Nyala Nyawa Katolik Dari Jantung Mataram

THS THM

Gemuruh langkah prajurit Nusantara tak lagi dapat kita dengar, namun hal itu bukan berarti lajunya berhenti dimakan jaman. Indonesia didiami oleh berbagai macam suku bangsa yang berbeda satu dengan yang lain. Menghadapi pola kehidupan yang selalu berubah, lahirlah Pencak Silat sebagai cara masyarakat nusantara menghadapi perubahan jaman sekaligus sebagai bentuk perlindungan diri. Pencak Silat kini tak hanya digemari sebagai pegangan pribadi, tetapi budaya ini telah berkembang menjadi salah satu olah raga bela diri yang banyak diminati, bahkan kiprahnya di kancah internasional bisa dibilang sukses menyamai keberadaan karate, judo, tae kwon do, dan berbagai seni bela diri dari belahan bumi lainnya.

Di Indonesia sendiri, seni beladiri Pencak Silat berkembang dihampir seluruh daerah. Dari tanah Jawa, tak bisa dipungkiri bahwa Pencak Silat Mataram Kuno adalah salah satu aliran Pencak Silat yang tertua di Indonesia. Mengutamakan gerak ritmis yang lembut, Pencak Silat Mataram Kuno menyembunyikan gerak mematikan dalam setiap keindahan geraknya. Namun apa jadinya bila gerak Pencak Silat mematikan ini dipadukan dengan ajaran dan iman Katolik? Berdoa sambil memukul? Memuji Allah sambil memasang kuda-kuda? Tentunya hal ini menjadi lebih menarik untuk dibahas.

Adalah seorang Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang memprakarsai didirikannya Organisasi Pencak Silat berlandaskan iman Katolik yang kini dikenal dengan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria. Beliau adalah pendekar yang berguru langsung pada garis Pencak Silat Mataram Kuno. pada waktu itu Pencak Silat digunakan sebagai pertahanan dalam melawan penjajahan serta pendudukan Belanda dan Jepang. Kemudian setelah Beliau belajar di Seminari, Beliau diminta untuk melatih Pencak Silat kepada para seminaris. Bukan tanpa alasan, pelatihan Pencak Silat bagi para seminaris ini dimaksudkan untuk sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air, rasa hormat pada negara (mengingat Pencak Silat telah berjuang bersama tekad dan semangat dalam meraih kemerdekaan) dan pengimanan akan wafat dan kebangkitan-Nya seperti yang dinyatakan secara jelas dalam semboyannya yaitu Pro Patria et Ecclesia yang berarti untuk Tanah Air dan Gereja. Didirikan pada 10 November 1985, berkat usaha 11 seminaris didikan Frater Hadiwijoyo.

THS-THM tersebar dan meluas bersamaan dengan keprihatinan Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang melihat bahwa pergerakan remaja gereja pada waktu itu sangat memprihatinkan. Maka pada waktu itulah Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. bersama para dewan pendiri memutuskan untuk terjun dalam pelayanan gereja dengan pencak silat sebagai ujung tombaknya. Hal ini membuktikan bahwa THS-THM merupakan nyala nyawa Katolik dalam kerasulan awam.

THS-THM sendiri dibentuk oleh rohaniwan Katolik dan kaum awam Katolik secara mandiri dengan tidak berafiliasi pada salah satu organisasi politik manapun, memiliki sifat kekeluargaaan, persaudaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dengan semangat Katolik. Memiliki motto Fortiter In Re, Suaviter In Modo yang berarti kokoh kuat dalam prinsip, luwes lembut cara mencapainya. Menjadikan THS-THM sebagai sarana kerasulan awam yang menjanjikan. Salah satu pembeda THS-THM dengan perguruan yang lain adalah penggunaan stagen sebagai sabuk pada pakaiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat akan sosok ibu yang telah bertaruh nyawa serta tenaga dalam mendidik dan membesarkan kita, melingkar di pinggang sebagai perlambang sosok ibu yang akan selalu melindungi kita bahkan dalam medan pertarungan sekalipun. Seragam biru juga merupakan warna khas Bunda Maria yang turut menyertai setiap langkah kita. Dalam hal latihan pun, THS-THM menyisipkan pendalaman iman disetiap kegiatannya seperti membaca kitab suci, mengadakan retret atau pelayanan khusus bagi gereja. Sumber kekuatan utama THS-THM selain dari segi fisik juga didapat dari keyakinan pada Allah Tritunggal Maha Kudus, menyisipkan doa dalam gerak penghormatan, mendaraskan doa dalam setiap helaan nafas di tiap gerakan Pencak Mataram Kuno, memberikan tenaga tersendiri bagi para anggotanya.

THS-THM kini berkembang di seluruh daerah Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, THS-THM berdiri di enam paroki, yaitu Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Paroki Santo Yakobus Klodran, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Paroki Administratif Tyas Dalem Macanan, Paroki Kristus Raja Baciro, dan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Ditambah Unit Latihan Khusus Sanata Dharma, Atma Jaya, dan ranting Nitiprayan. THS-THM terus berupaya dalam mendidik anggotanya menjadi kader-kader militan bagi gereja dan tanah air, sekaligus mengharapkan keterlibatan remaja untuk lebih mengenal budayanya, dan kembali merasakan hadirnya Pencak Silat ditengah-tengah maraknya arus modernisasi yang semakin memanjakan kita. Menjadi penjaga nyala nyawa Katolik dari jantung Mataram diseluruh Nusantara.

3,523 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

1,635 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Ayo Hias Sampul Teks Panduan Misa

Tim Kerja

Tim Panduan Misa mengajak seluruh rekan-rekan OMK, PIA dan Umat Paroki Gamping untuk turut serta bersama menghiasi sampul teks panduan misa.

Syarat:

  • Berupa karya 2 dimensi
  • Karya boleh berupa karya manual (gambar tangan/sketsa) atau digital (fotografi, desain grafis)
  • Karya Full Color atau Hitam-Putih
  • Tidak menyinggung SARA
  • Tidak mengandung unsur pornografi

Ketentuan:

  • Karya berukuran 150 x 200 mm (milimeter)
  • Karya manual berupa foto atau hasil scan
  • Karya digital dalam format .jpeg / .png / .pdf dengan resolusi tinggi

Karya dapat dikirimkan ke alamat surel panduan@gerejagamping.org,  sertakan judul karya, nama lengkapasal lingkungan dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Karya diterima paling lambat hari sabtu pukul 23:59 WIB untuk setiap minggunya.

Ayo!! Segera kirim karya-karyamu!!
Terima kasih. Berkah Dalem.

2,454 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini