Apa Asyiknya Misa Harian?

Misa Harian

Hingga pukul 3 pagi saya belum tidur, saya lihat hujan turun, dan hingga sekarang, pagi menjelang misa. Saya pun tanpa alasan pergi ke gereja. Karena apa? Karena misa harian itu asyik. Penasaran?

Berikut beberapa hal yang saya dapat ketika saya misa harian hari ini.

  • Bisa melihat matahari terbit.
  • Lebih dalam saat berdoa, karena suasana belum terlalu bising.
  • Jika hari sedang hujan, kita bisa melihat hujan pagi hari dan itu rasanya sangat menyejukan.
  • Jika hujan makin deras, kita bisa melihatnya lebih lama, jika kamu sedang tidak terburu-buru kegiatan lain; misal sekolah, kerja, atau masak air.
  • Jika hari sedang cerah, kita bisa mendengar suara burung pagi hari, dan itu rasanya menyenangkan.

425 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Satu Tahun

komsosgamping_WJ2018

Ini cerita, cerita kami bersama, saling rindu saling seru, tak jarang juga kami marah karena tak dapat bertemu. “Kesibukan VS kesibukan” kata salah satu pujangga, benar juga kataku. Sekarang hanya bisa berharap Tuhan beri waktu untuk mimpi dan rindu.

Siapa mimpi?
Siapa rindu?
Kok penting banget?
Mereka adalah harapan, mereka adalah suatu wujud kehadiran, kami untuk tetap berkembang, untuk menjadi suka cita, mewartakan tanpa imbalan.

Sekarang pukul 11:37, sembari menulis ini aku berkata kepada Tuhan dengan nada yang bahkan tidak ada karena hanya kuucap dalam gumaman. Aku berkata…

Tuhan, beri terang
Sebab kami siap untuk menatap ke depan
Tuhan, beri jalan
Sebab kami siap untuk berjalan
Tuhan, beri keikhlasan
Sebab kami sanggup memaafkan
Dan Tuhan, beri harapan
Karena kami takut putus asa

Dalam gumamanku yang terakhir, ku usap air mata yang sempat menetes. Aku berkata pada diri sendiri “Aku bangga ada disini”. Lebih dari itu, selamat ulang tahun.

1,359 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIII

Bunda Maria

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,615 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Buat Nyaman Gereja

pelangi di gereja gamping

Gue belakangan ini sadar yang memecah belah manusia bukanlah faktor-faktor eksternal, tapi justru internal yaitu dari dalam diri sendiri. Ada beberapa hal tentang hidup menggereja yang sering ada di kepala gue.

Pertama, berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek, hanya ada bagus dan bagus banget. Gue dapet kata-kata itu dari seorang teman di gereja, nggak tau dia bisa jenius nemuin kata itu dari mana. Gue pikir-pikir lagi bener juga kalau berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek. Nggak bisa yang namanya diatur-atur kayak kerja di kantor. Di gereja semua mengandalkan kasih.

Kedua, berkarya di gereja punya porsinya sendiri-sendiri, mentang-mentang banyak ajakan untuk mengikuti kegiatan terus diikutin semua. Nggak sih, orang punya kesempatan untuk ingin membantu di bagian mana. Punya perannya sendiri-sendiri.

Ketiga, kenyamanan. Poin dari artikel ini sebetulnya gue mau ngobrol bab kenyamanan di gereja. Gereja yang nyaman tentu bakal ngebuat insan-insan di dalamnya jadi betah. Anak-anak muda akan senang berada di gereja. Kayak orang yang pacaran, kalo nggak sama-sama nyaman ya pisah. Seperti pada paragraf pertama, faktor internal yang membuat kepisah-pisah kita sebagai manusia sebetulnya sikap. Sikap berperan besar mengenai mana yang harus kita percaya, yakini dan jauhi. Kita butuh warna yang bisa ngebuat nggak takut untuk pergi dan berkarya di gereja.

Sudah sepatutnya orang-orang tua juga mendukung orang muda untuk berkarya. Karena dengan karya orang muda, gereja menjadi berwarna. Jadi gue, aku, saya, mengajak kamu, anda untuk ikut membuat nyaman di gereja.

1,227 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perilaku Mata

salib kapel gesikan

Sabtu Malam aku ke Gereja
mataku jempalitan

Aku lihat di bangku depan
rambut ikal selengan
dicapit di tengah kepala
lehernya

mataku jelalatan

Aku lihat di barisan kanan
pipi gembil sekepalan
bedak dan gincu ada segala
bibirnya

mataku keranjingan

Aku lihat dari kaca jendela
betis panjang bak dian
kulit putih dan mulusnya
pinggulnya

mataku pecicilan

Kemudian aku dicolek dari jantung
menghadap kembali ke altar
Rambut gimbal terurai
berias darah berburai
bingkai dan paku panjang

matanya tertuju padaku

1,427 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Mobilku Arep Dicolong!

Mobilku Arep Dicolong

Tadi malam, bapakku mendapat cobaan yang cukup berat. Aku tidak tahu apakah ada satupun warga di RT kami yang dapat menghadapinya seperti bapakku. Waktu itu pukul dua pagi. Aku sedang setengah tertidur di depan televisi karena habis menonton pertandingan sepak bola klub favoritku. Ibu sudah tertidur bersama adik setelah adik terbangun karena mimpi buruk. Tanpa aku ketahui, tiba-tiba bapak berteriak dengan sangat keras “Maling! Maling! Mobilku arep dicolong! Maling!” Aku spontan terbangun dan melihat bapak berdiri di depan pintu.

Rupanya bapak mendengar alarm anti-maling dari mobil yang ada di luar rumah. Aku tidak sempat mendengarnya karena aku tertidur sudah mulai pulas dan alarm mobil tidak terlalu keras. Bapak mengulangi teriakannya berkali-kali. Mendengar teriakan bapak, lantas seluruh warga RT langsung keluar rumah. Aku melihat seseorang lari bersembunyi ke atas pohon dan langsung menunjukkan kepada bapak-bapak RT yang sudah membawa gebukan. Akhirnya maling tersebut berhasil diringkus oleh warga.

Setelah malingnya diikat dan pak RT menelepon polisi, bapakku berusaha berbicara kepada semua warga. “Alhamdulillah Bapak-Bapak. Berkat kesigapan warga semuanya, mobil saya tidak jadi dicolong. Terima kasih sekali, semoga malingnya kapok dan RT kita makin aman,” Katanya. Beberapa warga terlihat heran. “Alhamdulillah Pak,” ucapku cekikikan. Disela keramaian warga, Pak Shodiq tetangga kami menyela bapak, “Nggih Pak, Alhamdulillah. Tapi omong-omong, nganu Pak, nuwun sewu. Yang nggak jadi dicolong kan mobil saya, jadi saya yang berterima kasih karena Bapak sudah sigap memanggil warga.” “Lho, jebule mobil saya aman-aman saja to dari awal?” tanya bapak.

“Oalah Pak, Pak,” jawab ibuku yang langsung mengajakku masuk. Semua warga tampak memalingkan muka dari bapak, menahan tawa. Beberapa warga langsung berjalan ke arah rumah masing-masing. Bapak kelihatan kebingungan karena masih setengah ngantuk. Kemudian bapak melihat ke arah rumah kami dan mengamati halaman rumah kami. Tentu saja berbeda dengan yang ada di mimpinya lima menit lalu. Ia melihat ke arah warga setelah sadar apa yang mereka tertawakan. “Pareng Pak,” sapa Pak Shodiq yang pulang terakhir kali setelah mengunci mobilnya. Bapak diam sejenak, menengadah dan mengangkat tangan seperti berdoa. “MasyaAllah”.

1,251 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

1000 Tumpeng Persaudaraan

1000 Tumpeng Persaudaraan

Selasa (5/06/2018) KOMSOS Gamping bersama Romo Joko menghadiri acara 1000 Tumpeng Persaudaraan di Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Acara itu dimulai dengan sapaan hangat oleh Bapak Bagus (tuan rumah), masyarakat sekitar, dan orang-orang dari berbagai agama yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kami masuk ke dalam rumah berarsitektur jawa yang masih sangat kental. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipinpin oleh pemuka dari berbagai agama yang ikut serta dalam acara tersebut.

Sesuai dengan acaranya, 1000 tumpeng dengan lauk yang terdiri atas telur dan kacang kedelai, serta air mineral telah dipersiapkan. Tak terkira ternyata tumpeng dan lauk-pauk yang tersedia memiliki makna tersendiri yang menarik untuk diketahui. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa tumpeng melambangkan gunung yang menjulang, dan telur melambangkan sebuah bulan, sedangkan kedelai hitam melambangkan bintang-bintang. Mengapa kedelai hitam dapat dilambangkan sebagai bintang-bintang? Karena ketika kedelai hitam tersebut digoreng ada cahaya yang berkilap-kilap seperti bintang-bintang, penjelasan Bapak Bagus narasumber serta penggerak kegiatan tersebut. Selain tumpeng dan lauk-pauknya yang memiliki makna historis yang menarik, tersedia juga air mineral yang dilambangkan sebagai sumber air kehidupan. Sedehana namun penting untuk diketahui.

Untuk mebagikan takjil yang berupa tumpeng tersebut kepada masyarakat yang sedang dalam perjalanan dan berhenti menunggu lampu merah. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas beberapa orang dari berbagai agama, yang tersebar dalam lima titik yaitu di perempatan Godean, perempatan Pelem Gurih, Titik Nol Kilometer, Tugu, dan di sebuah pesantren di daerah tersebut. Sungguh suasana yang sangat hangat dan menyenangkan, dimana kepedulian dengan sesama dan rasa saling memiliki sekarang ini sudah berangsur-angsur surut, meskipun banyak juga yang mencoba untuk memputar-balikkan itu semua.

Dalam kegiatan berbagi takjil kali ini, kami membagikannya kepada orang-orang yang kami jumpai di sekitar tempat di titik yang telah ditentukan. Banyak masyarakat yang menyambut baik kegiatan ini, hal ini ditunjukkan oleh mereka yang tak segan-segan menerima takjil yang kami bagikan, meskipun tak sedikit pula yang menolak.

Selepas membagi takjil, kami kembali ke rumah Bapak Bagus bersama dengan para pembagi takjil yang lain. Di tempat itulah kami beristirahat sembari berbincang, dan makan bersama dengan hidangan yang telah tersedia. Di sela perbincangan kami, Pak Bagus mengatakan bahwa acara kali ini bertepatan dengan malam selikuran atau yang berarti “malam seribu bintang.” Oleh sebab itu akan diadakan juga kegiatan keliling desa untuk merayakannya.

Selepas energi kami kembali terisi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan ikut berkeliling desa. Terdengar sangat meriah pula ketika saudara kita umat muslim yang turut merayakan malam selikuran tersebut dengan melantunkan lagu-lagu serta bertabuhkan gendang yang dimainkan bersama-sama. Kegiatan tersebut merupakan moment langka karena hanya setahun sekali digelar.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan bagi umat muslim bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari malam-malam lainnya yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai ajang untuk berbuat baik dan memperdalam ibadah. Bagi kami sendiri pun kegiatan ini jelas merupakan ajakan untuk melestarikan budaya khususnya budaya Jawa. Melestarikan budaya bukan hanya dengan tulisan tetapi juga perbuatan. Melestarikan budaya Jawa tanpa memandang perbedaan, karena justru perbedaan itulah yang mejadi kekuatan bagi kita, perbedaan yang beralaskan cinta kasih. Jangan biarkan budaya semakin terkikis, mari lestarikan budaya kita sedari dini sedari kita mampu dan kuat untuk menjaganya.

Perbedaan justru aset untuk memperkaya keberagaman dan toleransi adalah pupuk untuk menyuburkan kebaikan didalamnya.

 

1,508 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Gamping dan 8 Warna Pelangi

pelangi di gereja gamping

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus selalu disyukuri.

Saya bukan orang asli Gamping, bahkan sebelum menetap di sini mendengar tentang tempat ini saja jarang. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak saya bahwa suatu saat Tuhan telah merencanakan untuk memindahkan saya ke Gamping, keadaan yang tidak akan pernah saya sesali.

Dulu ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di rumah baru saya di daerah Mejing, saya segera menyadari bahwa letak rumah saya cukup dekat dengan Gereja. Jaraknya tak sampai 1 km, cukup dekat untuk dicapai dengan sepeda yang selalu saya pakai.

“Harus lebih sering ke gereja nih” janjiku saat itu pada diri sendiri. Maklum saja, sebelum ini saya termasuk jarang pergi ke gereja apalagi mengikuti aktivitas di gereja. Rasa malas selalu saja berhasil memenangkan pergulatan di dalam hati saya untuk pergi ke Rumah Tuhan. Saya tahu itu tak baik tetapi tetap saja saya lakukan. Saya saat itu lebih memilih untuk mengikuti kegiatan sekolah atau main-main sama temen, sesuatu yang sebenarnya tak terlalu penting.

Minggu pun tiba, sudah saatnya buat saya untuk memulai petualangan baru di Gamping. Saya  pergi ke Gereja tidak dengan harapan yang muluk-muluk, “Ya pokoknya bisa ke Gereja lah.” Hanya sebatas itu.

Namun, takdir Tuhan memang tak bisa ditebak. Setelah beberapa waktu pergi ke Gereja, saya mulai merasakan ketertarikan untuk dapat lebih aktif lagi dalam berpartisipasi di sini, tak hanya sebagai umat. Ada suatu keyakinan dalam diri saya yang mengatakan bahwa “Ayo, kamu bisa lebih dari ini!”

Pada awalnya saya mendaftar sebagai misdinar karena memang saya sudah ‘ngidam’ itu sejak lama. Di kegiatan gereja pertama ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, tentang arti kebersamaan, kegembiraan, rasa saling berbagi, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti saya mulai menikmati alur dari cerita ini. “Ternyata senang juga bisa ikut ambil bagian dalam Gereja” ucap saya kepada Ibu waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai ikut ambil bagian dalam OMK dan sekarang ini di Komsos Gamping. Saya tidak akan berbicara mana yang lebih baik diantara ketiganya karena semuanya memberi kenangan dan peran masing-masing. Semua punya cerita yang akan selalu mewarnai dan membuat hidup saya lebih lengkap, lebih utuh.

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus terus disyukuri.

Rekan saya di Gereja ini pernah mengatakan begini, “Aktivitas di sekolah itu memang penting. Tapi ketika kamu udah dewasa apakah itu masih dapat kamu lakukan? Enggak, kamu dah gak bakal bisa ngulang masa itu lagi. Tapi di paroki, kamu bakal selalu tinggal di sini. Ini lingkunganmu, masa kamu gak mau peduli sama lingkunganmu sendiri?” Kata-kata itu selalu terngiang di kepala saya dan selalu menjadi pelecut semangat saya untuk berusaha selalu terlibat dalam kegiatan menggereja ini. Meski saya sadar bahwa saya tidak selalu bisa untuk hal itu karena kesibukan yang lain terkadang juga mengganggu. Namun saya akan selalu berusaha menyediakan waktu untuk Gereja.

Maka dari itu saya mengajak kamu yang belum aktif untuk…. Ayolah! kita sama-sama bangun Gereja ini melalui partisipasi aktif dari kita masing-masing. Sudah banyak wadah yang bisa menampung aspirasi serta tindakan kita untuk hal itu. Mari kita buat Gereja ini seperti pelangi yang tidak hanya memiliki tujuh warna, tetapi delapan. Kalau bisa lebih, kenapa tidak?

1,780 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Sebuah Peran bagi Gereja

mischristo

Jejak kakiku kutinggalkan
Menuju ke sebuah paguyuban
Tak perlu kaya apalagi rupawan
Tuk dapat ambil bagian

Kehadiranku sungguh berarti
Saat aku dapat melayani
Bila aku mampu berbagi
Kurasakan damai di hati

Tiada bimbang tiada ragu
Semua kulakukan hanya kepada-Mu
Kan kugunakan sisa waktu
Bagi gereja dan Tuhanku

Saat raga sudah lelah
Dengan semua jerih payah
Namun hidupku sudah jadi berkah
Sebelum terkubur dengan tanah

2,125 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Meneladan Yesus, Sang Aktivis

Yesus

“Saya itu prihatin. Orang kalau ke Gereja menemui saya kebanyakan hanya dua: saat pernikahan atau kematian. Tapi setelahnya, mereka menghilang begitu saja. Tidak terlihat lagi batang hidungnya di Gereja. Hehehe”, ungkap Romo Martinus Joko Lelono, Pr dalam khotbahnya.

Apa yang disampaikan Romo Joko ini menggelitik hati saya. Saya jadi ingat, salah seorang teman saya yang non Katolik pernah mengatakan begini:

“Kamu aktif banget ya di Gereja. Kalau kamu ikut kegiatan Gereja gitu, banyak nggak yang ikut? Kok kalau di tempatku sedikit ya, itu-itu aja.”

Saya kemudian berpikir, mungkin ada benarnya juga kata-kata yang disampaikan Romo Joko dan teman saya ini. Dari yang saya lihat, orang kebanyakan lebih suka terlibat dalam organisasi di kampus atau bahkan sekolahnya ketimbang di Gereja.

“Mengapa ya sedikit sekali orang yang tertarik untuk berkecimpung dalam organisasi/paguyuban kerohanian? Padahal organisasi/paguyuban kerohanian seperti itulah yang justru menurut saya akan dan harus terus menerus ada dan berkembang dari generasi ke generasi. Berbeda halnya dengan organisasi di sekolah atau kampus yang kebanyakan hanya bisa diikuti saat kita masih menjadi bagian atau anggota dari sekolah atau kampus tersebut.” 

Saya kemudian mencoba kembali lagi ke belakang, melihat kisah di balik malaikat inspirasi saya di tengah keterlibatan dan keaktifannya dalam paguyuban Gereja. Dulu ia pernah menjajal masuk di berbagai bidang, baik di lingkup lingkungan bahkan paroki. Ia adalah seorang pendatang. Ia belajar dari bawah, dari yang hanya menjadi umat lingkungan biasa, kemudian masuk dalam kepengurusan lingkungan, sampai mengakhiri kisahnya dalam kepengurusan dewan harian paroki. Dari yang awalnya hanya dikenal dan mengenal umat selingkungan atau sewilayah saja, sampai bisa mengenal dan dikenal umat hampir separoki. Sampai mungkin ada yang mengatakan begini, “Siapa coba yang tidak mengenal dia?” Namun perkara yang tadinya hanya kecil, dihadapi dengan orang-orang yang memang sudah dikenalnya, hanya di lingkup lingkungan saja; seiring berjalannya waktu perkara yang dihadapi makin besar, dengan mereka yang berbeda lingkungan, dengan mereka yang berbeda kelompok kategorial, bahkan dengan anaknya sendiri yang juga terlibat dalam paguyuban Gereja pun ia pernah terlibat pertentangan. Dari awalnya yang hanya menjadi pendengar saja, makin lama bisa berada di depan dan menjadi pembicara, mencetuskan ide-ide cemerlang untuk masa depan Gereja yang makin gemilang. Waktu 7 hari 24 jamnya betul-betul dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk bekerja di kantor dan mengejar materi semata, tetapi bekerja dengan semangat pelayanan dan tulus hati untuk Gereja. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk Gereja, entah untuk rapat, gladhi, sembahyangan, dan sebagainya. Sampai ada juga yang mengatakan begini, “Dia itu sobone nggrejo tenan kok.” Memang, begitu banyak suka duka yang ia alami. Banyak yang memuji dan setuju dengan ide-idenya kemudian berjalan bersama. Namun tak sedikit pula yang hanya bisa nge-judge, menolak segala idenya dan bersikukuh dengan ide mereka, tanpa tahu betapa sulitnya berjuang membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Setelah sekian tahun berkecimpung di Gereja, tahun 2014 ia memilih untuk hengkang ke kota lain untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Pada tahun itu pula ia mengakhiri kisahnya di paguyuban Gereja. Tak disangka, mereka yang pernah bekerja bersama, bahkan mereka yang kerap kali ngejudge selalu menanyakan kabarnya ketika ia sudah tak di kota yang sama. Sayangnya, mereka hanya bisa sekedar bertanya pada anaknya yang kini melanjutkan perjuangan sang ayah dalam keaktifan di paguyuban Gereja dan hanya bisa bertemu sebulan sekali, itupun kalau beruntung. Mereka kerap kali bertanya begini pada anak atau istrinya, “Bapak dimana sekarang? Kok jarang kelihatan?” “Bapak kapan pulang?” “Wah sekarang semrawut e, enak waktu masih ada bapakmu ya, lebih rapi dan teratur.” “Bapak besok suruh pulang ya dek, ikut acara ini.” Mereka baru mencari, ketika ia sudah tak disini. Saya jadi ingat kata-kata ibu saya, “Masuk dan aktif di organisasi itu nggak gampang, mbak. Harus siap mental. Kadang kalau kita punya ide-ide bagus, bisa menghasilkan karya yang bagus, tetep ada aja yang nggak suka. Kayak Tuhan Yesus to. Dia aktif menyebarkan Kabar Sukacita kemana-mana, tapi ya tetep aja yang nggak suka, kayak Imam Kepala dan Ahli Taurat salah satunya.”   

Sungguh kisah berharga yang mungkin sekarang jadi pegangan saya untuk berani berkecimpung dan begitu aktif dalam paguyuban Gereja. Bukan karena ingin pamer, tapi saya hanya merasa perlu bahkan harus. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Karena seperti yang dikatakan Romo Joko, saya tidak ingin hanya mencari Gereja ketika butuh saja. Tapi saya ingin memberikan timbal balik dan mempersembahkan yang terbaik untuk Gereja dari apa yang saya bisa. Dan saya yakin, kamu juga bisa! Mari, Gereja membutuhkanmu. Jangan takut, aktif di Gereja tidak akan rugi. Semangat untuk melayani dengan teladan Yesus, Sang Aktivis 🙂

Dari aku, aktivis Gereja.

793 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini