Meneladan Yesus, Sang Aktivis

Yesus

“Saya itu prihatin. Orang kalau ke Gereja menemui saya kebanyakan hanya dua: saat pernikahan atau kematian. Tapi setelahnya, mereka menghilang begitu saja. Tidak terlihat lagi batang hidungnya di Gereja. Hehehe”, ungkap Romo Martinus Joko Lelono, Pr dalam khotbahnya.

Apa yang disampaikan Romo Joko ini menggelitik hati saya. Saya jadi ingat, salah seorang teman saya yang non Katolik pernah mengatakan begini:

“Kamu aktif banget ya di Gereja. Kalau kamu ikut kegiatan Gereja gitu, banyak nggak yang ikut? Kok kalau di tempatku sedikit ya, itu-itu aja.”

Saya kemudian berpikir, mungkin ada benarnya juga kata-kata yang disampaikan Romo Joko dan teman saya ini. Dari yang saya lihat, orang kebanyakan lebih suka terlibat dalam organisasi di kampus atau bahkan sekolahnya ketimbang di Gereja.

“Mengapa ya sedikit sekali orang yang tertarik untuk berkecimpung dalam organisasi/paguyuban kerohanian? Padahal organisasi/paguyuban kerohanian seperti itulah yang justru menurut saya akan dan harus terus menerus ada dan berkembang dari generasi ke generasi. Berbeda halnya dengan organisasi di sekolah atau kampus yang kebanyakan hanya bisa diikuti saat kita masih menjadi bagian atau anggota dari sekolah atau kampus tersebut.” 

Saya kemudian mencoba kembali lagi ke belakang, melihat kisah di balik malaikat inspirasi saya di tengah keterlibatan dan keaktifannya dalam paguyuban Gereja. Dulu ia pernah menjajal masuk di berbagai bidang, baik di lingkup lingkungan bahkan paroki. Ia adalah seorang pendatang. Ia belajar dari bawah, dari yang hanya menjadi umat lingkungan biasa, kemudian masuk dalam kepengurusan lingkungan, sampai mengakhiri kisahnya dalam kepengurusan dewan harian paroki. Dari yang awalnya hanya dikenal dan mengenal umat selingkungan atau sewilayah saja, sampai bisa mengenal dan dikenal umat hampir separoki. Sampai mungkin ada yang mengatakan begini, “Siapa coba yang tidak mengenal dia?” Namun perkara yang tadinya hanya kecil, dihadapi dengan orang-orang yang memang sudah dikenalnya, hanya di lingkup lingkungan saja; seiring berjalannya waktu perkara yang dihadapi makin besar, dengan mereka yang berbeda lingkungan, dengan mereka yang berbeda kelompok kategorial, bahkan dengan anaknya sendiri yang juga terlibat dalam paguyuban Gereja pun ia pernah terlibat pertentangan. Dari awalnya yang hanya menjadi pendengar saja, makin lama bisa berada di depan dan menjadi pembicara, mencetuskan ide-ide cemerlang untuk masa depan Gereja yang makin gemilang. Waktu 7 hari 24 jamnya betul-betul dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk bekerja di kantor dan mengejar materi semata, tetapi bekerja dengan semangat pelayanan dan tulus hati untuk Gereja. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk Gereja, entah untuk rapat, gladhi, sembahyangan, dan sebagainya. Sampai ada juga yang mengatakan begini, “Dia itu sobone nggrejo tenan kok.” Memang, begitu banyak suka duka yang ia alami. Banyak yang memuji dan setuju dengan ide-idenya kemudian berjalan bersama. Namun tak sedikit pula yang hanya bisa nge-judge, menolak segala idenya dan bersikukuh dengan ide mereka, tanpa tahu betapa sulitnya berjuang membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Setelah sekian tahun berkecimpung di Gereja, tahun 2014 ia memilih untuk hengkang ke kota lain untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Pada tahun itu pula ia mengakhiri kisahnya di paguyuban Gereja. Tak disangka, mereka yang pernah bekerja bersama, bahkan mereka yang kerap kali ngejudge selalu menanyakan kabarnya ketika ia sudah tak di kota yang sama. Sayangnya, mereka hanya bisa sekedar bertanya pada anaknya yang kini melanjutkan perjuangan sang ayah dalam keaktifan di paguyuban Gereja dan hanya bisa bertemu sebulan sekali, itupun kalau beruntung. Mereka kerap kali bertanya begini pada anak atau istrinya, “Bapak dimana sekarang? Kok jarang kelihatan?” “Bapak kapan pulang?” “Wah sekarang semrawut e, enak waktu masih ada bapakmu ya, lebih rapi dan teratur.” “Bapak besok suruh pulang ya dek, ikut acara ini.” Mereka baru mencari, ketika ia sudah tak disini. Saya jadi ingat kata-kata ibu saya, “Masuk dan aktif di organisasi itu nggak gampang, mbak. Harus siap mental. Kadang kalau kita punya ide-ide bagus, bisa menghasilkan karya yang bagus, tetep ada aja yang nggak suka. Kayak Tuhan Yesus to. Dia aktif menyebarkan Kabar Sukacita kemana-mana, tapi ya tetep aja yang nggak suka, kayak Imam Kepala dan Ahli Taurat salah satunya.”   

Sungguh kisah berharga yang mungkin sekarang jadi pegangan saya untuk berani berkecimpung dan begitu aktif dalam paguyuban Gereja. Bukan karena ingin pamer, tapi saya hanya merasa perlu bahkan harus. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Karena seperti yang dikatakan Romo Joko, saya tidak ingin hanya mencari Gereja ketika butuh saja. Tapi saya ingin memberikan timbal balik dan mempersembahkan yang terbaik untuk Gereja dari apa yang saya bisa. Dan saya yakin, kamu juga bisa! Mari, Gereja membutuhkanmu. Jangan takut, aktif di Gereja tidak akan rugi. Semangat untuk melayani dengan teladan Yesus, Sang Aktivis 🙂

Dari aku, aktivis Gereja.

793 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Mencari Kesempurnaan

mencari_kesempurnaan

Di dalam kehidupan, semua manusia pernah mengalami yang namanya kekecewaan. Harapan yang sangat besar akan kehidupan, akan keluarga, akan orang tua, akan pasangan hidup, akan pekerjaan tidak selalu selaras dengan kenyataan yang ada. Tak jarang apa yang kita dapatkan berbanding terbalik dengan apa yang kita peroleh. Kekecewaan ini bisa saja berujung kepada dendam, bisa juga berujung kepada permusuhan, berujung kepada rasa tidak terima dan macam-macam. Tetapi, iman kita mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyingkiri kenyataan. Kenyataan yang seberat apa pun perlu dihadapi. Usaha untuk beriman, usaha untuk saling memaafkan, usaha untuk terus mengupayakan perubahan hidup menjadi hal yang penting untuk diupayakan terus menerus guna menjadikan hidup lebih bermakna.

Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang membicarakan tentang kekecewaan itu adalah kisah tentang tiga raja dari Timur. Bagi tiga raja dari Timur, Yesus adalah pribadi yang dinanti. Mereka bukan hanya meunggu Yesus, tetapi mereka juga mengadakan pembelajaran atas banyak bahan untuk memahami kapan dan dimana Yesus akan lahir. Mereka berkali-kali bisa saja kecewa akan apa yang mereka cari. Mereka kehilangan bintang pedoman, bingung mencari sampai di istana Herodes (pikir mereka Yesus akan lahir di Istana), sampai-sampai mereka harus menjumpai pribadi yang mereka cari terus menerus itu di kandang domba. Tentu ini bukan yang mereka idam-idamkan, tetapi mereka tahu bahwa Sang Mesias bisa hadir di dalam bentuk yang bermacam ragam. Lebih penting daripada mempertanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa suatu hal harus terjadi, ketiga raja itu mengupayakan segala cara agar bisa berjumpa dengan Yesus, Sang Mesias, Raja yang akan datang. Saat akhirnya menjumpai Yesus dan mempersembahkan Mur, Emas dan Kemenyan, mereka sekali lagi harus kecewa karena rupanya anak ini dimusuhi oleh sang Raja Herodes. Ia hendak dibunuh oleh raja itu. Mereka bisa mempertanyakan, “Akankah raja baru ini bisa selamat?”. Sekali lagi lebih penting daripada mempertanyakan semua itu, lebih penting bagi mereka untuk mendengarkan tanda-tanda apa yang sedang terjadi dan harus mereka jalani agar bisa menjumpai dan menjaga Sang Mesias. Mereka tidak kembali ke Yerusalem, tetapi pergi lewat jalan lain. Meski hal ini penuh resiko, tetapi mereka memilihnya, karena mereka tahu bahwa jalan lain itu akan menyelamatkan Sang Mesias.

Tidak Ada Kesempurnaan Hidup

Di dunia ini, jika kita ingin mencari kesempurnaan, kita tidak akan menemukannya. Tugas kita hanyalah terus menerus menutupi satu demi satu ketidaksempurnaan yang ada agar menjadi sempurna. Berikut adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Kahlil Gibran, penyair dari Lebanon itu.
Pada suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya;”Wahai guru, bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?”
Sang guru merenung sejenak, lalu menjawab : “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah… dan jangan pernah kembali kebelakang!”
kemudian Gibran lurus di taman bunga lalu sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?” Kemudian Gibran menjawab : “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik, karena aku pikir mungkin yang didepan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi”
Sambil tersenyum sang guru berkata : “Ya… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada …”

Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang kesejatian pencarian kita akan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah hasil dari percampuran antara suka dan duka, berjuang dan bersyukur, menangis dan tertawa, memaafkan dan dimaafkan, mengampuni dan diampuni. Kalau tidak demikian, tentu orang hanya akan sampai kepada angan-angan kosong, sebab tidak ada hidup tanpa kesalahan dan kekurangan.
Menyegarkan Kembali Hidup Kita

Tidak sedikit orang di dunia ini yang hidupnya terus menerus dikuasai oleh kekecewaan-kekecewaan di masa lalu karena apa yang diidamkan tidak tercapai. Ada orang yang terus dirundung duka karena harus menikah dengan orang yang tidak dikasihi; ada yang berduka karena Tuhan mengambil orang-orang yang dicintainya; ada orang yang kecewa karena kegagalan dalam usaha; ada orang yang terus menangisi mengapa pasangannya pernah tidak setia atau dirinya sendiri perah tidak setia; ada orang yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena pernah berbuat kesalahan besar di masa lampau. Orang-orang ini terus menerus hidup di dalam suasana gelap kehidupan dan ingin terus memelihara kegelapan yang ada pada dirinya. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di dalam perasaan berdosa dan bersalah, padahal sebenarnya ia bisa memperbaiki keadaan, menyegarkan kembali kehidupannya dan melakukan perbuatan yang lain yang bisa ikut memperbaiki keadaan yang ada. Kalau manusia terus hidup dalam kegelapan, ia hanya akan menyia-nyikan kesempatan yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Ini tentu tidak seiring dengan apa yang dialami oleh ketiga raja dari timur.

Musuh dari kegelapan adalah terang. Tentang terang ini, Nabi Yesaya berkata, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes 60: 1-2). Gambaran ini adalah gambaran tentang Israel yang berkali-kali dirundung kesedihan kehidupan karena bangsa ini berkali-kali menjadi bangsa jajahan dan terus menerus harus berjuang melewati kesulitan hidupnya. Namun, Nabi Yesaya menubuatkan tentang adanya terang di depan. Guna mencapainya orang perlu melakukan apa yang dikatakan Nabi Yesaya, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”. Tentu gambaran ini mengajak kita berefleksi kembali tentang hidup kita. Tidak ada gunanya menyimpan dendam, menyimpan amarah, menyimpan kekecewaan, menyimpan gengsi, menyimpan kedukaan, karena nyatanya masa lalu tak akan pernah berubah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memperbaiki situasi, dan kembali menjadi terang. Kata bangkit menjadi penting mengingat orang-orang yang ada dalam situasi terpuruk sering-sering merasa diri tak lagi mampu bergerak. Kata menjadi terang amat penting sebab orang-orang yang merasa terpuruk sering lebih mudah mengeja kekurangan dirinya dan lupa memancarkan sinar yang daripadanya. Setiap kali ada orang yang datang kepada saya dan mengatakan tentang kekurangan-kekurangan dirinya, saya akan mengatakan, “Coba sebutkan tiga saja hal baik dari hidup anda”. Saat mengatakan keburukannya, orang ini tampak sedih, tetapi ketika mulai menyebut kebaikannya, ia mulai menyadari ada terang kebaikan di dalam dirinya. Ia berubah dari orang yang kecewa akan hidup dan mulai tahu bahwa hidupnya tidak jelek-jelek amat.

Di dalam diri seorang beriman selalu ada terang Kristus yang ingin dipancarkan di dalam kehidupan. Namun, tidak jarang orang berhenti menangisi diri dan tidak mau memancarkan terang dalam dirinya. Gereja selalu memberi kesempatan bagi kita untuk memaafkan kekurangan diri dan mulai memancarkan sinar. Setiap kali perayaan Ekaristi kita mengakui dosa dan memohon berkat. Juga setiap kali kita mengaku dosa, kita mengakui dosa kita dan memohon kekuatan untuk memperbaiki diri. Yang lebih penting bukanlah masalah mengakui yang sudah pernah dilakukan (sebab masa lalu tidak akan pernah kembali), tetapi bagaimana kita hendak memperbaiki hidup dan tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi dengan pertolongan dari Tuhan.

Selamat memulai kehidupan baru! Tuhan selalu ada untuk membantu kita mengatasi kegelapan-kegelapan di dalam kehidupan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

2,147 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Meningkatkan Kesadaran Orang Muda Katolik dalam Hidup Menggereja

Misa

Kita semua tahu, perkembangan zaman serta teknologi sekarang ini telah merubah begitu banyak hal.Pengaruhnya juga dirasakan oleh para Orang Muda Katolik (OMK) khususnya di Indonesia. Pengaruh ini ada yang baik sekaligus buruk. Pengaruh baiknya adalah bahwa para orang muda ini dapat membuat ide” kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dapat mengembangkan gereja melalui sarana komunikasi yang semakin canggih, serta sebagai sarana penyebaran Injil.

Namun, di sisi lain ada pengaruh buruk yang juga tak boleh luput dari perhatian. Pengaruh buruk ini dapat berupa berkurangnya frekuensi pertemuan tatap muka, yang bagaimanapun juga tetap penting untuk dilakukan.Sebab meskipun kita dapat berhubungan lewat media sosial seperti Whatsapp, Line, dll namun untuk hal – hal mendesak hal itu tidak bisa dilakukan lewat media sosial.

Perkembangan teknologi juga menyebabkan orang – orang melupakan agama asli mereka. Pesta pora, perjudian, pergaulan bebas dan berbagai aktifitas lainnya telah melunturkan nilai – nilai rohanitas dalam diri mereka yang dalam tahap selanjutnya membuat mereka seperti “menyembah” hal – hal tersebut. Mereka lupa bahwa hal tersebut hanyalah kesemuan belaka, mereka melupakan Kasih yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Hal ini dapat terjadi karena adanya krisis yang melanda hidup mereka akibat hal – hal buruk yang digamblangkan oleh teknologi yang semakin liberal.

Orang Muda Katolik sekarang pun juga telah memberikan sinyal kebosanan terhadap acara – acara yang diselenggarakan oleh gereja. Mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan acara yang penting. Orang muda sekarang lebih senang untuk mengisi waktu dengan bermain bersama teman – teman sekolah, menonton sinetron, atau melakukan hal – hal lain yang bersifat duniawi. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan memberikan dampak buruk bagi pewartaan Injil yang menjadi salah satu misi utama gereja.

Hal ini pun juga telah membuat keresahan para pemimpin Katolik. Sejak 1997, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Surat Gembala Prapaskah telah menyerukan keprihatinan terhadap rusaknya keadaban publik, khususnya berupa kerusakan moral hampir di segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Ini menjadi sesuatu yang harus disikapi secara serius. Kita tentu tidak ingin gereja – gereja di Indonesia menjadi seperti di Eropa yang mana hanya orang – orang lanjut usia saja yang mengikuti misa biasa.Gereja hanya ramai disaat misa besar atau saat ada upacara pembaptisan/ kematian. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat ironis. Tentu kita sebagai generasi penerus tak ingin gereja kita di Indonesia menjadi seperti itu kan? Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?

Dari gereja sendiri, harus lebih aktif lagi untuk menggalakkan acara – acara yang melibatkan kaum muda. Pernyataan ”orang muda hanya bertugas jaga parkir” harus dihilangkan secepat mungkin. Orang muda juga harus berperan dalam struktur kepengurusan gereja dan juga dalam proyek – proyek yang dicanangkan oleh gereja itu sendiri. Dalam hal ini, gereja dapat bekerjasama dengan lingkungan untuk membuat acara – acara yang dapat mewadahi kaum muda untuk berkarya seperti rekoleksi, retret,latihan koor, legio Maria, dll. Diharapkan dengan diselenggarakannya acara – acara tersebut dapat semakin mengaktifkan peran kaum muda di gereja. Selain acara – acara yang bersifat rohaniah seperti di atas gereja juga dapat membuat acara yang bersifat sosial seperti penyuluhan, bakti sosial, maupun latihan kepemimpinan untuk melatih skill serta kepekaan mereka terhadap kondisi sosial yang ada. Bahkan mungkin jika memungkinkan, gereja dapat bekerjasama dengan para keluarga untuk menemukan solusi terbaik bagi putra – putrinya, karena orang tua pasti tahu apa yang disenangi oleh anak – anak mereka yang selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi.

Dari sisi kaum muda itu sendiri, juga jangan acuh tak acuh terhadap acara gereja tersebut. Percuma jika hanya gereja saja yang aktif, tetapi kita sebagai kaum muda tak peduli terhadap hal tersebut. Komunikasi dua arah sangat diperlukan untuk mensinambungkan hal ini agar menjadi lebih baik. Kepengurusan organisasi yang tertata rapi juga dapat lebih mempermudah kinerja pada prakteknya. Hal ini yang masih harus perlu ditingkatkan saat ini. Kita juga harus sadar bahwa kita menjadi ”ujung tombak” pewartaan iman gereja. Jika hal ini tidak dapat tercapai, bukan tidak mungkin akan muncul ketidakharmonisan serta ketidakaturan dalam hidup menggereja, yang pada akhirnya dapat membuat gereja menjadi mati karena kekurangan daya.

Kita ini adalah kaum minoritas, jadi jangan semakin menenggelamkan diri sendiri. Status ini hendaknya membuat kita sadar tentang pentingnya keberadaan kita dalam hidup menggereja. Semoga ke depannya kaum muda ini dapat menjadi orang – orang yang produktif dan dapat menghasilkan sesuatu dari usaha dan kerja keras mereka. Amin!!

Referensi dari https://penyuluh-agama-katolik.blogspot.co.id/2014/02/meningkatkan-minat-orang-muda-katolik.html?m=1

4,075 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Seberapa Penting Uang Bagi Hidup Anda?

Dewasa ini, kehidupan kita tak bisa lepas dari uang. Uang sudah menjadi semacam ”trademark” dan bahkan sudah seperti oksigen yang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Hal ini dapat terlihat dari perputaran uang yang begitu cepat, yang didukung pula oleh kehidupan masyarakat yang serba konsumtif. Namun, sebegitu pentingkah fungsi uang dalam hidup kita?

Ada sebuah pernyataan yaitu, ”uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang“. Hal ini jika diresapi secara mendalam memiliki arti yang sangat kompleks. Gampangnya, kita tidak bisa membeli semua sesuatu dengan uang seperti misalnya cinta, kesehatan, hidup, dll. Tetapi pada realitanya, apa yang mendukung hal-hal tersebut tetap perlu diperjuangkan dengan uang. Seperti apa contohnya, berikut akan kami paparkan :

1. Cinta

Orang-orang beranggapan bahwa cinta adalah suatu ketulusan untuk saling menerima dan memahami antara satu pihak dengan pihak lainnya tanpa campur tangan dari uang atau kekayaan. Dan ya, itu memang benar. Cinta yang sejati memang cinta yang seperti itu tadi. Cinta yang hanya berorientasi pada uang/materi tidak akan bisa awet. Sudah banyak contoh yang terjadi, dan anda saya yakin sudah dapat menyimpulkan sendiri maknanya.
Namun yang perlu kita sadari adalah dalam realitanya, uang tetap memiliki pengaruh yang sangat penting terutama bagi yang sudah masuk ke jenjang berkeluarga. Sekolah butuh uang, makan minum butuh uang, bangun rumah butuh uang, dan masih banyak lagi kebutuhan lainnya. Okelah jika kita katakan bahwa yang penting adalah rasa saling menerima dan percaya terhadap keadaan yang terjadi. Tapi apakah hal itu akan terjadi terus menerus? Tidak juga kan? Jadi, anda harus realistis.

2. Kesehatan

Kesehatan adalah karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita sebagai manusia harus merawatnya supaya kita tidak jatuh sakit. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin berolahraga, makan yang bergizi, maupun tidak merokok. Uang memang tidak bisa membeli kesehatan. Maka dari itu ada pepatah lebih baik “mencegah daripada mengobati“.
Tetapi uang tetaplah uang. Jika kita sudah terlanjur sakit maka kita harus beli obat dan itu butuh uang. Dirawat di rumah sakit juga butuh uang. Semuanya perlu uang.

3. Pengalaman

Pengalaman didapat dari bagaimana diri kita terlibat dalam suatu peristiwa, dari situlah kita mendapatkan pengalaman. Pengalaman adalah soal bagaimana kita menyelami sesuatu tersebut. Uang tidak bisa membeli pengalaman, contohnya: Jika anak anda yang masih kecil ingin mengendarai mobil mungkin anda bisa membelikannya simulator. Tapi apa yang didapatkan tetaplah berbeda, tidak seperti aslinya. Karena kondisi di dalam simulator dan di jalanan yang asli tentu berbeda, tingkat kesulitannya pun berbeda. Uang tetap tidak bisa menggantikannya.

Tetapi jika kita ingin dapat pengalaman pergi ke Korea misalnya, kita tetap butuh uang bukan? Lagi-lagi segalanya butuh uang.

4. Waktu

Waktu yang telah berlalu tidak bisa kita beli dengan uang. Ia tak akan pernah kembali bagaimanapun caranya. Waktu adalah permata yang tak ternilai harganya, jadi gunakanlah waktu anda dengan bijak.

Lalu, apa peran uang?
Kita memang tak bisa membeli waktu tapi dengan uang, kita dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan lebih baik. Contohnya demikian, jika anda jalan kaki dari Jogja ke Jakarta tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama. Tapi jika kita memiliki uang, kita dapat memesan tiket pesawat dan membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Atau begini, jika kita mudik lebaran tidak membawa oleh-oleh tentu rasanya akan kurang nyaman ketika bertemu dengan keluarga. Lain hal jika kita punya uang, kita dapat memberi oleh-oleh yang pastinya akan membuat waktu yang ada menjadi lebih menyenangkan.

5.Hidup

Hidup hanya sekali, kita tidak bisa hidup lagi setelah mati. Sebab, kehidupan adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepada kita. Uang hanya dapat membantu kita untuk bertahan hidup seperti makan, berobat, bertempat tinggal, dan lain-lain, namun tetap tidak bisa membeli kehidupan itu sendiri.

Sebaiknya, gunakanlah uang secara bijak,karena uang dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Dan juga jangan terlalu mendewakan uang, tapi juga jangan sampai tidak punya uang. Tidak baik berlebihan, tapi kekurangan pun juga tidak baik. Buatlah uang sebagai alat untuk berbagi kepada sesama dan sebagai alat supaya hidup kita dapat lebih baik.

3,302 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Doa untuk Kekasih

Bapa yang baik, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberiku hadiah yang begitu istimewa. Aku juga bersyukur atas cinta yang telah Kau tumbuhkan di dalam hati kami masing-masing. Bukalah hati kami masing-masing agar kami mampu saling memahami dan saling menerima apa adanya. Tumbuhkanlah rasa percaya di antara kami supaya kami mampu saling mengerti satu sama lain. Bantulah kami untuk menjaga kesucian cinta kami berdua supaya akhirnya kami pantas untuk menerima sakramen pernikahan yang suci.

Ya Bapa, berkatilah selalu ia dalam tugas dan pekerjaannya sehingga nanti ia mampu pula untuk bertanggungjawab terhadap keluarganya. Berkatilah selalu kedua orang tua kami masing-masing supaya merestui hubungan kami ini.

Ke dalam tangan-Mu ya Bapa kuserahkan semua doa dan permohonanku ini. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

4,215 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

​Khotbah Rm. Joko Lelono: Mensyukuri yang Baik

Mensyukuri yang Baik

Suatu hari saya diingatkan oleh satu bagian dari Injil yang menurut saya menarik. Di sana digambarkan Tuhan Yesus yang tampak kejam di hadapan seorang ibu (bdk. Mat 15: 21-28). Saat itu ada seorang ibu yang meminta kesembuhan bagi anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Namun, karena orang itu tidak berasal dari orang Israel, Yesus mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Bagian yang menarik bagi saya adalah bagaimana ibu itu menunjukkan ketegarannya bahkan ketika dalam arti tertentu Yesus menyebutnya sebagai anjing. Demi mengingat anaknya yang kesakitan, ibu itu mengatakna, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Rupanya Yesus mengenal ketulusan hati ibu itu lalu mengatakan, “Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kau kehendaki!” Gambaran ini menunjukkan kepada kita tentang semangat juang, tentang sebuah keyakinan bahwa sesuatu patut untuk diperjuangkan. Bagi ibu itu, anaknya adalah pribadi yang patut untuk diperjuangkan, meski ia harus mengalami rasa malu.
Membaca Injil pada bagian ini, saya lalu diingatkan oleh berjuta-juta bahkan bermilyar orang yang memperjuangkan kehidupan di dunia ini. Bagi masing-masing orang ada cerita-cerita kepahlawanan yaitu saat seseorang tetap menghalau kesulitan hidup demi sebuah nilai yang dia perjuangkan. Di suatu tempat ada seorang ibu yang meninggalkan pekerjaan demi merawat anak semata wayangnya. Di tempat yang lain ada seorang bapak yang mau bekerja sampai jauh larut malam hanya demi melihat anak dan istrinya bisa makan. Di bagian dunia yang lain ada seorang gadis yang mau menanggung rasa malu ketika harus mempertahankan anaknya meski pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Di bagian yang lain lagi ada cerita tentang seorang pastor yang harus menyusuri sungai dan menaiki bukit untuk bertemu dengan umatnya yang hanya tiga orang saja. Di tempat lain ada cerita seorang istri yang rela bekerja banting tulang ketika suaminya sakit dan tidak bisa lagi memberi penghidupan baginya. Juga di bagian lain dunia ini, ada banyak orang tua yang rela kehilangan banyak kebebasannya saat harus merawat anaknya yang memiliki keterbelakangan mental. Di bagian bumi yang lain ada seorang guru yang rela dibayar murah demi melihat banyak generasi muda berkembang optimal. Rasanya ini semua menjadi bagian dari kisah-kisah di dalam dunia kita.

Perjalanan untuk menjalani kisah-kisah kehidupan yang penuh perjuangan ini patut diacungi jempol. Sayangnya masyarakat kita lebih mudah untuk melihat keburukan dan kurang mampu mengapresiasi kebaikan. Saat di pengakuan dosa kadang-kadang saya mendengar umat yang mengatakan banyak sekali kesalahannya. Dalam situasi macam ini biasanya saya akan mengatakan, “Sebutkan tiga saja kebaikan ada!”. Pada umumnya dia akan mengalami kesulitan untuk menyebutkannya. Ini menandakan bahwa kita tidak selamanya mudah untuk menerima kenyataan bahwa kita ini juga adalah pribadi yang baik. Tiap-tiap dari kita memiliki cerita-cerita berjuang demi sebuah nilai seperti halnya dialami oleh ibu dalam Injil tadi. Maka perkenankanlah saya mengatakan terima kasih atas usaha anda untuk memelihara kebaikan. Dalam hati ada dorongan bagi saya untuk mewakili Tuhan menyampaikan terima kasih pada anda. Terima kasih pada anda orang tua yang mengupayakan sekian banyak pengorbanan untuk anak-anaka. Terima kasih untuk waktu-waktu yang anda habiskan untuk mengupayakan kehidupan bagi mereka; untuk segala tangis anda untuk saat-saat sakit mereka; untuk segala usaha anda melewati kesempitan hidup yang kadang tidak memberi anda kesempatan untuk beristirahat. Terima kasih kepada anda orang muda yang memperjuangkan kehidupan masa depan. Terima kasih untuk kesetiaan anda melewati hari-hari dengan belajar meski rasanya tidak menyenangkan; untuk tangisan anda menyiapkan kehidupan berkeluarga; untuk perjuangan anda meniti karir kehidupan demi menjadi berguna bagi keluarga, Gereja dan masyarakat. Terima kasih untuk para guru yang sudah memberikan banyak usaha memajukan kaum muda. Terima kasih untuk kesabaran anda menjagai anak-anak yang tak selamanya mudah diatur; untuk kesetiaan anda mengajari mereka membaca dan menulis serta memahami kehidupan dengan lebih baik. Terima kasih untuk para petani yang menyediakan makanan bagi kehidupan kami. Terima kasih untuk jerih lelah anda merawat tanah hingga menghasilkan bahan makanan bagi kami; untuk kekecewaan anda yang terkadang menemukan bahwa penghasilan anda tidak mencukupi untuk hidup keluarga; untuk pengorbanan anda bagi kehidpan saudara. Litany terima kasih ini bisa diperpanjang sendiri oleh anda. Namun, yang jelas saya hanya ingin mengatakan, “Terima kasih karena anda memperjuangkan kehidupan meski harus menjalani perjuangan!”

Agama dan Perannya

Satu-satunya alasan mengapa saya mengucapkan terima kasih mewakili Tuhan adalah karena kita tahu bahwa dalam hidup ini kita melakukan pekerjaan Tuhan. Tuhan sebenarnya ingin menjumpai anak-anak, dan anda sebagai orang tua melakukannya untuk Tuhan. Tuhan ingin mendampingi anak-anak-Nya belajar, dan anda sebagai guru melakukannya. Tuhan ingin menjumpai orang-orang sakit dan merawat luka-lukanya, dan anda sebagai tenaga medis melakukannya untuk Tuhan. Tuhan ingin hadir bagi mereka yang sedang sedih, dan anda sebagai suami atau istri melakukannya untuk pasangan anda. Demikianlah iman meyakini bahwa masing-masing dari kita ini adalah tanda dan sarana kehadiran Tuhan. Kita ini adalah sakramen kehadiran Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita sudah sedia dan mau melakukannya? Dalam batas-batas tertentu kita sudah melakukannya, maka saya sampaikan ucapan terima kasih untuk hal ini.

Sebagai orang-orang beriman, kita meyakini sebuah tugas penting yaitu bahwa kita perlu membawa banyak orang mendekat kepada Tuhan. Hal ini bukan pertama-tama berarti kita membawa mereka kepada agama Katolik. Memang itu juga menjadi tugas, tetapi bukan yang utama. Yang utama adalah membuat masing-masing saudara kita merasakan cinta kasih Allah di dalam hidupnya. Bunda Theresa dari Kalkuta yang terkenal karena kesuciannya itu memulai misinya dengan satu mimpi saja yaitu merawat saudara-saudarinya yang sekarat di pinggiran kota Kalkuta. Saat itu ada banyak gelandangan yang akhirnya meninggal tanpa ada yang menemani. Satu hal yang Bunda Theresa lakukan adalah memandikan mereka, merawat luka-lukanya dan membuat mereka merasa nyaman berada di dekat orang-orang yang merawat dia. Tak jarang mereka ini meninggal sebelum sempat dirawat sampai sembuh sehingga seorang teman suster Theresa mengatakan, “Mengapa kita merawat orang-orang ini? Bukankah lebih baik merawat mereka yang masih punya kemungkinan untuk hidup?” Jawaban Bunda Theresa jelas, “Selama hidup mereka tidak pernah merasakan cinta kasih, maka paling tidak di akhir hidup mereka, mereka merasa dikasihi!” Kisah ini mengesan bagi saya karena menunjukkan mimpi sederhana yang benar-benar menyentuh. Ada sebuah nilai yang diperjuangkan yaitu perasaan dikasihi. Di sinilah terletak inti iman kita yaitu supaya masing-masing orang merasa dikasihi:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22: 27-40).

Sabda ini serasa menyatakan kepada kita dua hal. Yang pertama, terima kasih kepada anda yang sudah berjuang mencintai Allah dan sesama. Yang kedua, bagi anda yang belum mampu melakukannya, selalu terbuka kemungkinan untuk menunjukkan cinta anda.

Semoga perasaan dicintai dan kemampuan untuk mencintai ini ada di dalam hati kita. Dengan demikian kita sedang mengupayakan agar dalam kehidupan kita ini terpancar kebaikan dan rahmat. Tatkala masing-masing pribadi mampu menunjukkan kasihnya, akan semakin banyak orang merasa dikasihi. Di sanalah akan berdiri Kerajaan Allah, saat di mana kasih-Nya semakin dirasakan. Tangan-tangan, senyuman, tangis dan tawa, serta perjuangan anda menjadi sarana kehadiran-Nya di tengah kehidupan ini. Terima kasih untuk segala yang sudah anda lakukan dan mari kita berjuang bersama membawa kasih Tuhan di tengah-tengah kehidupan ini.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

783 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Tatkala Yesus Naik ke Surga

Bunda Maria

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28: 20)

Tatkala Yesus naik ke surga, Dia mewariskan satu hal besar kepada umat manusia yaitu iman. Yesus yang menghadirkan Allah di tengah manusia telah menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah akan meninggalkan kita. Ia yang hadir bagi orang miskin; Ia yang hadir bagi orang yang terpinggikan; Ia yang menyapa kesombongan manusia dengan kritikan yang tajam tetapi menyentuh hati; Ia yang menyembuhkan hati atau pun jasmani yang sakit; Ia yang rela mati bagi sahabat-sahabat yang dicintai-Nya. Yesus sudah menunjukkan bagaimana Allah mencintai manusia dengan luar biasa. Yesus sudah menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, tetapi Allah yang selalu menyertai perjalanan hidup manusia. Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur di tengah-tengah penderitaan umat manusia. Ia ingin membawa manusia untuk semakin dekat kepada-Nya, merasakan damai dan sejahtera bersama dengan Dia.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan perintah Agung untuk mewartakan Injil-Nya membaptis banyak orang dan menyatakan satu ha penting yaitu penyertaan-Nya yang akan selalu ada bagi kita. Rasanya ini adalah hal yang luar biasa, suatu fondasi kehidupan yang tidak bisa tidak menyadarkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan pribadi-pribadi yang siap untuk menjadi pewarta. Para rasul dan pengikutnya tidak tinggal diam setelah kebaikan dan juga pentakosta. Mereka mewarta sampai akhir masa hidup mereka. Iman ini beranak pinak. Jumlah pengikut Kristen tidak semakin berkurang seiring menuanya para rasul dan wafat mereka satu per satu. “Satu tumbang, seribu terbilang”, itu kata sebuah puisi. Ada wajah-wajah baru yang hadir di sebagai pengikut Kristus. Ada pribadi-pribadi baru yang mengisi perjalanan Gereja dan terus berjalan selangkah demi selangkah.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia tidak membiarkan para pengikutnya menjadi yatim piatu, tetapi mengutus Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup manusia. Ia yang terus menyertai perjalanan iman Kristiani sampai dengan hari ini, sampai dengan diri kita saat ini. Ia yang menginspirasi banyak orang menjadi misionaris, menjadi imam, bruder, suster dan banyak kaum awam untuk meninggalkan tempat asalnya dengan satu niat yaitu memperkenalkan Yesus ke tengah-tengah umat manusia. Di tempat kita masing-masing saat ini, kita bisa menikmati buah-buah dari karya-karya mereka. Paroki kita masing-masing menjadi ladang bertumbuhnya iman. Ditilik dari perjalanan waktu, kita ini hanyalah sejengkal bagian dari sejarah perjalanan iman itu. Sudah ada banyak orang yang mendahului kita menghidupi dan menghidupkan iman ini. Ke depan, mungkin masih akan ada orang-orang yang melanjutkan iman ini. Kita berperan untuk memelihara apa yang sudah ditanam. Semoga tanaman iman kita subur dan membawa kesegaran.
Kini, iman itu sudah tumbuh dan telah ada di dalam hidup kita. Saya menawarkan dua pertanyaan penting untuk kita masing-masing. Pertama, bagaaimana kita merawat iman dalam diri kita sendiri? Kedua, bagaiaman kita merawat iman dalam diri pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita?

Iman dalam Diriku

Satu ciri utama dari kehidupan adalah misteri. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, bahkan kadang orang tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tak jarang pula manusia tidak sadar tentang apa yang sudah terjadi di dalam hidup ini. Tingkat kemampuan manusia untuk menyadari situasi-situasi dan peran-peran di dalam hidupnya terbatas. Ada orang yang mengatakan, “Saya tidak tahu apakah saya masih bisa menghirup nafas besok pagi. Saya tidak tahu apakah saya bisa setia pada pasangan sampai akhir hayat. Saya tidak tahu apakah hidup saya akan terus berkecukupan dalam hidup. Saya tidak tahu apakah situasi dunia akan terus menerus aman. Namun, yang saya tahu, saya mempunyai iman dan dengan iman itu saya meyakini bahwa Allah akan terus menemani dan menyertai perjalanan hidup saya, entah saya berhasil, entah saya gagal; entah saya bahagia, entah saya sedih. Sebagai manusia, saya pun sadar bahwa iman saya terus menerus perlu dipupuk. Ada kalanya saya lemah, ada kalanya saya menjadi tidak percaya, tetapi ada keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya meskipun saya lemah.”
Namun, betapa banyak pribadi di dalam kehidupan ini yang mengalami kekacauan karena tidak memiliki pegangan dalam hidup. Hidupnya diombang-ambingkan oleh kenyataan bahwa dirinya terbatas. Kesuksesan membuatnya menjadi pribaid yang angkuh, kegagalan membuat dunia terasa runtuh. Tak peduli, betapa Tuhan pernah memberikan berkat berlimpah dalam hidupnya, dia bisa menyalahkan Tuhan untuk kesulitan yang sedang dialaminya. Padahal demikianlah memang perjalanan kehidupan. Orang mengatakan hidup seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan jalan rata terus menerus. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan kegembiraan terus menerus. Namun, iman kepada Tuhan menjanjikan penyertaan yang terus menerus. Seperti halnya air yang semakin dalam semakin tenang, demikianlah hidup manusia yang semakin dalam imannya menjadi semakin tenang. Sementara, “air beriak tanda tak dalam”. Artinya, orang yang imannya dangkal, hidupnya dengan mudah diombang-ambingkan oleh persoalan kehidupan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah iman yang diwariskan Tuhan itu tinggal dalam hidup kita? Apakah kedalaman batin yang damai itu sudah menjadi tujuan hidup kita? Ataukah kita hanya ingin mengejar kesuksesan, keberhasilan dalam hal ekonomi, menjadi yang terbaik dalam hal tampilan luar di tengah-tengah masyarakat. Konsep orang beriman dan konsep orang yang hanya mencari kesuksesan untuk diri sendiri adalah konsep yang saling bertentangan. Sementara dalam konsep masyarakat berprestasi, hidup dianggap tidak sempurna, karena itu manusia berlomba untuk menjadi nomer satu, di jalan meditasi, terutama di tingkat kesempurnaan, diyakini bahwa hidup adalah serangkaian kesempurnaan. Orang yang mengejar sukses berpikir bahwa kesuksesanlah yang membuat dia mengalami damai, sementara orang yang mengalami hidup sebagai jalan kedamaian, kedamaianlah yang membuatnya mengalami sukses. Ingat tingkat kesuksesan itu ada batasnya dan batas antara sukses dan gagal itu sangat tipis. Orang mengatakan itu seperti telur di ujung tanduk, yang amat mudah terguling dan pecah. Semoga dasar kedamaian kita bukanlah kesuksesan kita, tetapi semoga dasar kesuksesan kita adalah kedamaian yang ada di hati kita.

Sudahkah kita memelihara iman yang diwariskan Yesus kepada anda? Tuhan akan terus menyertai kita, hanya mungkin kita yang kurang membuka hati akan kehadirannya. Hari ini, cobalah mencari waktu tenang untuk melihat satu persatu bentuk-bentuk penyertaan Tuhan di dalam hidup anda.

Memelihara iman Pribadi-Pribadi yang Dipercayakan Tuhan
Tiap pribadi di dalam masyarakat kita memiliki peran masing-masing untuk memelihara iman orang-orang di sekitarnya. Maka dari itulah, bapak-ibu yang anaknya dibaptis selalu diminta kesediaannya untuk mendampingi iman anak yang akan dibaptis. Demikian juga seorang imam ketika ditahbiskan juga mendapat peran yang sama.

Sekarang pertanyaan bagi kita, “Apa arti perintah Tuhan untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi?” Rasanya kita tidak harus berpikir tentang orang-orang yang ada di jauh sana. Mari kita berpikir tentang orang-orang yang ada di sekitar kita; saudara-saudari yang dipercayakan Tuhan bagi kita. Bagi anda seorang Bapak, apa yang sudah anda lakukan untuk memelihara iman dalam hati anak anda sehingga hidupnya tidak mudah terombang-ambingkan oleh tantangan kehidupan, tetapi seperti air yang dalam dan tenang. Bagi anda seorang prodiakon lingkungan, apa yang sudah anda lakukan untuk memastikan pendidikan iman berjalan dengan baik di lingkungan-lingkungan. Bagi anda seorang misdinar, apa yang anda buat agar bisa melayani umat dengan baik dalam perayaan Ekaristi. Bagi anda seorang guru, bagaimana peran anda dalam mengajarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan kehidupan bagi anak-anak. Jangan biarkan anak-anak hanya besar di kepala, tetapi kecil di hati. Kalau demikian kita hanya akan menciptakan monster-monster yang tahunya hanya soal benar salah, tetapi tidak paham tentang bagaimana harus bertindak dengan bijaksana di tengah-tengah kehidupan.
Bagaimana dengan paroki kita? Rasanya kita perlu berpikir bagaimana menumbuhkan iman yang kuat di paroki kita. Tidak sedikit umat yang tidak datang ke Gereja. Tak kurang-kurang orang yang tidak pernah mengaku dosa. Hingga akhirnya cukup banyak juga yang meninggalkan Gereja dengan berbagai alasan dan alasan paling besar adalah soal pernikahan. Betapa kita harus berpikir tentang masalah ini. Sudahkah kita memelihara iman dari pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita? Gereja kita lahir dari keringat dan darah para pendahulu kita. Gereja kita menantikan masa depan cemerlang di depan sana. Kitalah yang ada di sini saat ini yang perlu berpikir dan mengusahakan agar Gereja masih memiliki masa depan.

Sebuah Tantangan

Gereja ada di tengah arus sejarah dunia. Arus perjalanan ini sudah menggerus iman di banyak tempat. Jumlah umat yang mengaku Katolik di Brazil terus berkurang sekitar satu persen setiap tahunnya sejak 1991; jumlah orang Amerika yang mengaku Katolik terus berkurang sekitar setengah persen setiap tahunnya sejak 1980an. Gereja-Gereja di Eropa hanya tinggal dihadiri oleh segelintir umat tua dengan sejumlah kecil romo yang juga sudah tua. Sementara arus perjalanan sejarah dunia yang semakin modern itu juga sudah sampai di tempat kita, di Indonesia. Kalau tidak hati-hati masa depan kita akan senada dengan apa yang terjadi di Eropa. Gereja yang dibangun megah ini hanya akan tinggal kosong melompong atau harus dijual untuk dijadikan taman kota.

Kita saat ini berada di persimpangan sejarah iman Katolik di tempat kita masing-masing. Semoga kita masih sempat memelihara iman itu di dalam hati kita, juga di dalam hati tiap-tiap orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Jangan sampai kita lengah dan kehilangan arah hingga tanpa sadar kita sudah membawa iman itu ke jurang kehancuran. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk terus menghidupi dan menghidupkan iman ini. Tuhan selalu menyertai kita, sekarang saatnya kita yang harus siap menyertai Tuhan untuk menjumpai hati kita masing-masing dan hati pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan bagi kita.


Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,386 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Kotbah Rm. Joko Lelono: Karisma

Karisma

Di tengah-tengah kehidupan ini, setiap manusia mempunyai tugas masing-masing. Tidak ada dua orang pun yang mempunyai kewajiban yang sama. Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing di dalam kehidupan ini. Tuhan menciptakan dunia dengan segala keanekaragamannya masing-masing. Coba bayangkan kalau semua orang menjadi seorang guru, lalu siapa yang mau memasak. Namun kalau semua orang menjadi juru masak, lalu siapa yang makan. Bisa kita bayangkan juga kalau semua orang adalah Presiden, lalu siapa yang akan bertindak sebagai warga masyarakat. Tiap orang di dunia ini memiliki perannya masing-masing. Bahkan, di dunia ini ada orang yang jatuh menjadi sakit, menjadi tua, menjadi lemah, sementara yang lain menjadi semkain kuat, berkuasa dan bisa menentukan banyak hal untuk hidupnya. Dalam kasus ini pun, Tuhan mencipta keanekaragaman yang indah.
Dalam perannya masing-masing, setiap orang Kristen diminta untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Mengikuti Sabda Yesus tentang Rumah Bapa, kita bisa mengatakan bahwa setiap orang di dunia ini dipanggil untuk menciptakan Kerajaan Allah, menciptakan damai, menciptakan kebaikan bagi orang-orang yang berada di sekitar kita. Kebaikan Allah tidak pernah menjadi monopoli kita masing-masing tetapi menjadi bagian-bagian yang membangun Kerajaan Allah. Sayangnya, banyak orang merasa ragu, banyak orang merasa tidak mampu untuk berperan membangun kebaikannya. Ketika Tuhan meminta seseorang untuk bisa memaafkan temannya, orang yang sama mengatakan, “Maaf, kalau dengan yang ini aku tidak bisa!” Atau bisa juga orang yang selalu menunda untuk melakukan kebaikan dengan berbagai alasan yang intinya dia ragu-ragu dalam mengikuti Tuhan. Para rasul memilih tujuh diakon yang punya peran masing-masing. Mereka ini pribadi-pribadi yang mantap dan penuh dengan Roh Kudus. Artinya, mereka tahu di mana mereka berada dan ke mana mereka akan melangkah. Salah satu dari mereka akhirnya menjadi seorang martir pertama. Namanya Stephanus. Dengan keberaniannya, ia bisa memandang kehadiran Yesus di tengah-tengah kehidupan umatnya.
Mimpi Memandang Tuhan

Bacaan Injil tentang Rumah Bapa mengajarkan kepada kita tentang betapa menariknya rumah Bapa itu, tempat di mana manusia menemukan kedamaian, tempat di mana manusia bisa memandang muka dengan muka dengan Allah. Namun, sebelum sampai kepada tahap itu, Yesus megnatakan juga soal pentingnya manusia melakukan pekerjaannya di bumi ini. Yesus bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yoh 14: 12). Rasanya Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kehadiran-Nya menjadi nyata dalam pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan untuk meniru Dia dalam menghadirkan Kerajaan Allah. Dalam peristiwa-peristiwa itulah meski masih di dunia ini orang bisa menatap dari muka ke muka dengan Allah.

Rasanya kita bisa meraba-raba beberapa sikap positif yang bisa kita pelajari dari Dia. Yesus adalah orang yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Ia tersentuh oleh pribadi-pribadi yang datang kepadanya dengan beban, baik sakit secara fisik mapun sakit secara batin. Yesus adalah orang yang mudha terpikat oleh kebaikan. Ia memuji orang Samaria yang baik hati, tanpa melihat apa latar belakangnya, tetapi mengagumi ketulusan hati. Ia tidak mudah terjerumus pada arus mengkotak-kotakkan masyarakat: bahwa orang dalam kelompok ini baik, orang dalam kelompok lain buruk. Sikap semacam bukannya menghadirkan damai, malahan melahirkan permusuhan dan keinginan untuk saling mendominasi. Yesus pribadi yang mencintai dengan tulus bahkan kalau harus berkorban nyawa. Nyatanya Dia menjadi pribadi yang dengan cara khusus mengungkapkan cinta-Nya kepada umat manusia.

Rasanya tiga sikap ini bisa kita teladani dari pribadi Yesus: belas kasih, terpikat pada kebaikan, dan berjuang demi cinta kasih. Dengan melakukannya, kita berjuang untuk bisa menjadi saksi-saksi atas karya Tuhan di tengah kehidupan kita. Apakah semuanya akan berjalan dengan mudah? Tentu saja tidak, tetapi kehidupan akan menjadi penuh arti karena masing-masing dari kita berjuang untuk bisa memandang kehadiran Tuhan di tengah-tengah dunia, mengalami surga di tengah-tengah kehidupan kita.
Bagaimana Caranya?

Salah satu cara untuk menjadi saksi-saksi kehadiran Tuhan adalah dengan membangun apa yang disebut sebagai integritas atau Karisma. Menurut seorang filsuf bernama Weber, setiap orang memiliki otoritas, kuasa di dalam dirinya. Kuasa itu bisa lahir atas dasar hukum misalnya dalam kasus seorang menjadi istri orang lain; atau dalam kasus seorang polisi menilang seorang pelajar yang tidak membawa SIM. Otoritas bisa lahir karena diturunkan oleh karena posisi tertentu. Dia menyebutnya sebagai otoritas tradisional. Contohnya adalah seorang yang diangkat menjadi raja, atau seorang yang menjadi seorang pastor. Otoritas yang ketiga adalah otoritas yang lahir dari integritas seseorang, karena sikap hidupnya yang bisa diteladani, karena kemuliaan sikap hidupnya. Otoritas ini disebut sebagai karisma. Otoritas ini tidak bisa diberikan, melainkan sesuatu yang diupayakan melalui sikap hidup tertentu. Sikap sederhana seorang pastor bisa menjadi teladan bagi umatnya. Kesediaan orang tua menemani anaknya menumbuhkan rasa hormat dalam diri anak-anak. Keseriusan seorang mahasiswa menumbuhkan rasa hormat dari dosennya dan sebagainya.

Saya menawarkan kepada kita untuk berjuang dan mengupayakan agar dalam hidup kita, kita mencapai otoritas karismatis itu. Kita tidak lagi hanya disibukkan oleh hal-hal yang sekedar penampilan artifisial melainkan oleh sebuah sikap hidup atau keutamaan. Dengan merengkuh karisma itu, kita membangun kebanggaan diri kita sebagai seorang istri, sebagai seorang pastor, sebagai seorang prodiakon, sebagai seorang ketua lingkungan, sebagai seorang guru dan sebagainya. Orang tidak bermain sandiwara dan hidupnya didukung oleh tindakan-tindakannya sehingga dengan mudah ia bisa mempengaruhi orang lain.

Saat ini kita sedang menjadi saksi hidup dari masyarakat yang kehilangan hormat kepada karisma ini. Lihatlah betapa banyak orang tua yang tidak lagi dihormati oleh anak-anaknya karena memang di dalam perjalanan masa kecilnya tidak bisa menunjukkan sikap yang bisa menjadikannya bisa dihormati. Kita bahkan menjadi saksi atas anak-anak yang menjadi korban dari broken home yang hasilnya adalah kekacauan di dalam hidup. Pemerintahan juga bisa jadi kehilangan daya karismanya saat tidak mengambil keputusan. Dalam lingkup Gereja, ada juga pastor yang kehilangan otoritas karisma ini. Dalam situasi semacam ini, kita sedang akan mengalami penurunan taraf kehidupan masyarakat. Sementara selama ini semua hal sudah berjalan dengan normal karena ‘rasa hormat’ kepada yang lain, sekarang hal-hal kecil saja bisa masuk ke pengadilan termasuk soal masalah warisan. Maaf untuk mengatakan bahwa, kita sedang dalam ambang kehancuran yang kita buat sendiri.
Kita

Bagi kita masing-masing, kita bisa bertanya tentang di mana letak kita saat ini. Sudahkah anda membangun karisma anda sebagai seorang ibu, Bapak, Guru, Pastor, Suster, dan sebagainya? Karisma nampak dalam diri pribadi-pribadi yang semakin mantap dengan pilihan dalam hidupnya, dan menjadi bijaksana dalam bertindak. Ketika kita membangun karisma ini, pada waktu yang sama kita sedang membangun Kerajaan Allah.
Sudah saatnya untuk menegaskan langkah. Sikap hidup kita tidak lagi ragu-ragu, tetapi kita yakin dengan posisi kita di tengah-tengah kehidupan. Kita membangun integritas hidup kita agar supa ya kita bisa menjadi saksi-saksi hidup atas karya Allah di tengah-tengah kehidupan kita.

Salam dan selamat karisma integritas anda masing-masing.


Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

787 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Tema Paskah 2017 Gereja Gamping

Bangkit Bersama Kristus untuk Membangun Peradaban Kasih.

Sampul Paskah 2017

Sampul Paskah 2017

Diatas adalah tema paskah 2017 untuk Gereja Gamping. Semoga dengan tema ini, kita semakin dapat mengasihi sesama kita. Tidak membeda-bedakan dan dapat menghancurkan dendam dari diri kita.

Untuk itu sebabnya betapa kalimat “Bangkit bersama Kristus untuk Membangun Peradaban Kasih” sangat tepat untuk Paskah kali ini.

Selalu ingatlah bahwa setelah Yesus wafat, dan Ia bangkit. Dan saat itu lah kita bersama-Nya untuk membangun peradaban kasih.

1,137 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini