aku bergegas mengguyur badanku dan membuat aromanya menjadi semerbak wangi. Berdiri di depan cermin, di tanganku sudah tergenggam sebuah kotak peralatan make-up.

Benar, rasa suka pada seseorang memang buta hingga aku melakukan segalanya untuk mendapatkan perhatian matanya. Perlahan kukeluarkan satu persatu peralatan make up itu. Sebuah benda pipih lembut kuusapkan pelan diwajahku dengan merata. Berikutnya menyusul sebuah pensil berwarna coklat gelap yang terukir di alisku. Diakhiri oleh cairan berwarna merah yang teroles di bibirku.

“Sempurna,” ujarku berdiri di depan cermin sembari memandangi wajah yang kini telah tertutup oleh benda-benda kimiawi. Aku menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya aku berlaku seperti ini. Lebih tepatnya semenjak aku mulai bertemu dengannya dan perasaan ini menyusup hatiku.

Aku tertegun sesaat setelah jam menunjukkan lima belas menit waktu yang tersisa sebelum misa dimulai. Roda motorku beradu cepat dengan jalanan yang masih basah. Hatiku berdebar kencang. “Woy, kamu mau ke gereja, bukan ketemu pacar!” seru hatiku beradu dengan pikiranku yang sibuk membayangkannya.

Melangkah memasuki pintu utama gereja, mataku menjelajah mencari keberadaanya. Jangan bayangkan aku akan duduk disampingnya! Tentu saja kuberi jarak satu atau dua bangku untuk aku duduk agar tetap bisa memperhatikannya. Aku memang hanya bisa menatapnya dari jauh.

Dia, pemuda yang menurutku sangat tampan. Hampir setiap hari wajahnya berhasil masuk menjadi bunga tidurku. Rahangnya tegas, alisnya yang tebal, matanya yang bercahaya, dan jambulnya sungguh mempesona. “Teng,” bunyi lonceng tanda misa dimulai berhasil membuatku terlonjak. Ah tidak! Membayangkannya saja membuatku lupa bahwa aku sedang di gereja.

Homili yang seharusnya kudengarkan, nyatanya malah sibuk kugunakan untuk mengaguminya. Aku membayangkan bagaimana jika aku mengikuti misa dengan duduk berdua dengannya. Ah, paling nanti aku pingsan karena tak sanggup menahan pesonanya yang begitu kuat untukku. Tapi boleh lah, sedikit sentuhan lembut di tangan ketika tak sengaja bersentuhan. Pikiran tentangnya terus menghantuiku hingga akhirnya homili yang hanya menjadi angin lalu pun usai.

Misa berakhir, dia menghampiri teman-temannya. Mungkin untuk sekedar bersama ataupun basa basi belaka. Sedangkan aku, berjalan lambat menuju taman doa. Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu menyukainya, bahkan hingga aku mencintainya. Hampir di setiap doaku, nama itu terucap hanya untuk permohonan agar aku bisa memilikinya.

Waktu berjalan cepat. Rutinas yang kulakukan setiap hari minggu tak membuatku dekat dengannya sedikitpun. Mencari jadwalnya ke gereja, mengikuti kegiatan-kegiatannya, atau hingga meluangkan sedikit waktu hanya untuk melihat senyumnya bersama teman-teman dekatnya. Seakan percuma, dia tak melihat ke arahku. Bahkan aku tak yakin bahwa di mengenaliku ataupun sekedar tahu namaku.

Jengah, lelah, bosan, dan segala hal lainnya mulai berkecamuk. Terkadang aku berpikir, apakah aku hanya sekedar menggaguminya. Namun, mengapa untuk melepaskannya harus sesulit ini? Apakah mengejarnya memang terlalu menyakitkan untuk dilakukan? Bertepuk sebelah tangan memang melelahkan, dan sekarang aku benar-benar lelah untuk selalu menjadi penggagumnya saja tanpa bisa menyentuhnya lebih dekat.

Kabar burung pun sampai hingga telingaku. Ah sudah! aku ingin melupakannya. Toh ternyata dia milik orang lain. Buat apa aku menarik perhatiannya lagi seperti yang selama ini telah kulakukan. Mengapa aku memaksakan apa yang memang tak bisa aku dapatkan. Paling tidak aku bersyukur masih diberi kesempatan menatap ciptaan-Nya yang indah meski dari kejauhan.

Teruntuk kamu, pada akhirnya aku cuma ngikutin waktu, ngikutin suara hatiku, ngikutin setiap gerak-gerikmu, karena aku cinta kamu dan gereja.

1,529 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Nyala Nyawa Katolik Dari Jantung Mataram

THS THM

Gemuruh langkah prajurit Nusantara tak lagi dapat kita dengar, namun hal itu bukan berarti lajunya berhenti dimakan jaman. Indonesia didiami oleh berbagai macam suku bangsa yang berbeda satu dengan yang lain. Menghadapi pola kehidupan yang selalu berubah, lahirlah Pencak Silat sebagai cara masyarakat nusantara menghadapi perubahan jaman sekaligus sebagai bentuk perlindungan diri. Pencak Silat kini tak hanya digemari sebagai pegangan pribadi, tetapi budaya ini telah berkembang menjadi salah satu olah raga bela diri yang banyak diminati, bahkan kiprahnya di kancah internasional bisa dibilang sukses menyamai keberadaan karate, judo, tae kwon do, dan berbagai seni bela diri dari belahan bumi lainnya.

Di Indonesia sendiri, seni beladiri Pencak Silat berkembang dihampir seluruh daerah. Dari tanah Jawa, tak bisa dipungkiri bahwa Pencak Silat Mataram Kuno adalah salah satu aliran Pencak Silat yang tertua di Indonesia. Mengutamakan gerak ritmis yang lembut, Pencak Silat Mataram Kuno menyembunyikan gerak mematikan dalam setiap keindahan geraknya. Namun apa jadinya bila gerak Pencak Silat mematikan ini dipadukan dengan ajaran dan iman Katolik? Berdoa sambil memukul? Memuji Allah sambil memasang kuda-kuda? Tentunya hal ini menjadi lebih menarik untuk dibahas.

Adalah seorang Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang memprakarsai didirikannya Organisasi Pencak Silat berlandaskan iman Katolik yang kini dikenal dengan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria. Beliau adalah pendekar yang berguru langsung pada garis Pencak Silat Mataram Kuno. pada waktu itu Pencak Silat digunakan sebagai pertahanan dalam melawan penjajahan serta pendudukan Belanda dan Jepang. Kemudian setelah Beliau belajar di Seminari, Beliau diminta untuk melatih Pencak Silat kepada para seminaris. Bukan tanpa alasan, pelatihan Pencak Silat bagi para seminaris ini dimaksudkan untuk sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air, rasa hormat pada negara (mengingat Pencak Silat telah berjuang bersama tekad dan semangat dalam meraih kemerdekaan) dan pengimanan akan wafat dan kebangkitan-Nya seperti yang dinyatakan secara jelas dalam semboyannya yaitu Pro Patria et Ecclesia yang berarti untuk Tanah Air dan Gereja. Didirikan pada 10 November 1985, berkat usaha 11 seminaris didikan Frater Hadiwijoyo.

THS-THM tersebar dan meluas bersamaan dengan keprihatinan Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang melihat bahwa pergerakan remaja gereja pada waktu itu sangat memprihatinkan. Maka pada waktu itulah Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. bersama para dewan pendiri memutuskan untuk terjun dalam pelayanan gereja dengan pencak silat sebagai ujung tombaknya. Hal ini membuktikan bahwa THS-THM merupakan nyala nyawa Katolik dalam kerasulan awam.

THS-THM sendiri dibentuk oleh rohaniwan Katolik dan kaum awam Katolik secara mandiri dengan tidak berafiliasi pada salah satu organisasi politik manapun, memiliki sifat kekeluargaaan, persaudaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dengan semangat Katolik. Memiliki motto Fortiter In Re, Suaviter In Modo yang berarti kokoh kuat dalam prinsip, luwes lembut cara mencapainya. Menjadikan THS-THM sebagai sarana kerasulan awam yang menjanjikan. Salah satu pembeda THS-THM dengan perguruan yang lain adalah penggunaan stagen sebagai sabuk pada pakaiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat akan sosok ibu yang telah bertaruh nyawa serta tenaga dalam mendidik dan membesarkan kita, melingkar di pinggang sebagai perlambang sosok ibu yang akan selalu melindungi kita bahkan dalam medan pertarungan sekalipun. Seragam biru juga merupakan warna khas Bunda Maria yang turut menyertai setiap langkah kita. Dalam hal latihan pun, THS-THM menyisipkan pendalaman iman disetiap kegiatannya seperti membaca kitab suci, mengadakan retret atau pelayanan khusus bagi gereja. Sumber kekuatan utama THS-THM selain dari segi fisik juga didapat dari keyakinan pada Allah Tritunggal Maha Kudus, menyisipkan doa dalam gerak penghormatan, mendaraskan doa dalam setiap helaan nafas di tiap gerakan Pencak Mataram Kuno, memberikan tenaga tersendiri bagi para anggotanya.

THS-THM kini berkembang di seluruh daerah Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, THS-THM berdiri di enam paroki, yaitu Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Paroki Santo Yakobus Klodran, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Paroki Administratif Tyas Dalem Macanan, Paroki Kristus Raja Baciro, dan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Ditambah Unit Latihan Khusus Sanata Dharma, Atma Jaya, dan ranting Nitiprayan. THS-THM terus berupaya dalam mendidik anggotanya menjadi kader-kader militan bagi gereja dan tanah air, sekaligus mengharapkan keterlibatan remaja untuk lebih mengenal budayanya, dan kembali merasakan hadirnya Pencak Silat ditengah-tengah maraknya arus modernisasi yang semakin memanjakan kita. Menjadi penjaga nyala nyawa Katolik dari jantung Mataram diseluruh Nusantara.

3,523 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

1,635 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Pengabdianku Untuk-Mu

misdinar

Kira-kira apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar orang mengucapkan Gereja Gamping? Entah mengapa, aku merasa seperti flashback pada masa kecilku saat aku iseng membuka web Gereja Gamping yang baru ini. Tak terasa pun aku sudah selama hampir 19 tahun selalu berkecimpung di Gereja Gamping. Sangat banyak lika-liku yang dirasakan, dan pastinya banyak suka duka yang sudah tertampung di kehidupanku.

Kadang saat aku misa mingguan di gereja dan memandang sekeliling, aku merasa bahwa secara fisikpun gerejaku sudah melalui banyak perubahan. Dulu saat masih kecil, mungkin seukuran SD, ketika sudah mulai diterapkan berkat anak maju satu persatu. Akulah anak kecil yang selalu ingin menjadi nomor satu mendapat berkat dari Imam, dan saat aku kembali, aku mendapatkan apresiasi dari orangtuaku.

Kemudian, langkah lain yang membuatku selalu bahagia di gereja adalah dulu kakakku adalah seorang misdinar, aku selalu bangga, senang melihat kakakku dapat berinteraksi langsung dengan imam, memegang alat-alat liturgi, menggunakan baju khusus yang kini aku tau namanya. Saat melihat kakakku tugas, dalam hati aku membatin “Suatu saat nanti aku yang ada diatas sana, aku yang menggantikan mereka dan melakukan seperti apa yang kakakku lakukan. Aku ingin seperti mereka.” Hingga akhirnya, aku sangat semangat ikut pelajaran komuni pertama, dan mendaftar menjadi anggota misdinar.

Itu adalah langkah pertamaku untuk berkontribusi langsung pada gereja. Aku masih teringat saat aku selalu rajin tugas tanpa memandang siapa yang menemaniku, siapa imamnya. Bahkan aku dulu paling semangat untuk tugas misa minggu pagi yang waktu itu masih jam 5 pagi. Kadang aku nekat untuk tugas 2 kali karena masih sangat bersemangat untuk bertugas kala itu. Di misdinar pula, aku bisa menemukan sabahat-sahabat baik yang sekarang sudah sukses menjadi calon-calon penerus bangsa. Kadang terharu sendiri mengingatnya. Misa hari raya merupakan hal yang paling diincar misdinar, bahkan hingga saat ini. Mungkin karena saat tugas misa hari raya, bisa dilihat banyak orang dari luar sampai dalam gereja, menjadi memiliki kesan istimewa tersendiri. Dulu hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika tugas hanya bisa di nomor satu saja, padahal teman-temanku sudah merasakan di berbagai posisi. Begitulah nasib pendek dan kecil.

Hingga suatu hari aku dipercaya untuk mendapatkan kesempatan lebih dari anggota misdinar. Aku merasa menjadi anak yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini, mendapat teman baru, mempelajari bagaimana mencari anggota misdinar baru, mengelola pertemuan rutin, mempersiapkan hari raya, hingga menyiapkan event untuk anggota misdinar dalam rangka mengisi waktu liburan sekolah sekaligus mengakrabkan. Mungkin bisa jadi juga sebagai bentuk rehat untuk anggota karena sudah terus-menerus tugas misa.

Sungguh, mengabdi pada gereja sendiri itu sangat menyenangkan, mendapatkan kepuasan diri sendiri. Selain bisa menjadi dasar kita untuk belajar organisasi, banyak hal-hal positif yang bisa dijadikan pengalaman. Permasalahan dalam organisasipun bisa menjadikan kita belajar untuk memecahkan masalah itu, sehingga ketika dalam dunia nyata lainnya nanti, jika menemukan masalah yang sama, sudah bisa menyelesaikannya.

Terakhir, semoga Gereja Gamping terus berkembang mengikuti jaman, dan bisa menarik kawula-kawula muda untuk turut ambil bagian mengabdi selama waktu memang masih ada, dan kesempatan selalu hadir di setiap waktunya.

Sekian. Berkah Dalem untuk Anda sekalian yang sudah berkenan untuk membaca.

5,343 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Orang Muda Katolik Menurutku

AYD 2017

Sebelum memulai untuk membaca baris pertama, mungkin lebih baik aku mengatakan terlebih dahulu bahwa apa yang telah dituangkan dibawah ini merupakan hasil curahan hatiku pribadi melalui indera perasaan, penglihatan, dan pemikiranku.

Di tengah hingar-bingar masa muda, masih terdapat sekelompok anak muda yang mau menjadi pelita di keheningan malam. Ya, mereka menamai diri mereka sebagai Orang Muda Katolik atau yang biasa dikenal dengan OMK. Seharusnya mereka tak sebatas definisi yang dapat dibaca dengan mudah di internet.  Seharusnya mereka juga bukan sebuah pelarian dan pelampiasan dari kegiatan ataupun dari keluarga yang ada di rumah. Terkadang orang berpikir bahwa Orang Muda Katolik hanya merupakan pelarian dari pekerjaan di rumah? Namun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka lupa bahwa Orang Muda Katolik adalah penyangga Gereja yang nantinya akan dibutuhkan ketika mereka sudah tiba pada saatnya. Orang juga sering berpikir, bahwa Orang Muda Katolik hanya bisa membuang waktu dan tertawa tanpa tujuan. Tidak salah, karena memang begitulah hidup, keburukan akan terlihat lebih jelas daripada sebuah kebaikan yang tersimpan rapat-rapat bahkan hingga akhirnya dilupakan dan hanya menyisakan keburukan saja. Terkadang orang menilai dari sampul, tanpa pernah melihat kedalamnya. Padahal, Orang Muda Katolik membutuhkan dorongan, bukan hanya penilaian yang akhirnya hanya membuat rasa malas mendera ataupun rasa kecewa karena dianggap yang dilakukannya hanyalah sia-sia.

Menurut internet, Orang muda katolik merupakan komunitas wadah kreativitas, pengembangan, pengedaran generasi muda di lingkungan paroki. Namun, bagiku definisi Orang Muda Katolik lebih dari itu. Orang Muda Katolik adalah mereka yang mau untuk saling terikat dalam sebuah suasana yang mendalam dan nantinya akan menjadi keluarga kedua dengan organisasi sebagai rumahnya. Jika orang berkata bahwa Orang Muda Katolik merupakan sebuah organisasi, aku tak menyangkal, namun juga tak menyetujuinya. Mengapa? Orang Muda Katolik lebih mengutamakan persaudaraan, bukan jabatan. Jika ada dari mereka yang lebih mementingkan jabatan dibandingkan persaudaraan yang ada didalamnya, maka orang itu sejatinya tak pernah menghayati dirinya sebagai bagian dari Orang Muda Katolik. Menghilangkan kata “aku dan kamu” lalu menyatukan menjadi “kita” terdengar cukup sulit untuk dilakukan. Ya, egoisme yang membelenggu terkedang memang cukup memberatkan dalam upaya membangun kesatuan antar anggotanya. Orang Muda Katolik bukan sebagai ajang perploncoan layaknya organisasi semi militer yang biasa kita lihat di televisi. Ketika satu orang mengalami kesulitan, maka akan ada tangan yang siap terulur untuk membantunya keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Bahkan kesulitan yang paling sulit sekalipun, akan terasa lebih mudah ketika dijalani bersama-sama. Ibarat paribahasa, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, itulah yang mendasari ikatan persaudaraan di dalam Orang Muda Katolik. Bertemu dengan banyak orang yang baru, mengerti permasalahan mereka, mau tak mau membuka hati untuk belajar mengorbankan sebuah kesenangan pribadi untuk kepentingan bersama. Orang Muda Katolik bukan pula sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan layaknya organisasi sosialita. Seandainya di luar sana, kamu adalah anak dari seorang  raja yang kaya raya, maka jangan pernah untuk membawa kekuasaan ayahmu itu di dalam Orang Muda Katolik. Kamu boleh menjadi dirimu yang seuntuhnya di luar sana, namun di dalam Orang Muda Katolik, kita adalah sebuah kesatuan. Aku dan kamu satu, yang memiliki kesamaan dalam derajat, harkat, dan juga martabat. Saling melengkapi tanpa memandang siapa dirimu, darimana asalmu, seberapa tinggi jabatanmu ataupun seberapa banyak kekayaan yang kamu miliki.

Orang Muda Katolik memandang dari hati. Dari setiap insan yang mau membuka hati untuk dimasuki. Hati inilah yang mampu menerima setiap kekuranganmu. Meyakinkan bahwa dihadapan-Nya kita adalah sama. Hati ini juga yang mau menyayangi tanpa menuntut untuk minta disayangi, mau memberi tanpa harus meminta diberi, dan mampu mengasihi dalam luka yang mungkin sudah pernah terbuat di hati. Bisa dibilang, bagiku Orang Muda Katolik adalah keluarga kedua. Aku mendapat banyak pengalaman kehidupan dari sini. Belajar untuk mau menghargai orang lain dengan segala pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapatku. Aku juga belajar untuk bertindak dengan hati. Belajar untuk tidak melukai hati orang lain baik dengan sikap ataupun perkataan yang menyinggung orang tersebut. Aku tahu, bahwa menyembuhkan luka tak semudah membuat luka. Bahwa memaafkan orang lain tak semudah menyakiti orang lain. Mau tak mau aku juga mengakui, menggunakan hati memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan terkadang rasa berkuasa dan rasa ingin menang sendiri muncul di dalamnya. Terkadang, tanpa disadari rasa itu merajalela tanpa pernah bisa dicegah. Inilah peran intropeksi. Ketika ada seseorang yang terluka karena kita, jangan pernah membuat luka yang sama pada insan yang yang berikutnya.

Lagi-lagi, Orang Muda Katolik memberi sebuah kekuatan kepada siapapun yang ikut ambil bagian didalamnya. Kekuatan persaudaraan yang mampu menahan untuk tetap sabar dan menjadikan segala permasalahan sebagai pemacu untuk mempertahankan suatu ikatan. Memecahkan segala persoalan dengan kepala dingin, tanpa harus main hakim. Persoalan itu ujian yang mempertanyakan seberapa kita mampu untuk bertahan, seberapa mampu kita menjaga sebuah persaudaraan dalam sebuah pertikaian, bukan untuk pergi lalu menjauh dari permasalahan, bukan juga menghilang tanpa kabar seolah meminta dicari. Namun persaudaraan itulah bekal dalam permasalahan. Untuk apa ada diskusi bila akhirnya menjauh dan pergi. Untuk apa menjadi keluarga, jika hanya ingin berjalan sendiri. Orang Muda Katolik membuatku sadar arti dari berjalan beriringan, bukan semata-mata berjalan sesuai arah yang diingini, namun berjalan untuk saling melengkapi. Menggapai tujuan yang sama yaitu untuk kemajuan sebuah Paroki. Aku dengan kemampuanku dan kamu dengan kemampuanmu. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda? Mengapa harus disamakan hanya dengan sebuah kebersamaan sebagai alibinya? Jangan menuntut apa yang tak bisa dilakukan orang lain.

Orang Muda Katolik memiliki kebersamaan bukan karena memiliki agama yang sama, namun karena setiap pribadinya mampu untuk saling menguatkan. Tawa yang kerap lolos dari bibir saat pertemuan bersama, terasa menghilangkan segala gundah dan gelisah. Jika memang kamu merasa nyaman, jangan coba pergi hanya karena rasa egois diri. Jika kamu merasa rindu, ingatlah bahwa keluarga akan selalu menerima untuk pulang kembali. Jangan memendam rindu sendiri, karena rindumu terkadang sama dengan yang lain. Jangan hanya berkata rindu, karena bertemu memerlukan sebuah aksi bukan hanya sekedar luapan kata yang tak berarti. Ingatlah bahwa rindu datang karena rasa nyaman, jangan rusak rasa nyamanmu hanya karena masalah pribadi yang ada disekitarmu. Bertengkarlah diluar sana, namun jangan untuk didalamnya, karena keluarga akan selalu memiliki cara untuk mempertahankan kebersamaan. Keluarga akan selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permusuhan yang ada di dalam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan cacian, dan makian, bukan juga dengan gunjingan. Namun keluarga selalu mempunyai hati untuk mencari solusi demi keutuhan keluarga. Jika kamu rindu? Maka marilah  kita bertemu unruk membuka lembaran baru dan membuktikan bahwa keluarga tetap akan bersatu!

3,332 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teruntuk Generasi Muda

komsos gamping

Apa yang terlintas dalam benak kamu ketika mendengar kata “keluarga?”  jawaban klise mungkin, keluarga itu aku, ayah, ibu, kakak, dan adik. Keluarga itu gereja kecil. Keluarga itu persekutuan terkecil dalam masyarakat. Dan masih banyak lagi. Pendapat itu tidaklah salah. Lalu bagaimana dengan anggapan, “keluarga cikal bakal iman anak?” topik yang cukup menarik untuk kita perbincangkan dalam artikel kali ini.

Zaman sekarang kira-kira apa sih yang dibutuhkan oleh generasi muda dalam kaitannya dengan hidup menggereja? Parameter yang sangat berpengaruh ialah iman. Kenapa? Selain gereja, tentunya keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam pembentukan iman seseorang. Setiap pribadi lepas pribadi memiliki problematikanya sendiri. Di zaman modern ini setiap orang dituntut untuk memiliki pendirian yang teguh serta rasa toleransi yang baik. Jika banyak tetua berkata “jaman saiki ki medeni, cah enom ora bisa empan papan. Ra dueni rasa sosial, isane nyekel Hape.” Anggapan itu tidak lain ada benarnya juga.

Nah, bila kita tilik lagi, apakah peran keluarga bagi generasi saat ini? Sekarang banyak orang muda yang dikatakan “generasi menunduk” ya atau tidak? Lepas dari iya atau tidaknya bukanlah suatu masalah. Alat komunikasi modern saat ini memang sangat menarik dan digandrungi. Apalagi dengan segala fitur yang kian hari kian “mengasyikan” bukan hal yang langka bila update merupakan kegiatan yang lebih menyenangkan ketimbang aktivitas sosial lainnya. Namun hal ini perlu mendapat tuntunan lebih lanjut. Tidak selama hidup hanya di dunia maya saja. Dunia sosial masyarakat mau dibawa kemana? Dunia maya juga?

Dalam hal ini, orang tua sudah pasti pusing memikirkan itu. Kesadaran bersosial sangatlah dibutuhkan. Namun bukan sangat untuk bermedia maya.

Peneguhan iman merupakan hal yang penting yang acapkali disepelekan. Itu salah besar. Pada dasarnya generasi muda perlu wadah untuk menampung semuanya (ide, gagasan, kegiatan, pelayanan, dan masih banyak lagi.) Generasi muda kini butuh banyak dorongan, bantuan, dan tidak ketinggalan, APRESIASI.

Apa yang dilakukan agaknya memang belum sesuai harapan. Namun akan sesuai harapan apabila keluarga dan unsur sosial masyarakat lainnya ikut andil dalam pembangunan (iman). Jangan buat “mereka getun.” Terkadang cara mengkritisi  yang salah yang membuat mereka ciut. Lalu untuk apa keluarga dan gereja ada?

Mari bersama-sama, mulai dari keluarga, kita mulai membangun landasan iman yang kokoh. Tidak lain ialah untuk mempersiapkan generasi selanjutnya.

Teruntuk generasi muda. JANGAN TAKUT. Tiliklah kedalam, ada keluarga, masyarakat, gereja, dan Tuhan Yesus yang siap membantumu!

1,909 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Sebuah Peran bagi Gereja

mischristo

Jejak kakiku kutinggalkan
Menuju ke sebuah paguyuban
Tak perlu kaya apalagi rupawan
Tuk dapat ambil bagian

Kehadiranku sungguh berarti
Saat aku dapat melayani
Bila aku mampu berbagi
Kurasakan damai di hati

Tiada bimbang tiada ragu
Semua kulakukan hanya kepada-Mu
Kan kugunakan sisa waktu
Bagi gereja dan Tuhanku

Saat raga sudah lelah
Dengan semua jerih payah
Namun hidupku sudah jadi berkah
Sebelum terkubur dengan tanah

2,125 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Retret OMK Gamping 2017

Retret OMK Gamping 2017

Akhirnya Retret OMK diadakan kembali…

Dan berikut adalah cerita mengenai Retret OMK Gamping 2017, dengan tema “MENDALAMI DIRI SEBAGAI ORANG MUDA KATOLIK”. Dan mari kita langsung saja melihat kegiatan retret OMK 2017 dibawah ini:

Poster Retret 2017

Poster Retret 2017

Pada Tanggal 22-23 Juni, OMK Paroki Santa Maria Assumpta Gamping mengadakan Retret di Wisma Lentera Kasih, Kulon Progo.

Kami berkumpul di halaman gereja pada Hari Kamis. Pada pukul 12:00 sudah banyak yang datang, sambil menunggu… ada yang asyik mengobrol, makan kue, main UNO, dll. Setelah jam 13:30, Bus pun tiba dan kami pun berangkat. Kami tiba di Wisma Lentera Kasih sekitar pukul 15:00. Dan kami diberitahu letak kamar dan teman sekamar.

Retret OMK 2017

WIsma Lentera Kasih, Kalibawang, Kulon Progo

 

Setelah kami ke kamar, kami ke aula untuk sesi pertama dan perkenalan. Setelah perkenalan kami menjadi Guardian Angels, kami mendapat sebuah nama orang yang harus kami jaga dan menulis surat untuk yang kami jaga. Setelah Guardian Angel ada sesi bersama Frater. Ada Frater Alex, Frater Maxi, Frater Angga. Sebelum kami memulai sesi kedua kami bermain Tepuk Dum, dan Bergoyang bersama.

Retret OMK 2017

Bermain Tepuk Dum bersama Frater

 

Retret OMK 2017

Sesi bersama Frater

 

Salam Jumpa

Lihat Video Menyanyi Salam Jumpa bersama Frater

 

Setelah Bersenang-senang bersama, kami pun memulai sesi. Di Sesi ini kami membahas tentang LORESA (LOve, REadyness, SAcrifice). Kami membahas tentang Cinta, Kesiapan,dan Pengorbanan kepada sesama. Kami ditunjukkan video seseorang yang mencintai sesamanya, Seorang Ayah yang bisu dan rela diambil darahnya untuk mengobati anaknya, Seorang Pemuda yang rela memberi dengan Ikhlas tanpa mengharapkan balasan.

Retret OMK 2017

Perkenalan

Setelah selesai, kami mandi sambil Istirahat, setelah itu kami ke atas dan mendapat Surprise , Kami ditutup matanya dan disuruh berbaris. Kami menunggu dipilih, setelah dipilih kami ditunjukkan pasangan kami. Kami berjalan dengan pasangan kami ke ruang makan untuk Candle light Dinner. Kami harus menyuapi pasangan kami saat Candle light Dinner. 

Retret OMK 2017

Candle Light Dinner

Retret OMK 2017

 

Setelah Selesai Candle Light Dinner, kami naik kembali ke aula untuk memulai sesi ketiga, Di Sesi ketiga diadakan diskusi kelompok. Diskusi kelompok ini mengenai pengalaman kami hari ini. Setelah diskusi kami presentasikan hasil kerja kami.

 

Selesainya, kami mempersiapkan Pentas “pensi” Seni. Ada yang mempersiapkan menyanyi, main gitar, membaca puisi, bermain drama, dan lainya. Setelah persiapan kami pun beraksi. Ada drama lucu, ada bernyanyi lagu-lagu terkenal, membaca puisi inspiratif… Pokoknya seru deh!!!

 

Setelah Kita bersenang-senang seharian sudah waktunya untuk mengakhiri hari. Kami akan tidur. Sebelum tidur kami berdoa bersama terlebih dahulu. Setelah berdoa kami boleh tidur. Tapi, Pada tidak tidur… Ada yang masih keliaran, ada yang main UNO, dan lain-lain. Tapi jam setangah satu sudah mulai sepi.

Keesokan Harinya…

kami dibangunkan jam setengah lima untuk melakukan senam. Suasana pagi hari sangat dingin tapi sangat menyegarkan. Kami baris lalu jalan melewati jalan aspal, melewati jembatan dan ke pinggir sungai, dan kamipun senam di sana. Eits! sebelum senam, kami pemanasan dulu.

 

Setelah kami senam… kami berjalan kembali ke Lentera Kasih untuk sarapan. Disana kita dibagi kelompok dan sarapan nasi goreng secara lesehan. Sebelum makan, 4 orang dari setiap kelompok diutus untuk mengambil minum dan kami pun mulai makan, sambil makan kamipun mengobrol dan bertanya tentang perasaan saat retret OMK,banyakyang kekenyangan tapi masih ada yang lapar hingga mengembara ke kelompok lain untuk menghabiskan.

Setelah Sarapan. Kami kembali ke Aula untuk pembagian kelompok untuk Outbond dan bergoyang di pagi hari bersama frater. Outbond ini terdiri dari 5 pos:

Pos Water Tower: kita harus mengangkat baskom berisi air setinggi mungkin dengan kaki.

Nilai yang diperoleh: kita tidak bisa mewujudkan mimpi sendiri, tapi bisa bila bersama-sama.

Pos Siap Laksanakan: Kita harus memindahkan air sebanyak mungkin dari baskom ke botol dengan carasekreatif mungkin.

Nilai yang diperoleh: Kreativitas

Retret OMK Gamping 2017

 

Pos Jalan Ke Surga: Pergi dari poin A ke B tanpa kaki menginjak lantai.

Nilai yang diperoleh: Saling menolong, tidak takut membuka diri.

Pos Cahaya Nirvana: kita harus bertahan dari serangan air agar lilin tim kita tidak padam, saat penyerang tim kita berusaha memadamkan lilin tim lawan.

Nilai yang diperoleh: Lilin diibaratkan sebagai kelebihan kita, orang yang menyerang diibaratkan tantangan hidup.

Pos Melewati Rintangan: kita harus melewati rintangan dengan mata tertutup dengan bantuan orang lain

Nilai yang diperoleh: kita harus percaya pada orang yang kita percaya.

Setelah senang-senang di Outbond, saatnya kita mandi. Ada yang tidur-tiduran pas nunggu giliran mandi, ada juga yang main kartu. setelah semua mandi acara selanjutnya adalah snack pagi.

Setelah snack pagi, kita misa bersama Romo M Joko Lelono Pr. atau yang dikenal Romo Joko, Khotbah berisi:

Kita adalah masa depan gereja

Bagaimana Gadget/Sosmed menguasai kita

Generasi muda dalam kondisi genting

Think Less…Feel More

“Jika kita tidak berani berubah, kita akan tertinggal”

And the last but not least….

Kita pemuda mewarisi Gereja Gamping.

Misa bersama Romo Joko

Lalu ada sambutan dari Wakil Dewan Paroki, yakni Bu Elisabeth Theris Andriani atau yang sering dipanggil Bu Andri

Sambutan Wakil Dewan Paroki, Bu Andri

Setelah selesai, Ada pembagian kado silang dan doorprize.

Kita memberikan kado silang kepada Orang yang kita jaga, juga mendapat kado menang Outbond dan Pensi

Saat penentuan pemenang Outbond, dua tim finalis harus lomba menggoda perempuan dari kelompok lawan, dan yang tergokil yang menang.wuuuhuuuu!!!!

Penyerahan hadiah juara 1 Pensi

Merayu sebelum pembagian Hadiah

Nah, Sudah saatnya kita pulang…

Eits, sebelum kita pulang kita harus kemas-kemas dulu dan berfoto bersama

Nah, sekarang sudah saatnya pulang, Seru bukan? Retret kali ini? ini hanya salah satu keseruan OMK Gamping, masih banyak keseruan lain bersama-sama.

Sampai jumpa lain waktu…..

Pesan Romo Joko kepada OMK:

Pendapat:

Saya senang karena acaranya berbeda dari biasa, juga buat ngisi liburan, menyenangkan sekali! -Ferdi

Kita menemukan bakat-bakat terpendam dalam diri kita masing-masing, Retret ini bagus, menarik, dan Mendidik. Kita belajar tentang LORESA dan mengembangkan bakat terpendam kita, belajar hal baru bersama teman-teman serta mendapat teman baru, yang awalnya hanya kenal sekarang sudah akrab. -Daniel & Moses

Retretnya sudah sangat bagus, kita dapat mengikutinya dengan antusiasme yang tinggi, dengan penuh semangat, juga kita mau berteman tanpa pandang bulu serta kita menjalin keakraban dengan banyak teman. Menurut kami, retretnya bisa seharusnya lebih lama. -Linda & Ria

 

 

 

2,351 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini