Khotbah Rm. Joko Lelono: Tatkala Yesus Naik ke Surga

Bunda Maria

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28: 20)

Tatkala Yesus naik ke surga, Dia mewariskan satu hal besar kepada umat manusia yaitu iman. Yesus yang menghadirkan Allah di tengah manusia telah menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah akan meninggalkan kita. Ia yang hadir bagi orang miskin; Ia yang hadir bagi orang yang terpinggikan; Ia yang menyapa kesombongan manusia dengan kritikan yang tajam tetapi menyentuh hati; Ia yang menyembuhkan hati atau pun jasmani yang sakit; Ia yang rela mati bagi sahabat-sahabat yang dicintai-Nya. Yesus sudah menunjukkan bagaimana Allah mencintai manusia dengan luar biasa. Yesus sudah menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, tetapi Allah yang selalu menyertai perjalanan hidup manusia. Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur di tengah-tengah penderitaan umat manusia. Ia ingin membawa manusia untuk semakin dekat kepada-Nya, merasakan damai dan sejahtera bersama dengan Dia.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan perintah Agung untuk mewartakan Injil-Nya membaptis banyak orang dan menyatakan satu ha penting yaitu penyertaan-Nya yang akan selalu ada bagi kita. Rasanya ini adalah hal yang luar biasa, suatu fondasi kehidupan yang tidak bisa tidak menyadarkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan pribadi-pribadi yang siap untuk menjadi pewarta. Para rasul dan pengikutnya tidak tinggal diam setelah kebaikan dan juga pentakosta. Mereka mewarta sampai akhir masa hidup mereka. Iman ini beranak pinak. Jumlah pengikut Kristen tidak semakin berkurang seiring menuanya para rasul dan wafat mereka satu per satu. “Satu tumbang, seribu terbilang”, itu kata sebuah puisi. Ada wajah-wajah baru yang hadir di sebagai pengikut Kristus. Ada pribadi-pribadi baru yang mengisi perjalanan Gereja dan terus berjalan selangkah demi selangkah.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia tidak membiarkan para pengikutnya menjadi yatim piatu, tetapi mengutus Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup manusia. Ia yang terus menyertai perjalanan iman Kristiani sampai dengan hari ini, sampai dengan diri kita saat ini. Ia yang menginspirasi banyak orang menjadi misionaris, menjadi imam, bruder, suster dan banyak kaum awam untuk meninggalkan tempat asalnya dengan satu niat yaitu memperkenalkan Yesus ke tengah-tengah umat manusia. Di tempat kita masing-masing saat ini, kita bisa menikmati buah-buah dari karya-karya mereka. Paroki kita masing-masing menjadi ladang bertumbuhnya iman. Ditilik dari perjalanan waktu, kita ini hanyalah sejengkal bagian dari sejarah perjalanan iman itu. Sudah ada banyak orang yang mendahului kita menghidupi dan menghidupkan iman ini. Ke depan, mungkin masih akan ada orang-orang yang melanjutkan iman ini. Kita berperan untuk memelihara apa yang sudah ditanam. Semoga tanaman iman kita subur dan membawa kesegaran.
Kini, iman itu sudah tumbuh dan telah ada di dalam hidup kita. Saya menawarkan dua pertanyaan penting untuk kita masing-masing. Pertama, bagaaimana kita merawat iman dalam diri kita sendiri? Kedua, bagaiaman kita merawat iman dalam diri pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita?

Iman dalam Diriku

Satu ciri utama dari kehidupan adalah misteri. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, bahkan kadang orang tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tak jarang pula manusia tidak sadar tentang apa yang sudah terjadi di dalam hidup ini. Tingkat kemampuan manusia untuk menyadari situasi-situasi dan peran-peran di dalam hidupnya terbatas. Ada orang yang mengatakan, “Saya tidak tahu apakah saya masih bisa menghirup nafas besok pagi. Saya tidak tahu apakah saya bisa setia pada pasangan sampai akhir hayat. Saya tidak tahu apakah hidup saya akan terus berkecukupan dalam hidup. Saya tidak tahu apakah situasi dunia akan terus menerus aman. Namun, yang saya tahu, saya mempunyai iman dan dengan iman itu saya meyakini bahwa Allah akan terus menemani dan menyertai perjalanan hidup saya, entah saya berhasil, entah saya gagal; entah saya bahagia, entah saya sedih. Sebagai manusia, saya pun sadar bahwa iman saya terus menerus perlu dipupuk. Ada kalanya saya lemah, ada kalanya saya menjadi tidak percaya, tetapi ada keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya meskipun saya lemah.”
Namun, betapa banyak pribadi di dalam kehidupan ini yang mengalami kekacauan karena tidak memiliki pegangan dalam hidup. Hidupnya diombang-ambingkan oleh kenyataan bahwa dirinya terbatas. Kesuksesan membuatnya menjadi pribaid yang angkuh, kegagalan membuat dunia terasa runtuh. Tak peduli, betapa Tuhan pernah memberikan berkat berlimpah dalam hidupnya, dia bisa menyalahkan Tuhan untuk kesulitan yang sedang dialaminya. Padahal demikianlah memang perjalanan kehidupan. Orang mengatakan hidup seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan jalan rata terus menerus. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan kegembiraan terus menerus. Namun, iman kepada Tuhan menjanjikan penyertaan yang terus menerus. Seperti halnya air yang semakin dalam semakin tenang, demikianlah hidup manusia yang semakin dalam imannya menjadi semakin tenang. Sementara, “air beriak tanda tak dalam”. Artinya, orang yang imannya dangkal, hidupnya dengan mudah diombang-ambingkan oleh persoalan kehidupan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah iman yang diwariskan Tuhan itu tinggal dalam hidup kita? Apakah kedalaman batin yang damai itu sudah menjadi tujuan hidup kita? Ataukah kita hanya ingin mengejar kesuksesan, keberhasilan dalam hal ekonomi, menjadi yang terbaik dalam hal tampilan luar di tengah-tengah masyarakat. Konsep orang beriman dan konsep orang yang hanya mencari kesuksesan untuk diri sendiri adalah konsep yang saling bertentangan. Sementara dalam konsep masyarakat berprestasi, hidup dianggap tidak sempurna, karena itu manusia berlomba untuk menjadi nomer satu, di jalan meditasi, terutama di tingkat kesempurnaan, diyakini bahwa hidup adalah serangkaian kesempurnaan. Orang yang mengejar sukses berpikir bahwa kesuksesanlah yang membuat dia mengalami damai, sementara orang yang mengalami hidup sebagai jalan kedamaian, kedamaianlah yang membuatnya mengalami sukses. Ingat tingkat kesuksesan itu ada batasnya dan batas antara sukses dan gagal itu sangat tipis. Orang mengatakan itu seperti telur di ujung tanduk, yang amat mudah terguling dan pecah. Semoga dasar kedamaian kita bukanlah kesuksesan kita, tetapi semoga dasar kesuksesan kita adalah kedamaian yang ada di hati kita.

Sudahkah kita memelihara iman yang diwariskan Yesus kepada anda? Tuhan akan terus menyertai kita, hanya mungkin kita yang kurang membuka hati akan kehadirannya. Hari ini, cobalah mencari waktu tenang untuk melihat satu persatu bentuk-bentuk penyertaan Tuhan di dalam hidup anda.

Memelihara iman Pribadi-Pribadi yang Dipercayakan Tuhan
Tiap pribadi di dalam masyarakat kita memiliki peran masing-masing untuk memelihara iman orang-orang di sekitarnya. Maka dari itulah, bapak-ibu yang anaknya dibaptis selalu diminta kesediaannya untuk mendampingi iman anak yang akan dibaptis. Demikian juga seorang imam ketika ditahbiskan juga mendapat peran yang sama.

Sekarang pertanyaan bagi kita, “Apa arti perintah Tuhan untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi?” Rasanya kita tidak harus berpikir tentang orang-orang yang ada di jauh sana. Mari kita berpikir tentang orang-orang yang ada di sekitar kita; saudara-saudari yang dipercayakan Tuhan bagi kita. Bagi anda seorang Bapak, apa yang sudah anda lakukan untuk memelihara iman dalam hati anak anda sehingga hidupnya tidak mudah terombang-ambingkan oleh tantangan kehidupan, tetapi seperti air yang dalam dan tenang. Bagi anda seorang prodiakon lingkungan, apa yang sudah anda lakukan untuk memastikan pendidikan iman berjalan dengan baik di lingkungan-lingkungan. Bagi anda seorang misdinar, apa yang anda buat agar bisa melayani umat dengan baik dalam perayaan Ekaristi. Bagi anda seorang guru, bagaimana peran anda dalam mengajarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan kehidupan bagi anak-anak. Jangan biarkan anak-anak hanya besar di kepala, tetapi kecil di hati. Kalau demikian kita hanya akan menciptakan monster-monster yang tahunya hanya soal benar salah, tetapi tidak paham tentang bagaimana harus bertindak dengan bijaksana di tengah-tengah kehidupan.
Bagaimana dengan paroki kita? Rasanya kita perlu berpikir bagaimana menumbuhkan iman yang kuat di paroki kita. Tidak sedikit umat yang tidak datang ke Gereja. Tak kurang-kurang orang yang tidak pernah mengaku dosa. Hingga akhirnya cukup banyak juga yang meninggalkan Gereja dengan berbagai alasan dan alasan paling besar adalah soal pernikahan. Betapa kita harus berpikir tentang masalah ini. Sudahkah kita memelihara iman dari pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita? Gereja kita lahir dari keringat dan darah para pendahulu kita. Gereja kita menantikan masa depan cemerlang di depan sana. Kitalah yang ada di sini saat ini yang perlu berpikir dan mengusahakan agar Gereja masih memiliki masa depan.

Sebuah Tantangan

Gereja ada di tengah arus sejarah dunia. Arus perjalanan ini sudah menggerus iman di banyak tempat. Jumlah umat yang mengaku Katolik di Brazil terus berkurang sekitar satu persen setiap tahunnya sejak 1991; jumlah orang Amerika yang mengaku Katolik terus berkurang sekitar setengah persen setiap tahunnya sejak 1980an. Gereja-Gereja di Eropa hanya tinggal dihadiri oleh segelintir umat tua dengan sejumlah kecil romo yang juga sudah tua. Sementara arus perjalanan sejarah dunia yang semakin modern itu juga sudah sampai di tempat kita, di Indonesia. Kalau tidak hati-hati masa depan kita akan senada dengan apa yang terjadi di Eropa. Gereja yang dibangun megah ini hanya akan tinggal kosong melompong atau harus dijual untuk dijadikan taman kota.

Kita saat ini berada di persimpangan sejarah iman Katolik di tempat kita masing-masing. Semoga kita masih sempat memelihara iman itu di dalam hati kita, juga di dalam hati tiap-tiap orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Jangan sampai kita lengah dan kehilangan arah hingga tanpa sadar kita sudah membawa iman itu ke jurang kehancuran. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk terus menghidupi dan menghidupkan iman ini. Tuhan selalu menyertai kita, sekarang saatnya kita yang harus siap menyertai Tuhan untuk menjumpai hati kita masing-masing dan hati pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan bagi kita.


Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,386 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini